SEJAK menerapkan penggunaan Radio Frequency Identification (RFID) Pertamina di beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah kota Semarang yang berjalan sekitar satu tahun terakhir ini, ternyata banyak memberikan kemudahan transaksi saat pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama pada kendaraan operasional maupun kendaraan dinas milik Pemkot. Dimana penggunaan sistem teknologi digital dengan gelombang elektromagnetik untuk mengidentifikasi kendaraan, berupa plat nomor sebuah kendaraan dinas maupun operasional, memberikan dampak yang cukup signifikan yaitu menjadi lebih efektif dan efisiensi terhadap penggunaan bahan bakar.
Sehingga dengan adanya terobosan “kartu sakti” tersebut banyak keuntungan yang kini diperoleh pelanggan korporasi maupun masyarakat umum, saat melakukan transaksi atau pengisian bahan bakar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO Pertamina. Nantinya saat melakukan pengsisian bahan bakar di SPBU tidak perlu harus membawa uang tunai, proses transaksinya menjadi lebih mudah, dan praktis.
Implementasi kerjasama penggunaan Fleet Card RFID, antara Pertamina dan Pemkot Semarang ini, diawali di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang dengan menyasar untuk seluruh kendaraan operasional dan mobil dinas. Kemudian disusul oleh sebagian kendaraan operasional dan dinas di dinas lainnya, seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Dinas Perhubungan (Dishub) hingga tingkat paling kecil seperti kelurahan dan kecamatan.
Kepala Disperkim Kota Semarang, Yudi Wibowo mengakui, dengan penggunaan RFID selain memberikan berupa kemudahan transaksi saat pengisian BBM untuk kendaraan dinas dan operasionalnya, juga bisa menekan atau melakukan efisiensi penggunaan bahan bakar.
Yudi menyebut jika dinas yang dia “pegang” telah menerapkan pemakaian RFID sejak akhir tahun 2023 lalu hingga sekarang dalam kurun waktu satu tahun. Pihaknya bisa melakukan efisiensi terhadap kendaraan operasional dan dinas untuk anggaran bahan bakarnya sekitar 20 persen.
“Lumayan bisa efisiensi anggaran, sekitar 20 persen dibandingkan sebelumnya yang masih konvensional,” ujar Yudi, saat ditemui, Sabtu (26/10/2024).
“RFID sudah kita terapkan akhir tahun lalu (Desember 2023-red), tujuannya adalah untuk efisiensi bahan bakar kendaraan dinas ataupun kendaraan operasional kami,” katanya.
Sebelumnya, lanjut Yudi, saat melakukan pengisian bahan bakar kendaraan dinas ataupun operasional masih menggunakan sistem kupon, sehingga rawan disalahgunakan. Sementara dengan sistem RFID ini, hanya bisa digunakan oleh satu mobil serta tidak bisa diuangkan. Sistem pengisian BBM-nya pun khusus dilakukan di SPBU COCO milik Pertamina.
“Dulu kan pakai kupon. Kalau kupon ini bisa dicairkan sama mobil lain. Kalau RFID enggak bisa, karena sistemnya nomor kendaraan dan kilometernya sudah tercatat semua di web pertamina,” jelasnya.
Setiap kendaraan dinas ataupun operasional, kata Yudi, dijatah bahan bakar sesuai dengan kebutuhan yang sebelumnya dilakukan kajian. Dia mencontohkan satu kendaraan dinas, misalkan dijatah Rp 3 juta per bulan untuk bahan bakarnya.
“Dan untuk setiap kali ngisi mobil bervariasi, tergantung jabatan dan golongannya, dari 7 liter perharinya, kemudian untuk jenjang esselon 4 ngisi BBM-nya, yakni 5 liter perhari,” katanya.
“Kalau kurang ya nanti nambah sendiri, kalau lebih ya kembali ke kas daerah,” ungkapnya.
Dikatakan Yudi, saat ini seluruh kendaraan operasional mulai dari kepala dinas, staf dan armada truk tangki untuk penyiraman telah menggunakan Fleet Card RFID untuk pengisian BBM. Sehingga pengisian bahan bakar di setiap kendaraan operasional terdigitalisasi dan lebih mudah direkap.
