HALO SEMARANG – Event Semarang Agro Ekspo (SAE) oleh Dinas Pertanian Kota Semarang yang berlangsung pada 15-17 November 2024 di Balai Benih Pertanian, Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen dikemas lebih meriah.
Kegiatan pameran selama tiga hari tersebut diikuti sekitar 35 stand/komunitas sekaligus ajang untuk menampilkan berbagai produk pertanian terpadu. Sebab, di acara kali ini, tak hanya menampilkan komoditas tanaman pangan saja, tetapi juga produk aneka tanaman holtikultura, flora dan usaha peternakan.
Adapun pembukaan pameran dibuka langsung oleh Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama jajarannya. Di pembukaan itu, Mbak Ita, sapaan akrab Walikota Semarang juga sekaligus meninjau sejumlah stand pameran yang tersebar di beberapa titik area lokasi Balai Benih Pertanian. Turut didampingi perwakilan stake holder, diantaranya dari Bank Jateng, BPS Kota Semarang, dan Bank Indonesia.
Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, kegiatan pameran Semarang Agro Ekspo (SAE) bertujuan untuk mengeksplore tak hanya produk pangan umummya pertanian, namun secara keseluruhan pertanian terpadu, yakni ada tanaman keras, holtikultura, flora, sayur mayur. Serta hasil peternakan seperti kerbau, sapi, perikanan ayam dan lainnya.
“Kami buat meriah sehingga masyarakat lebih banyak yang akan hadir di sini. Yakni mulai dengan menggandeng berbagai komunitas mulai petani milenial, maupun yang tergabung di Komunitas Yess, dan juga diikuti peserta dari hinterland, bahkan nasional,” katanya, usai meninjau stand khusus petani milenial.
Menurut Mbak Ita, sapaan akrab Walikota Semarang, kegiatan semacam ini akan menjadi satu embrio upaya ketahanan pangan Kota Semarang menuju swasembada pangan. Diharapkan nantinya bisa membantu suplai untuk kebutuhan makan siang gratis bergizi.
Selanjutnya, ada juga rangkaian kontes kambing, lomba makan durian, dan pelatihan lainnya.
“Lalu komunitas reptil juga besok ditampilkan. Ini jadi gerakan untuk anak-anak kesini. Termasuk menggelorakan smart farming, mengajak petani Yess, dan petani milenial dengan BRIN, dan Brida,” imbuhnya.
Istimewa lagi, kata Mbak Ita, di pameran kali ini terdapat demplot percontohan untuk pembibitan, maupun pelatihan sampai praktik langsung di lokasi, sehingga anak-anak bisa mengetahui jenis tanaman dan manfaatnya.
“Komonitas yang ikut dalam pameran memang sebelumnya ada kriterianya, dari semua produk dan kualitas tentunya. Jadi bisa untuk contoh sebenarnya tak hanya memenuhi pasar dalam negeri, tapi ada potensi pasar luar negeri untuk ekspor, terutama dari petani milenial,”paparnya.
Sementara, Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shoti’ah menjelaskan, tahun ini dikemas berbeda, kali ini dengan berkolaborasi dengan komunitas atau petani bukan saja tanaman pangan dan holtikultura saja. Tapi tanaman lain ditampilkan seperti durian dan anggrek.
“Dan komoditas peternakan, perikanan sehingga terlihat bentuk bangaimana memunculkan kegiatan ini sekaligus untuk promosi. Harapannya kegiatan ini kedepannya terus diadakan dan dibuat kebih bagus lagi,” katanya.
Kegiatan diiikuti 35 komunitas/stand. Mulai dari petani milenial hingga pelaku usaha praktisi.
“Untuk acara lomba ternak kita melibatkan komunitas wilayah Kedungsepur. Harapannya bisa jadi daya tarik masyarakat untuk berkunjung kesini. Sekaligus dari kegiatan ini menbantu petani untukm meningkatkan omzet penjualan sehingga untuk kegiatan petani selanjutnya,” pungkasnya. (HS-06)