HALO KENDAL – Untuk menyemarakkan Hari Jadi ke-418 Kabupaten Kendal, Pemkab Kendal menggelar lomba tumpeng yang digelar di halaman Stadion Utama Kendal, Sabtu (22/7/2023).
Lomba diikuti delapan kelompok ibu-ibu, diantaranya dari Dharma Wanita, Aisiyah, PKK, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Muslimat NU, dan organisasi wanita lainnya.
Sementara tumpeng-tumpeng yang diperlombakan ini dinilai oleh dewan juri berdasarkan beberapa kriteria di antaranya adalah kelengkapan, penampilan, dan rasa.
Dalam lomba tersebut keluar sebagai juara satu adalah kelompok ibu-ibu dari Persit Kartika Chandra Kirana atau istri prajurit TNI, peringkat kedua diraih Tim Penggerak PKK dan posisi ketiga diraih ibu-ibu dari Bhayangkari atau istri anggota Polri, serta favorit diraih Dharma Wanita.
Ketua kelompok Persit Kartika Chandra Sri Juni Hariati Aziz, mengatakan, semua masakan diolah dan dimasak oleh ibu-ibu Persit dengan resep bumbu ala rumahan.
“Kalau untuk bumbu, kita pakai resep ala keluarga, cuma kita kreasikan dengan hiasan garnish sayur-sayuran dan buah-buahan, ditambah ada sambal petainya. Sehingga membuat tumpeng bikinan kami semakin sedap. Pokoknya semua ibu-ibu Persit jadi juru masak hari ini,” ujarnya penuh semangat.
Ketua Panitia Hari Jadi Kendal, Sugiono atau selaku Sekda Kendal mengatakan, dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kendal, berbagai kegiatan digelar selama satu bulan di berbagai wilayah di Kendal. Dimulai dari kegiatan religius, hiburan, pawai, hingga pasar malam.
Dijelaskan, alasan memilih lomba tumpeng karena tumpeng identik dengan hari ulang tahun atau hari jadi.
“Perlombaan nasi tumpeng digelar mempunyai makna sebagai simbol mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas usia Kabupaten Kendal yang sudah menginjak 418 tahun,” jelas Sugiono.
Sementara filosofi tumpeng dalam segitiga mengerucut yang maknanya menyatu menuju satu titik yaitu Tuhan yang Maha Esa.
“Tumpeng itu artinya dalam bahasa Hawa yen metu kudu sing mempeng atau bila keluar harus dengan sungguh-sungguh,” kata Sugiono.
Sehingga, lanjutnya, saat ada yang sedang hajatan menyajikan tumpeng dimaksudkan memohon pertolongan kepada Allah agar memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan.
“Selain itu memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh,” imbuh Sugiono. (HS-06)