“Misalnya untuk armada truk tangki akan diisi 15 liter per hari, roda tiga diisi 3 liter perhari, mesin potong 2 liter perhari. Kemarin kan dikasih uang tunai lalu nukar dengan nota untuk laporan SPJ (Surat Pertanggungjawaban-red), sekarang tidak. Jadi kebutuhan pengisian BBM-nya kalau dalam jangka waktu satu bulan pemakaiannya tidak habis, silpanya masuk bulan berikutnya, dan pertahunnya terlihat silpanya masih berapa,” papar Yudi.
Pengisian BBM secara digital ini akan berlaku untuk semua kendaraan baik staf yang menggunakan motor dinas maupun pompa truk tangki. Sehingga semuanya kebutuhan BBM terdata dan transparan.
Yudi menyebutkan, besaran anggaran pengeluaran BBM di Disperkim mencapai Rp 5.396.542.800 dalam satu tahun. Anggaran ini diperuntukkan bagi BBM terdiri dari 25 unit mobil, 58 truk berat, 34 kendaraan roda 3, dan 92 unit BBM untuk sepeda motor. Selain itu, juga sebagai Bahan Bakar operasional mesin potong dan mesin Pompa Disperkim.
“Dengan RFID ini, kuota habisnya berapa akan kelihatan. Sehingga jika ada Silpa pasti akan kelihatan juga,” kata Yudi.
Yudi memaparkan, jika sebelum memakai kartu RFID, untuk setiap pembelian BBM, staf diberikan uang operasional dan menukarnya dengan nota.
“Sekarang sudah pakai ini (kartu RFID-red), maka otomatis akan terpantau lewat website pengeluaran BBM-nya berapa. Jadi saat ada pemeriksaan kita tinggal buka laporannya sudah tercatat di website,” ujar Yudi.
Sementara, untuk DPU Kota Semarang pun menyebutkan, ada sekitar 40 kendaraan operasional dan dinasnya yang telah menerapkan RFID. Rencananya akan diikuti untuk pengisian BBM pada alat mesin potong rumput dan pohon.
“Akan menyusul penerapan RFID di awal tahun depan (tahun 2025-red) untuk perlengkapan, khususnya seperti mesin potong rumput, dan potong pohon. Sekarang jadi lebih mudah, dan supaya tidak pakai nota, sekarang dari Pertamina saat mengisi sudah ada print outnya. Sesuai dengan plat nomor kendaraan kalau tidak sesuai ya otomatis nggak bisa ngisi,” kata Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto.
Menurutnya, sistem ini sangat membantu dari sisi transparansi untuk menghindari penyalahgunaan anggaran BBM.
“Untuk menghindari dari hal-hal tidak diinginkan lebih terprotek lah, Kalau pakai kupon kan bisa dipakai mobil lain meski tidak sesuai dengan plat nomor kendaraannya saat membeli bahan bakar,” ujarnya.
Kebutuhan anggaran BBM di dinasnya, dia mengaku, sudah terploting di masing-masing bagian atau bidang, dibagi-bagi untuk alat potong, mesin pompa, maupun alat berat. Kedepan, alat berat dan alat potong segera menyusul memakai RFID.
“Iya, segera dalam waktu dekat sudah menyesuaikan semuanya,” harapnya.
Dia menambahkan, penyesuaian transaksi BBM dengan RFID ini sekaligus untuk mewujudkan program good government. Yang mana semuanya mengacu kepada pemakaian teknologi guna tepat dan terukur dalam setiap transaksi pembelian bahan bakar.
“Sudah harus dilakukan mulai sekarang di era digital membuat kemudahan yang signifikan. Dan mendorong dalam upaya mengantispasi penyelewengan dan sebagianya,” katanya.
“Jadi gak perlu ribet lagi, kalau mau ngisi BBM kendaraan dinas tidak lagi sulit, sekarang sudah pakai kartu RFID tinggal tap di mesin khusus di SPBU oleh petugas, kendaraan sudah diisi BBM. Kalau sebelum pakai “kartu sakti” ini kadang harus repot karena menukarkan nota dan harus membawa uang tunai,” kata Mustolih (35), salah satu staf Setda Kota Semarang, saat ditemui, Rabu (16/10/2024.
