in

Kemenperin Minta SAIC Motor China Jadikan RI Basis Produksi Kendaraan Listrik

Pertemuan Kehormatan dan Investasi Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dengan SAIC International, di Shanghai, China, baru-baru ini. (Foto : kemenperin.go.id)

 

HALO SEMARANG – Pemerintah meminta Shanghai Automotive Industry Corporation (SAIC) Motor Corp, sebuah perusahaan otomotif asal China, untuk menjadikan Tanah Air sebagai basis produksi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Permintaan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kemenperin Eko Cahyanto mewakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, pada pertemuan dengan jajaran pimpinan SAIC Motor Corp Ltd, yang dipimpin oleh Zang Qing selaku Vice President, di Shanghai, China, baru-baru ini.

Pada pertemuan yang juga dihadiri CEO PT SGMW Motor Indonesia, Tang Wensheng tersebut, dibahas penguatan kemitraan industri otomotif antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam pengembangan kendaraan ramah lingkungan dan perluasan ekspor di kawasan ASEAN.

“Pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasi kepada SAIC Group atas kontribusinya dalam mendukung pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dengan memperbanyak lini produk kendaraan ramah lingkungan yang sesuai dengan karakteristik konsumen Indonesia,” ujar Eko, seperti dirilis kemenperin.go.id.

SAIC Motor Corp Ltd merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China, yang berkantor pusat di Shanghai, dan termasuk dalam jajaran produsen mobil terbesar di Tiongkok.

Adapun produknya, meliputi berbagai merek, seperti Wuling, MG, Baojun, dan Maxus.

Perusahaan ini berkiprah di bidang riset, pengembangan, produksi, dan penjualan kendaraan serta komponennya.

SAIC Motor Group memiliki empat basis produksi di dunia, yaitu Pakistan, India, Thailand, dan Indonesia.

Produk SAIC Motor di Eropa memiliki penjualan mencapai 3 juta unit per tahun. Sementara itu, dengan berdirinya PT SGMW Motor Indonesia diharapkan Indonesia dapat menjadi basis produksi untuk negara-negara setir kanan lainnya.

PT SGMW & MG telah meluncurkan total 19 model produk, dengan 13 model diproduksi secara lokal.

Eko menjelaskan, PT SGMW Motor Indonesia telah membangun fasilitas manufaktur kendaraan dan kawasan industri untuk pemasok (supplier park) di Cikarang, sejak 2015.

Tak hanya itu, perusahaan juga mengembangkan fasilitas produksi baterai lokal, MAGIC Battery Wuling, yang menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik nasional.

“Kami mengapresiasi PT SGMW Motor Indonesia yang telah memproduksi kendaraan komersial listrik dengan tingkat TKDN lebih dari 40%. Ini menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk mempercepat transisi menuju industri otomotif rendah emisi,” lanjut Eko.

Dalam memproduksi kendaraan bermotor di Indonesia, PT SGMW fokus dalam mengembangkan rantai pasok di dalam negeri, dengan lebih dari 77 supplier lokal baik tier 1, tier 2, maupun tier 3. Ke depannya, BEV akan fokus untuk mencapai TKDN 60-80%.

Dalam mencapai TKDN lebih dari 60% tersebut, PT SGMW melakukan produksi baterai BEV, dimana PT SGMW bekerjasama dengan PT Gotion dan CATL melalui PT Unified Advanced Battery System Indonesia (UABS).

Ditargetkan pada 2025, kontribusi ekspor PT SGMW akan melebihi 11% dari total produksi, dengan menjangkau 15 negara dengan total ekspor mendekati 10.000 unit.

Perusahaan juga fokus pada pengembangan mobil ICE, HEV, dan BEV, serta ke depannya akan mulai memproduksi PHEV.

Selanjutnya, PT SGMW berencana untuk meluncurkan beberapa produk baru, di antaranya adalah SUV-C yang memiliki keunggulan penghematan bahan bakar serta kemampuan kecepatan akselerasi awal yang lebih cepat.

Pasar ASEAN

Selain untuk pasar domestik, SAIC juga menargetkan perluasan pasar ekspor ke kawasan ASEAN.

Hingga tahun 2025, perusahaan ini telah membangun lebih dari 170 gerai penjualan dan servis di Indonesia, termasuk untuk merek Wuling, MG, dan Maxus, serta tengah mengembangkan showroom merek ganda di Jakarta sebagai bagian dari strategi regionalnya.

Dalam pertemuan tersebut, dukungan yang diharapkan SAIC Motor dari Pemerintah Indonesia, antara lain keberlanjutan insentif PPNDTP untuk kendaraan BEV, yaitu kendaraan BEV penumpang kurang dari 10 orang, serta kendaraan BEV bus.

Berikutnya, penambahan lingkup pemberian insentif PPNDTP untuk kendaraan komersial BEV, karena PT SGMW telah memproduksi produk kendaraan komersial yaitu MitraEV.

Selain itu, Dukungan terhadap produk Wuling dan MG lainnya dengan teknologi HEV, PHEV, dan Range-Extended Electric Vehicle (REEV) untuk masuk ke dalam kategori kendaraan LCEV.

Menanggapi usulan tersebut, Eko mengemukakan, Kemenperin mengapresiasi investasi yang telah dilakukan, serta komitmen dan pencapaian PT SGMW dalam produksi kendaraan bermotor di Indonesia khususnya BEV.

“Untuk usulan keberlanjutan insentif PPNDTP maupun penambahan lingkup insentif PPNDTP untuk kendaraan komersial saat ini sedang dalam pembahasan internal pemerintah,” ujarnya.

Kemenperin juga mendorong PT SGMW untuk memperbanyak variasi line up produk di Indonesia yang disesuaikan dengan selera konsumen Indonesia, serta penambahan investasi baru PT SGMW dalam rangka meningkatkan nilai TKDN.

Bahkan, Pemerintah Indonesia terus mendorong SAIC untuk menjajaki peningkatan kapasitas ekspor kendaraan listrik (EV) yang diproduksi di Indonesia, guna memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi dan ekspor EV di ASEAN.

“Kami berharap SAIC dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai rencana investasi berikutnya di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan platform elektrifikasi dan teknologi baru,” ujar Eko.

Menurutnya, kolaborasi strategis antara pemerintah dan pelaku industri otomotif global seperti SAIC Motor sangat penting untuk mempercepat transformasi industri otomotif nasional menuju era kendaraan listrik.

“Indonesia memiliki komitmen kuat untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok EV global, dan kami melihat SAIC sebagai mitra penting dalam mewujudkan visi tersebut,” tegasnya.

Eko menambahkan, Kemenperin terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif dan insentif bagi pengembangan kendaraan listrik, baik untuk produksi kendaraan maupun komponennya seperti baterai dan sistem penggerak listrik.

“Dengan sinergi yang baik antara pemerintah dan pelaku industri, kami optimistis Indonesia dapat menjadi hub kendaraan listrik di kawasan,” kata dia. (HS-08)

Kunjungan Wisman Januari – Agustus 2025 Capai Rekor Tertinggi sejak Pandemi Covid-19

ISI Bali Serahkan Karya Seni, Kemdiktisaintek : Sains dan Teknologi Tanpa Seni akan Kering