in

Menjaga Api Sejarah, Rumah PoHan Hadirkan Arsip Langka Pertempuran Lima Hari di Semarang

Pak Pohan dan Co-Kurator Mozes, Christian Budiono menerima kunjungan publik pada saat pameran di Rumah PoHan di Jalan Kepodang 64, Kota Lama Semarang, baru-baru ini.

DI tengah suasana Kota Lama Semarang yang tenang, Rumah PoHan di Jalan Kepodang 64 menjelma menjadi ruang yang membawa pengunjung kembali ke tahun 1945. Dalam rangka memperingati 80 tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang, rumah budaya ini mempersembahkan sebuah pameran arsip sejarah yang merekam denyut waktu ketika kota ini menjadi saksi salah satu babak paling heroik dalam sejarah Indonesia.

Pertempuran Lima Hari di Semarang bukan sekadar fragmen sejarah lokal. Ia adalah tonggak penting revolusi nasional — bentrokan pertama antara rakyat dan kekuatan militer asing setelah proklamasi kemerdekaan. Seperti pernah ditegaskan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, pertempuran yang berlangsung 14–19 Oktober 1945 itu menjadi momentum lahirnya keberanian kolektif bangsa muda Indonesia: ketika rakyat biasa dan tentara republik berdiri sejajar, memanggul senjata dan harapan yang sama.

Di dalam ruang pamer Rumah PoHan, pengunjung disambut oleh arsip surat kabar yang terbit di tengah dentuman pertempuran. Kertas-kertas tua berisi berita, seruan, dan kesaksian perjuangan itu merupakan koleksi pribadi Bapak Pohan dan Ibu Sylvie Probowati — salah satu koleksi arsip langka yang kini dipamerkan untuk publik.

“Arsip bukan sekadar benda mati. Ia adalah saksi yang membawa suara masa lalu agar tetap terdengar di masa kini,” ujar Kesit Widjanarko, kurator pameran.

Melalui potongan berita dan tajuk surat kabar 80 tahun silam, pengunjung diajak menyelami bagaimana masyarakat Semarang memaknai kemerdekaan yang baru seumur jagung, di tengah ancaman kembalinya kekuatan kolonial.

Pameran ini tidak berhenti pada nostalgia. Rumah PoHan merancangnya sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin — mempertemukan akademisi, sejarawan, seniman, jurnalis, dan komunitas budaya. Selama sembilan hari, dari 9 hingga 17 Oktober 2025, berbagai kegiatan publik turut digelar. Di antaranya Diskusi dan kuliah umum bersama Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes), Pemutaran film “Sanggem” karya mahasiswa Unnes, Lokakarya batik bersama Setitik Cultureware, Pertunjukan musik oleh Dewan Kesenian Semarang, dan Tur kuratorial bersama tim kurator Kesit Widjanarko dan Mozes Christian Budiono.

“Pameran ini adalah upaya untuk menjaga api kesadaran sejarah agar tetap menyala. Sebab bangsa yang melupakan sejarahnya bukan hanya kehilangan jalan pulang ke masa lalu, tetapi juga kehilangan arah berangkat ke masa depan,” tutur Mozes Christian Budiono.

Sejarah yang Hidup

Selama pameran berlangsung, Rumah PoHan mencatat antusiasme tinggi dari publik, khususnya pelajar dan mahasiswa. Beberapa sekolah dan perguruan tinggi mengadakan tur kuratorial bersama tim kurator, antara lain SMA Kolese Loyola, SMAN 5 Semarang, SMAN 14 Semarang, SMA Karangturi, Universitas Negeri Semarang, Universitas Semarang (USM), dan Universitas PGRI Semarang (Upgris).

Hingga hari penutupan, tercatat sebanyak 1.127 pengunjung telah datang — angka yang mencerminkan gairah baru terhadap sejarah di kalangan generasi muda.

Melalui pameran ini, Rumah PoHan mengajak masyarakat melihat arsip bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai pengetahuan publik yang hidup dan relevan. Di tengah arus digitalisasi yang cepat, upaya seperti ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan di buku teks, melainkan denyut yang membentuk identitas kolektif bangsa.

Dari lembaran-lembaran surat kabar yang menguning itu, kita diajak menyimak satu pesan yang tak lekang waktu: bahwa kemerdekaan selalu layak diperjuangkan — dan ingatan akan perjuangan itu harus terus dijaga.(HS)

Tinjau Rumah Terdampak Angin Kencang di Sambungmacan, Bupati Sragen Minta  Cuaca Ekstrem Diwaspadai

Relawan Destana Gunungan Wonogiri Dilatih Mitigasi dan Simulasi Pemadaman Kebakaran Mandiri