Menurut dia, dengan adanya pengisian secara cashless ini sangat membantu dalam pengisian bahan bakar untuk kendaraan dinas yang dipakai untuk operasionalnya.
“Lebih enak sekarang memakai RFID, soalnya bisa ngisi sewaktu – waktu dan gak perlu harus minta uang ke Bagian Keuangan di kantor lagi kalau mau buat beli BBM. Sekarang kalau sudah bawa kartu RFID ini tinggal ngetap, dan langsug diisi dengan jumlah yang sudah disesuaikan dengan plat nomor kendaraannya masing-masing, sesuai jabatannya,” ujar Mustolih.
Teknisnya, kata dia, dari kantor BBM kendaraan memiliki jatah/kuota bahan bakar tiap bulannya.
“Setelah penggunaan satu bulan, lalu direkap nanti saldonya tersisa berapa, dan untuk kebutuhan BBM di bulan berikutnya, saldo tersebut akan terisi lagi secara otomatis. Dan memang saat mengisi memakai kartu ini harus sesuai dengan plat nomor kendaraan. Dulu kan masih membayar dengan uang tunai kalau mau ngisi, kebetulan pas Bagian Keuangan lagi sibuk untuk ditemui jadi harus nalangin (membayar) sendiri dulu, nantinya baru klaim nota pembelian BBM-nya jumlahnya dan habisnya berapa terus diganti dari kantor,” paparnya.
Menurutnya, pembelian BBM secara cashless sendiri manfaatnya banyak seperti memudahkan dalam hal laporan pengunaan anggaran di tiap kantor masing-masing.
“Jadi mudah saat memuat laporan keuangannya saat ada pemeriksaan sewaktu-waktu bisa ditunjukan,” imbuhnya.
Kadang, kata dia, masih ada sedikit kendala mengenai penerapan RFID, yakni titik atau keberadaan lokasi yang digunakan untuk pengisian bahan bakar memang tidak bisa dilakukan di semua SPBU.
“Tapi untuk lokasi SPBU yang ditunjuk sekarang sudah ada di beberapa tempat lainnya yang tidak hanya SPBU yang ada di tengah kota saja. Saya rasa perlu lokasi pengisian yang merata tersebar di wilayah Kota Semarang. Sehingga bisa melayani optimal dan memberikan kenyaman pelanggan,” pintanya.
Senada, Edi (41), sebagai staff Humas Pemkot Semarang juga menilai dengan pemakaian RFID ini adalah solusi dari permasalahan yang selama ini belum terdigitalisasi. Sekarang serba digital dan chashless untuk mengisi BBM, yang dulu belum diterapkan.
‘‘Ini memberikan manfaat yang bagus, tidak harus membawa uang tunai yang memerlukan nota ketika mengisi untuk nantinya disertakan dalam laporan ataupun bukti pembelian. Sekarang adanya kartu Pertamina secara cashless membantu terutama bagi kendaraan dengan mobilitas tinggi seperti Bagian Humas,” katanya.
“Adanya RFID kita tidak perlu repot-repot meminta uang tunai ke Bagian Keuangan dulu saat mau membeli bahan bakar. Kalau mau ngisi tinggal ngisi aja. Apalagi saat ini, SPBU yang dilakukan kerjasama dengan Pemkot Semarang makin banyak dan tersebar cukup merata dan bisa dijangkau. Sehingga saat mengisi tidak harus di SPBU yang di pusat kota, namun juga tersebar di beberapa SPBU, baik di Semarang Atas maupun Semarang Tengah dan wilayah lainnya yang juga sangat dibutuhkan pelayanannya. Sehingga diharapkan bisa efektif saat melakukan pengisian tak harus terpancang dengan SPBU tertentu dan hanya di tengah kota saja, tapi dilayani di SPBU COCO lainnya, diantaranya di Jalan Ahmad Yani, Kaligarang, Penggaron, sampai Banyumanik,” tandas pria berkaca mata ini.
Diharapkan dengan langkah tersebut, pengisian BBM di kendaraan dinas dan operasional bisa berjalan efisien dan efektif.
“Kartu ini juga diterapkan untuk pengisian BBM di motor dinas milik Pemkot. Agar benar-benar termonitoring dalam pembelian BBM,” harap Edi.
