in

Kumpul Sahur Bersama Membangun Benih Toleransi

Bahrudin (kanan) dan Romo Bimo/dok.

HALO SEMARANG – Setelah memenangi Perang Badar yang sedemikian dahsyat beratnya karena jumlah pasukan musuh (kafir Quraysh) yang tiga kali lipat dan kebetulan juga di bulan Ramadan, Rasulullah bilang ke para sahabat, ‘’Kita sudah menyelesaikan jihad kecil dan akan menghadapi jihad yang jauh lebih besar”.

Para sahabat gemetar, sambil bertanya-tanya, jihad seperti apa lagi ini?

Ternyata yang dimaksud Rasulullah adalah jihadun-nafs (mengendalikan hawa nafsu).

Inti dari puasa adalah mengendalikan hawa nafsu, dan bukan sebaliknya.

Itulah inti dari acara Kumpul Sahur Bersama Membangun Benih Toleransi (Kurma Manis) yang digelar

Gereja Katolik Santo Paulus Miki Kota Salatiga dan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT).

Kegiatan itu diikuti umat Gereja Katolik Santo Paulus Miki Kota Salatiga, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia.

Tampil sebagai pembicara Bahruddin, inisiator KBQT dan ketua dewan pengarah Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), dan Romo Petrus Bimo Handoko MSF dari Paroki Gereja St Paulus Miki dengan Joddy sebagai moderator.

‘’Ini termasuk kegiatan yang unik karena biasanya acaranya buka bersama (bukber), tapi kami menggelar sahur bareng (sabar),’’ ujar Bahruddin, Sabtu (23/4/2022).

Dia juga berharap pengendalian hawa nafsu semestinya bukan hanya selama 30 hari (Ramadhan) atau 40 hari menjelang Paskah.

Romo Bimo Handoko pun sepakat dengan apa yang dikemukakan Bahruddin.

Pihaknya mengapresiasi acara sahur bareng ini.
Pada kesempatan itu, Bahruddin mengaku banyak belajar dari saudara-saudara umat katolik di Paroki St Paulus Miki.

Romo Bimo menjelaskan dari hasil aksi puasa pembangunan di Paroki St Paulus Miki terkumpul ratusan juta rupiah dari pengurangan konsumsi ketika melakukan puasa dan pantang yang selanjutnya digunakan untuk aksi kemanusiaan bagi umat yang kurang beruntung.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertu Rubiyatmoko menyambut baik acara Kurma Manis.

Menurut Mgr Rubi, ini merupakan ide yang bagus untuk meningkatkan solidaritas dan saling belajar antara umat Kaltolik dan Islam demi kebaikan bersama.

Sementara Prof Ade Cahyana, anggota task force perbaikan mutu pendidikan, menilai kegiatan Kurma Manis sangat positif.

‘’Salah satu hikmah kebhinnekaan adalah learning exchange dari saudara kita yang berbeda iman. Mereka menjadikan puasa sebagai perilaku pengendalian hawa nafsu yang accountable dalam menghitung pengurangan kebutuhan diri sendiri (karena puasa) untuk diberikan kepada saudaranya yang kurang mampu,’’ tutur Prof Ade.(HS)

Hadapi Lonjakan Pemudik, Rest Area di Kendal Tambah Fasilitas Umum dan Batasi Waktu Istirahat

Senangnya Anak Yatim-Piatu di Kendal, Bukber Sambil Dapat Doorprize