
HALO SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dinilai pesimistis dalam memasang prediksi pertumbuhan ekonomi, target indikator kinerja utama dalam revisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018-2023.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Pansus Revisi RPJMD DPRD Jateng, Hadi Santoso usai melakukan pembahasan, Kamis (27/5/2021).
“Masih terlalu pesimis, dan belum memaksimalkan potensi hadirnya Proyek Strategis Nasional di Jateng, ini artinya Jateng hanya jadi penonton tingginya investasi di Jateng,” terang Hadi.
Menurut Hadi, munculnya Peraturan Presiden (Perpres) No 79/2019 telah melahirkan Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Brebes, dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur. Kemudian disusul Perpres 109/2020 yang mendorong lahirnya Kawasan Industri Terpadu Batang.
“Dilihat dari target yang dipasang belum tercermin optimisme, ribuan kendaraan proyek di Jateng tidak mampu diolah untuk menaikan pajak daerah, juga belum terlihat terobosan mengambil potensi pendapatan dari lahirnya kawasan industri ini bagi pemerintah,” terang Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah ini.
Politikus PKS itu mengatakan, dalam revisi target untuk indikator kemiskinan sampai 2023, telah dikoreksi dari 7,8 persen naik menjadi 10,27 persen.
Pengangguran terbuka, lanjutnya, juga mengalami kenaikan sebesar 5,67 persen, sementara pertumbuhan ekonomi dipasang turun dari 6,0 persen menjadi 5,29 persen.
“Pemerintah masih beralibi soal Covid-19, seolah kita tidak bisa kendalikan sampai 2023, padahal KSPN Borobudur terus berjalan, KI Kendal, KIT Batang sudah lari kencang, masak target 7 persen dari pemerintah pusat tidak berani kita pasang minimal mendekati, di angka 6,2 persen,” imbuhnya.
Hadi menyebut, kondisi tersebut kontras dengan Provinsi Jawa Timur yang mampu mengoptimalkan potensi Perpres 80/2019 tentang percepatan ekonomi. Selain itu, lanjut Hadi, revisi RPJMD Jatim cenderung menunjukkan positif di atas RPJMD sebelum sejak tahun 2021.
“Pendapatan mereka di atas target 2020, semua indikator sudah di atas target pada 2021, bahkan mereka berani menargetkan kontribusi terhadap ekonomi nasional di atas 40 persen hanya selisih sedikit dari Jakarta. Fantastis , kita perlu banyak belajar ke Jatim,” tegasnya.
Hadi berharap dengan masih adanya waktu untuk melihat kembali semua indikator revisi RPJMD Jateng. Menurutnya, dapat dilakukan prediksi dan membawa semangat Gubernur Jawa Tengah bahwa Jawa Tengah dapat menjadi lebih baik.
“Pak Gubernur sudah mencontohkan optimisme dalam menata Jawa Tengah, harus bisa kita terjemahkan dalam dokumen perencanaan pembangunan,” pungkasnya.(HS)