HALO TEMANGGUNG – Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Temanggung, Agus Sujarwo mengatakan kuota penerimaan siswa baru tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) telah memenuhi kouta.
“Kuota penerimaan siswa baru untuk SMP telah terpenuhi, sedangkan untuk SD terdapat sekolah yang kekurangan siswa,” kata dia, Rabu (28/6/2023), seperti dirilis temanggungkab.go.id.
Ia menyebutkan, pendaftar di beberapa SMP, bahkan melebihi kouta, di antaranya SMPN 1, 2, 3, 6 dan lainnya.
Namun saat mendaftar, siswa sudah mencantumkan pilihan satu dan dua, sehingga, apabila pilihan satu sudah terpenuhi, otomatis geser ke pilihan dua.
Adapun untuk kekurangan siswa, tahun ini, pihaknya mencatat di wilayah kota tidak ada.
Bahkan salah satu sekolah menengah yang dulunya selalu kurang, tahun ini juga terpenuhi 2 rombongan belajar (rombel).
“Rata-rata SMP yang di kecamatan kota membludak. Karena jumlah siswa lulusan SD nya juga banyak. Ada beberapa SMP yang kuotanya tidak terpenuhi, seperti SMP 2 Bejen, SMP 1 Tretep, dan SMP 2 Wonoboyo yang di Wates. Karena memang kondisi siswanya yang tidak ada dan zonasinya juga jauh,” ungkapnya.
Sementara untuk jenjang SD, beberapa sekolah belum terpenuhi. Menurutnya, hal ini adalah bukti keberhasilan program Keluarga Berencana (KB).
Sehingga jumlah siswa yang memasuki usia sekolah dasar pada tahun ini semakin sedikit.
Menurutnya, sepanjang rombel di sebuah sekolah masih terpenuhi, tidak ada regrouping.
Karena banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Tidak hanya faktor kekurangan siswa, namun perlu juga memperhatikan jarak dari satuan pendidikan.
“Selain itu, kami juga mempertimbangkan kesediaan gurunya di sekolah satu dan duanya seperti apa. Tidak semudah itu kita melakukan regrouping, karena kita juga harus mencarikan tempat untuk guru bagi sekolah yang kita regrouping. Kemudian, sosial budayanya seperti apa. Jangan-jangan kalau kita lakukan regrouping, anak-anak malah tidak masuk sekolah, kan malah susah,” ungkapnya.
Beberapa sekolah dasar yang masih minim siswa, di antaranya SD Greges 1 dan 2, di Kecamatan Tretep.
Jumlah anak yang mendaftar memang sedikit, termasuk dari TK juga semakin sedikit.
“Tetapi wacana ke sana (regrouping) tetap harus ada. Karena dengan kebijakan pemerintah yang tidak memenuhi jumlah kekosongan guru, kita harus memutar otak. Salah satunya kita harus memanfaatkan guru yang kena regrouping untuk pindah ke sekolah lain,” kata dia. (HS-08)