“Cukup bawa RFID saat transaksi pembelian BBM ini sangat urgen penunjang kinerja saya. Dengan banyak lokasi pengisian akan memudahkan dalam pengisian dan juga menghemat waktu saat pembelian bahan bakar di SPBU,” imbuhnya.
Sebelumnya, saat acara peresmian RFID, Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menjelaskan, adanya kerjasama ini tentunya agar bisa menyediakan bahan bakar kendaraan operasional Pemkot Semarang menjadi lebih mudah.
“Sehingga kalau membawa Fleet Card RFID atau alat pembayaran khusus dari Pertamina ini, keuntungan di antaranya tidak perlu bawa uang cash, dan transaksi BBM lebih praktis dan mudah saat mengisi di SPBU Pertamina,” ungkapnya, belum lama ini.
Dia berharap, nantinya kendaraan operasional dan dinas lainnya dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis lainnya di lingkungan Pemerintah Kota Semarang, seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Perhubungan (Dishub) juga memakai Fleet Card RFID. Sehingga kendaraan operasional seperti mobil patroli Dishub dan kendaraan berat milik DPU pun bisa dengan mudah mendapatkan layanan bahan bakarnya.
“Ini adalah terobosan dari Disperkim Kota Semarang yang bekerja sama langsung dengan Pertamina, sehingga semua transaksi pengisian BBM operasional milik dinas bisa secara cashless,” ujar Ita, sapaan akrab walikota Semarang.
Menurut Ita, dengan penggunaan kartu RFID ini, Pemkot Semarang bisa memonitor langsung pengeluaran BBM di instansi masing-masing.
“Harapannya dengan RFID ini semua bisa transparan untuk pengeluaran anggaran BBM,” papar Ita.
Tak hanya mobil dinas, semua kendaraan yang beroperasi di Disperkim wajib menggunakan kartu RFID.
“Selain mobil dinas, ada truk-truk dan truk skylift, termasuk untuk bahan bakar mesin pemotong rumput yang menggunakan kemasan pembayarannya harus lewat RFID,” jelas Ita.
Ita menyebut, banyak kemudahan penggunaan kartu RFID dalam bertransaksi. “Pengemudi juga enggak susah. Bahkan, RFID ini hanya bisa dipakai di plat dinas tersebut dan tidak bisa dipakai plat (mobil-red) lainnya. Sehingga tidak bisa disalahgunakan,” kata dia.
Tak hanya itu, lanjutnya, dengan RFID setiap bulan dinas bisa mengecek laporan realisasi belanja BBM di website Pertamina Retail.
”Kami berharap kerja sama ini dapat meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengeluaran BBK di lingkungan Pemerintah Kota Semarang, memang baru dua dinas yang sudah bisa menggunakan pembelian BBM dengan kartu RFID tentunya dinas-dinas yang lain akan menyusul dan saat ini sedang dalam proses penyusunan kontrak kerjasamanya,” ujar Ita.
“Ini mempermudah dalam segala hal, mulai dari monitor dan transparansi anggaran BBM operasional Dinas. Selain itu, efisiensi dan tidak perlu ada kembalian karena sudah cashless,” imbuhnya.
Pihaknya mendorong penggunaan RFID ini yang terdigitalisasi ini dari sisi keamanan terjaga, dan sebagai bentuk transparansi dan bukti pelaporan dinas.
Kedepannya, lanjut Ita, dinas-dinas yang memiliki anggaran BBM yang besar akan didorong untuk menggunakan kartu RFID ini.
“Ini bisa jadi role model bagi dinas lainnya seperti DPU), Dishub atau dinas lainnya agar bisa bekerja sama dengand dinas,” jelasnya.
“Kami menyambut baik kerjasama ini, semoga pemkot dan pertamina menjad patner dalam pembangunan kota dan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Kami pun dari pemkot terus melakukan pelayanan maksimal menjalankan program upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat,” katanya.
– Alat Bantu Monitoring Pengendalian BBM
Sementara, menurut Sales Area Manager 4 PT Pertamina Retail, Sugeng Rihadi menjelaskan, RFID sebetulnya alat pembayaran cashless yang sudah dikembangkan cukup lama oleh Pertamina. Namun, sekarang ini dipakai untuk membantu Pemerintah Kota Semarang dalam hal penyediaan bahan bakar bagi kendaraan operasional dan dinasnya.
