in

Meriahkan Pasar Ndoro Bei, Tari Sinok dan Tari Grebeg Besar Ditampilkan

Foto : demakkab.go.id

 

HALO DEMAK – Kegiatan Pasar Ndoro Bei yang digelar Dinkominfo Kabupaten Demak, di Pendopo Notobratan, Minggu (24/9/23), kian meriah dengan penampilan Tari Sinok dan Tari Grebeg.

Kedua tarian ini merupakan tari kreasi terbaru yang ditampilkan oleh anak-anak dan pemuda dari Kabupaten Demak, yang memiliki kepedulian seni dan budaya khas Demak.

Menurut informasi yang dirilis demakkab.go.id, nama Tari Sinok, berasal dari kata “Sinok” atau “Nok”, yang dalam bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat pesisir utara Demak, berarti anak perempuan. Ada pula makna yang serupa, yaitu “nduk” atau “genduk”.

Di pesisir utara Demak, kata “Nok” atau “Sinok” lebih sering digunakan untuk menyapa atau menyebut anak pererempuan.

Namun begitu Tari Sinok tak sekadar mendeskripsikan kehidupan anak-anak perempuan suku Jawa.

Tarian ini juga menggambarkan akulturasi dari kebudayaan China dan Jawa, di wilayah pesisir Jawa.

Akulturasi budaya China dan Jawa ini memang cukup kuat terjadi di wilayah pesisir utara Jawa, termasuk di Kabupaten Demak.

Bahkan Raden Patah yang merupakan pendiri kesultanan Demak, juga merupakan seorang keturunan Cina.

Ika Febriani Laksaningtyas, penggerak sanggar Tari Padma Baswara, di sela-sela penampilan Demak Fashion Show, mengatakan tari ini menceritakan tentang sendau gurau dan pergaulan perempuan pesisir utara Kabupaten Demak, pada masa klasik atau sekitar abad ke 16.

“Tari sinok ini hasil cipta karya tari kreasi dari sanggar kami, Sanggar Padma Baswara. Komposisinya dibuat oleh saya sendiri,” kata dia.

Ika menjelaskan, tarian ini menggambarkan gejolak para kawula muda yang sedang bersemangat mencari jati diri.

Garapan tari sinok mengambil gerak tari yang agresif dan ceria menggunakan akulturasi dari beberapa khas Jawa Tengah.

Tari Grebeg

Sedangkan Tari Grebeg merupakan karya dari Penggerak Parallel Entertaint, yang muncul dari gagasan dan inisiatif tradisi Grebeg Besar Demak.

Menurut Utsman Shihab dari Parallel Entertaint, Tari Grebeg Besar ini idenya muncul dari tradisi Grebeg Besar.

“Tari Grebeg ini kami inisiasi dari adanya Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Grebeg Besar merupakan salah satu prosesi kebudayaan Kabupaten Demak yang diadakan setiap satu tahun sekali pada tanggal 10 Zulhijjah,” kata Utsman.

“Grebeg yang berarti suara angin yang menderu, atau juga dapat diartikan sebagai sebuah pengiring atau perkumpulan. Sedangkan Besar dimaknai sebagai nama bulan Zulhijah dalam masyarakat Jawa. Sehingga ‘Grebeg Besar dapat diartikan sebagai perkumpulan besar masyarakat muslim pada bulan Zulhijah,” kata dia.

Untuk mengenalkan kepada masyarakat kedua tarian khas Demak tersebut berpartisipasi untuk tampil di acara wisata tempo dulu Pasar Ndoro Bei dan Lomba Fashion Show busana kasual anak yang diselenggarakan oleh Dinkominfo Kabupaten Demak bertempat di Pendopo Notobratan, Minggu (24/9/23). (HS-08)

Wisata Jadul Pasar Ndoro Bei Demak Kembali Hadir

Hilangkan trauma korban laka Bawen, Polres Semarang laksanakan Trauma Healing