HALO SEMARANG – Kehadiran Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), pada masa kolonial, mampu menjadi pemersatu Islam dan Tionghoa, yang saat itu seolah-olah jauh satu sama lain.
Hal itu disampaikan Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), M. Fuad Nasar, saat memberikan sambutan pada Muktamar ke-VI PITI di Jakarta Pusat, baru-baru ini.
“Di masa kolonial, Islam dan Tionghoa seolah jauh satu sama lain. Namun kehadiran PITI dengan gerakan pembauran membuat Islam dan Tionghoa kian membaur. Karena Islam agama universal untuk kawan-kawan keturunan Tionghoa,” kata Fuad, seperti dirilis kemenag.go.id, Kamis (26/5/2022).
Muktamar ini mengangkat tema Dengan Semangat Islam Rahmatan Lil-Alamin PITI Mengawal Pluralisme untuk NKRI.
Fuad mengutip pemikiran seorang pemimpin dan tokoh terkemuka PITI, Junus Jahja, bahwa Islam tidak membeda-bedakan manusia karena etnisitas dan warna kulit.
Sehingga keturunan Tionghoa yang masuk Islam dan ingin langsung terjun di kalangan umat, tidak perlu untuk menonjolkan etnisitasnya.
“Meski satu dan lain hal, ajaran Islam membenarkan seseorang mengakui identitas asal usul dan etnisitasnya berdasarkan paham nasab. Namun, Islam juga mewajibkan seorang muslim harus mencintai agama dan tanah airnya,” ujarnya.
Fuad berharap PITI dapat menjadi pembina dan pembimbing saudara keturunan Tionghoa yang ingin mengenal Islam.
“Kita juga membutuhkan organisasi yang secara khusus membina para mualaf Tionghoa. Tentu cukup banyak di antara mereka yang memerlukan bimbingan setelah memilih menjadi mualaf,” pungkasnya. (HS-08)