HALO BOYOLALI – Boyolali, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang dikenal dengan keindahan alam dan budaya yang kaya, kini tengah bersiap untuk menentukan arah kepemimpinan baru dalam Pilkada 2024. Di tengah keriuhan politik ini, Marsono muncul sebagai sosok yang menawarkan visi dan misi berbeda, mengusung seni dan budaya sebagai simbol perjuangan untuk mencapai kesejahteraan warga Boyolali. Didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Marsono bukan hanya sekadar calon bupati, tetapi juga representasi dari semangat gotong royong dan kebangkitan budaya lokal.
Momen Bersejarah di KPU Boyolali
Tanggal 29 Agustus 2024 menjadi hari yang penuh warna di Boyolali. Marsono dan pasangannya, Saifulhaq Mayyazi, melangkah pasti menuju Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boyolali untuk mendaftarkan diri sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati. Dengan diiringi oleh ribuan pendukung, arak-arakan ini bukan sekadar formalitas politik, tetapi sebuah perayaan budaya. Mereka memulai perjalanan dari Panti Marhaen, diiringi oleh alunan musik tradisional dan simbol-simbol budaya seperti Sedulur Papat Lima Pancer dan tokoh wayang punokawan—Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Suasana semakin semarak dengan kibaran bendera Merah Putih, PDIP, PKS, dan PPP yang melambai-lambai di udara.
Di tengah keramaian, Marsono berdiri tegak, memberikan pidato yang mengobarkan semangat pendukungnya. “Kami hadir dengan visi ‘Boyolali Sejahtera’, yang akan kita capai dengan mengedepankan seni dan budaya sebagai bagian dari identitas dan kekuatan kita. Kami percaya bahwa dengan kekayaan budaya, kita dapat membangun Boyolali yang lebih baik dan lebih sejahtera,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Suasana yang Penuh Semangat dan Harapan
Saat rombongan mencapai KPU, antusiasme dan harapan tampak jelas di wajah para pendukung. Kehadiran simbol tradisional seperti Sedulur Papat Lima Pancer tidak hanya menambah keunikan namun juga menegaskan komitmen Marsono terhadap pelestarian budaya. Sedulur Papat Lima Pancer, yang mencerminkan empat elemen pendamping dalam kehidupan manusia, diintegrasikan dalam kampanye ini sebagai simbol penghargaan terhadap tradisi Jawa. Ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang memikat perhatian masyarakat luas.
Mengenal Sosok Marsono
Marsono, yang lahir pada 8 Mei 1973 di Boyolali, adalah sosok yang telah lama berkecimpung dalam dunia politik lokal. Pendidikan hukumnya diperoleh dari Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta, yang membekalinya dengan pengetahuan dan keahlian untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah. Kariernya di politik dimulai sebagai anggota DPRD Boyolali, kemudian menjabat sebagai Ketua DPRD Boyolali periode 2019-2024, menggantikan S Paryanto yang meninggal dunia.
Pengalaman dan dedikasinya dalam memimpin DPRD Boyolali menjadi fondasi kuat bagi Marsono untuk maju sebagai calon Bupati. Keputusan untuk mundur dari jabatannya di DPRD periode 2024-2029 menunjukkan tekadnya yang bulat untuk fokus pada Pilkada dan membawa perubahan signifikan bagi Boyolali.
Komitmen dan Visi Marsono untuk Boyolali
Marsono, bersama Saifulhaq Mayyazi, mengusung visi “Boyolali Sejahtera”, yang menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia unggul dan ramah investasi. Ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Boyolali, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat daya saing daerah.
“Boyolali memiliki potensi besar di bidang seni dan budaya. Kami akan menjadikan ini sebagai daya tarik utama, tidak hanya untuk pariwisata tetapi juga untuk membangun identitas dan kebanggaan warga Boyolali,” tambah Marsono dalam wawancara setelah pendaftaran.
Dukungan penuh dari partai-partai besar seperti PDIP, PKS, dan PPP, serta berbagai elemen masyarakat, memberikan kekuatan tambahan bagi Marsono dalam Pilkada ini. Dengan mengusung seni dan budaya sebagai pilar utama, Marsono berharap dapat menciptakan Boyolali yang tidak hanya modern dan maju, tetapi juga berakar kuat pada tradisi dan nilai-nilai lokal.
Dukungan dan Harapan Masyarakat
Dukungan dari tokoh-tokoh penting seperti Susetya Kusuma Dwi Hartanta, Ketua DPC PDIP Boyolali, dan Abdul Kharis Almasyhari, anggota DPR RI dan ayah dari Saifulhaq Mayyazi, memberikan dorongan moral yang signifikan. Kehadiran tokoh-tokoh ini dalam acara pendaftaran menunjukkan betapa solidnya dukungan terhadap pasangan Marsono-Saifulhaq.
Masyarakat Boyolali, baik generasi tua maupun muda, menaruh harapan besar pada pasangan ini. Bagi generasi tua, penggunaan simbol Sedulur Papat Lima Pancer dalam kampanye adalah penghormatan terhadap tradisi yang telah lama dijunjung tinggi. Sementara bagi generasi muda, ini adalah kesempatan untuk melihat bagaimana nilai-nilai tradisional dapat diintegrasikan dalam konteks modern, menciptakan Boyolali yang seimbang antara kemajuan dan pelestarian budaya.
Dengan semangat dan dukungan yang mengalir deras, Marsono dan Saifulhaq siap berjuang demi Boyolali yang lebih baik, mengedepankan seni budaya sebagai simbol perjuangan dan identitas masyarakat yang berdaya dan sejahtera. [hs]