in

Kisah Goa Sentono Blora, dari Ki Blacak Ngilo hingga Sunan Bonang

Goa Sentono di kawasan lembah Bengawan Solo, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. (Foto : blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Terdapat beragam objek wisata di Kabupaten Blora yang layak untuk dikunjungi, salah satunya adalah Goa Sentono.

Goa yang berada di kawasan lembah Bengawan Solo, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora ini, konon juga terkait dengan keberadaan kerajaan Majapahit.

Menurut informasi yang pernah dirilis visitjawatengah.jatengprov.go.id, di kawasan itu pernah berdiri sebuah padepokan kecil yang bernama “Sentono”, di bawah pimpinan Ki Blacak Ngilo.

Adapun Blacak Ngilo adalah bekas prajurit Majapahit, yang melarikan diri saat terjadi perang saudara memperebutkan kekuasaan atau perang Paregreg.

Sementara itu menurut informasi dari Pemkab Blora yang dirilis blorakab.go.id, awalnya padepokan ini begitu terkenal sehingga menarik perhatian banyak orang untuk datang ke Sentono guna menyantrik dan belajar dari Blacak Ngilo.

Dengan kebijaksanaan dan kearifannya, Blacak Ngilo mengajarkan berbagai ilmu kepada para pengikutnya, termasuk cara bercocok tanam, budi pekerti, spiritual dan olah kanuragan kepada masyarakat lokal.

Sejak itulah kehidupan sosial ekonomi di wilayah itu berkembang. Sentono, yang berlokasi di tepi aliran Sungai Bengawan Solo, kemudian menjadi daerah yang strategis untuk pertanian.

Tak heran jika Sentono dan sekitarnya mengalami kemajuan yang luar biasa. Bahkan, Blacak Ngilo dihormati oleh pengikutnya seolah-olah ia adalah seorang raja.

Namun, setelah waktu berlalu, sikap Ki Blacak Ngilo mengalami perubahan dan sering bertindak sewenang-wenang.

Warga desa dipaksa untuk menyumbangkan lebih dari separuh hasil panen mereka kepada dia.

Selain itu, Ki Blacak Ngilo juga memerintahkan agar setiap keluarga yang memiliki anak perempuan harus menyerahkannya sebagai selirnya.

Ketegangan merayap di kalangan masyarakat, terutama setiap malam bulan purnama, mereka diwajibkan menyediakan darah manusia sebagai tumbal untuk memperkuat kesaktiannya.

Tindakan yang tidak wajar itu terdengar oleh Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang.

Oleh karenanya, Sunan Bonang mengirim salah satu utusannya untuk menemui Blacak Ngilo, dengan pesan agar Blacak Ngilo menghentikan perilaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya, meninggalkan penyembahan berhala, dan mengikuti ajaran Islam dengan tulus dan benar.

Blacak Ngilo menyetujuinya, tetapi dengan beberapa syarat, salah satunya melalui pertarungan.

Jika Sunan Bonang kalah, maka dia bersedia menjadi pengikut Blacak Ngilo. Sebaliknya jika Blacak Ngilo kalah, maka dia harus meninggalkan semua perilaku buruknya dan memeluk Islam. Kedua belah pihak menyetujui persyaratan tersebut.

Pertarungan sengit pun dimulai. Kedua tokoh ini, sama-sama memiliki kekuatan yang luar biasa, dan pada hari pertama, hari kedua, bahkan hingga hari keenam, belum terlihat siapa yang kalah atau menang.

Namun, pada hari ketujuh, Blacak Ngilo mulai merasa kelelahan. Meskipun begitu, karena kesombongannya, dia enggan mengakui kehebatan Sunan Bonang.

Di saat seperti itu, Blacak Ngilo menggunakan akal liciknya untuk melarikan diri dari medan pertarungan. Dengan sisa-sisa kesaktiannya, Blacak Ngilo memasuki perut bumi untuk menghindar.

Sunan Bonang tidak mau kalah. Ia mengejar Blacak Ngilo hingga ke dalam perut bumi, dan akhirnya terjadi kejar-kejaran di dalam tanah.

Setiap kali Ki Sentono alias Blacak Ngilo muncul di permukaan tanah, Sunan Bonang selalu berada di belakangnya. Bahkan, saat Blacak Ngilo melarikan diri ke daerah Tuban (Jawa Timur), Sunan Bonang juga muncul di sana.

Setelah merasa kelelahan, Blacak Ngilo meminta Sunan Bonang untuk memberikan waktu istirahat. Permintaan tersebut dikabulkan oleh Sunan Bonang.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, Blacak Ngilo mencari tempat untuk beristirahat, yang dalam bahasa Jawa disebut semende atau senderan.
Tempat istirahat Blacak Ngilo inilah yang kemudian memberi nama pada Desa Menden, berasal dari kata semenden/senden.

Akhirnya, Blacak Ngilo mengakui kekalahannya dan bersedia memeluk agama Islam serta menjadi pengikut Sunan Bonang untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Menden.

Lubang-lubang dalam tanah bekas kejar-kejaran antara Sunan Bonang dan Blacak Ngilo meninggalkan bekas berupa gua.

Gua ini kemudian diberi nama Gua Sentono. Kini tempat wisata itu ramai dikunjungi, terlebih pada akhir pekan atau saat ada event.

“Ketika ada yang membuat event, itu luar biasa, pengunjung bisa membludak mencapai ribuan,” kata Sutikno, Kamituwo Dusun Sentono. (HS-08)

Lewat Gowes Jasirah, Sekda Jateng Dorong Wisata Sejarah

Ketua Umum DPP Ikadin Kukuhkan DPC Blora, Pati dan Jepara