HALO SEMARANG – Budaya kekerasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) kini sudah jauh berkurang. Penghapusan budaya kekerasan itu demi menjadikan IPDN sebagai pendidikan tinggi kepamongprajaan yang unggul, profesional, berintegritas, dan berdaya saing.
Keberhasilan menghilangkan budaya kekerasan itu jelas membanggakan Rektor IPDN, Dr Hadi Prabowo.
Sejak menjadi rektor IPDN pada Maret 2020, Hadi melakukan banyak perubahan.
Perubahan itu di antaranya menyatukan pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan (Jarlatsus).
Dulu, ketiga komponen tersebut dinilai secara terpisah, tapi sekarang penilaiannya dijadikan satu sehingga terintegrasi.
Selain itu, menerapkan Astha Brata yang menjadi pedoman sekolah kepamongprajaan sesuai dengan kondisi zaman.
Nilai-nilai Astha Brata di IPDN adalah berjiwa Pancasila, unggul, profesional dan berintegritas, lalu menguasai ilmu dan teknologi, serta berdaya saing, dan menjadi agen revolusi mental dan perubahan.
Nilai lainnya, yaitu mengayomi, melayani, dan melindungi masyarakat, serta menjadi perekat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Yang terakhir adalah berwawasan nasional dan global, adaptif, inovatif, produktif, serta kompetitif.
‘’Sebelum saya jadi rektor memang banyak terjadi kekerasan. Bahkan, waktu saya jadi rektor pun masih ada kekerasan. Mendagri Pak Tito Karnavian menghendaki untuk mengakhiri kekerasan. Untuk itu, saya pun berusaha mengakhiri kekerasan itu,’’ ungkap Hadi.
Dia menegaskan jika ada tindak kekerasan di kampusnya, langsung dipecat. Sejak 2020 tercatat 17 orang yang dipecat karena melakukan kekerasan di kampus IPDN.
‘’Pendidikan tinggi kepamongprajaan ini bukan hanya untuk mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang jujur dan kapabel, melainkan juga memberikan pelayanan prima kepada masyarakat,’’ ujar mantan Sekjen Depdagri dan Sekda Jateng itu.
Pihaknya menginginkan praja yang mampu berpikir secara visioner, holistik dan berinovasi.
Inovasi bukan lagi pengetahuan, tapi budaya sehingga bekerjanya tidak terjebak oleh rutinitas.
‘’Mereka bekerja untuk melakukan terobosan dan upaya-upaya percepatan dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan tugas harus cepat, tepat, dan tuntas,’’ papar pengagum tokoh wayang Werkudara atau Bima ini.
Di kampus IPDN, lanjut Hadi, mahasiswa yang berasal dari seluruh Indonesia ini tak akan dididik menjadi loyalis yang sempit sehingga menghasilkan lulusan seperti robot-robot.
Namun, lebih dari itu, lulusan IPDN harus bisa mengembangkan pola pikir, budaya kerja, dan kecepatan dalam menyikapi perubahan zaman.
“Menyelesaikan masalah kadang-kadang kita terjebak dengan copy paste. Copy paste itu hanya dijadikan referensi, tapi dalam penuangannya harus ada ide dan gagasan yang terbaru sesuai dengan kondisi zaman,’’ katanya.
Menurut Hadi, menyelesaikan masalah itu serupa tapi tak sama. Karena itu, alumni IPDN harus menguasai tentang pemerintahan, memahami regulasi, sanggup mengimplementasikan, berani menjawab permasalahan dan tantangan yang ada di masyarakat. (HS-06)