“RFID ini hanya untuk mencatat identitas kendaraan dan merekam volume pembelian setiap transaksinya. Jadi tidak ada pembatasan volume pembelian,” jelasnya.
“Kami sudah bekerja sama dengan instansi-instansi pemerintah maupun perusahaan lainnya, agar penggunaan bahan bakar bisa termonitor dengan baik. Selain itu juga mempermudah pelayanan dengan cashless atau non tunai,” paparnya.
Menurut Sugeng, selain Disperkim, saat ini beberapa dinas, seperti Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang dan DPU serta Dishub pun kini menerapkan RFID.
“Bahkan, rencananya sampai ke tingkat terbawah seperti kecamatan dan kelurahan akan menggunakan RFID,” paparnya.
Melalui kerja sama tersebut, PT Pertamina Retail dan Pemerintah Kota Semarang berupaya meningkatkan transparansi, efisiensi dan kemudahan transaksi BBM bagi pelanggan di lingkungan Pemerintah Kota Semarang.
”Kami sangat menghargai kepercayaan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Semarang dalam hal penggunaan produk Pertamina. Kami berharap, dengan adanya kerja sama ini dapat meningkatkan keamanan dalam bertransaksi, yang didukung dengan kecanggihan teknologi,” kata Sugeng.
Penggunaan kartu RFID, lanjut Sugeng, memiliki sejumlah keuntungan di antaranya, memiliki teknologi smart reporting sehingga seluruh informasi mengenai transaksi seperti nominal dan lokasi transaksi akan otomatis tercatat di sistem sehingga transaksi tidak dapat dimanipulasi dan dapat dilihat secara real time.
“Selain itu, kartu RFID bersifat fleksibel yakni dapat dilakukan limitasi pengisian sesuai keinginan dari pelanggan,” terang Sugeng.
Di sisi lain, PT. Pertamina Retail terus berupaya mencapai rencana jangka panjang yang bertujuan untuk menjadi perusahaan ritel energi nasional kelas dunia dengan memberikan nilai lebih, khususnya dalam pelayanan penyediaan bahan bakar dan non bahan bakar melalui produk serta jasa yang terintegrasi melalui pengembangan digitalisasi.
“RFID atau Radio Frequency Identification merupakan suatu teknologi yang digunakan untuk melakukan identifikasi dan pengambilan data dengan menggunakan barcode atau magnetic card. Metode identifikasi ini dilakukan dengan menggunakan sarana yang disebut label RFID yang berfungsi untuk menyimpan dan mengambil data dari jarak jauh. Sedangkan proses identifikasi pada RFID terjadi dengan menggunakan gelombang elektromagnetik. Oleh sebab itu, proses identifikasi RFID membutuhkan dua perangkat yaitu tag dan reader agar dapat berfungsi dengan baik,” sambungnya.
RFID tag sendiri, kata dia, merupakan alat yang menempel pada benda yang akan diidentifikasi oleh RFID reader yang terdiri dari dua jenis yaitu aktif dan pasif. Tag pasif dapat digunakan tanpa harus memakai baterai sedangkan tag aktif memerlukan baterai untuk bisa dioperasikan.
RFID tag berisi suatu tag unik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Selain itu, informasi yang tersimpan pada suatu benda atau objek yang terhubung pada tag hanya terdapat pada sistem atau database yang dihubungkan ke RFID reader.
RFID banyak diminati pelanggan karena memiliki beberapa keunggulan, yaitu label atau tag dapat dibaca jika melewati dekat pembaca label, bahkan dalam keadaan tertutup oleh objek lainnya.
“Selain itu, RFID juga dapat digunakan di mobil untuk identifikasi penggunaan BBM bersubsidi dan untuk pembayaran tol tanpa kontak langsung,”.paparnya.
Selain itu, RFID Tag berfungsi mengenali identitas kendaraan, baik dinas maupun pribadi dalam sistem monitoring dan pengendalian BBM, juga memberikan otorisasi pada sistem untuk kendaraan melakukan pengisian BBM. Serta sebagai alat yang wajib digunakan pada kendaraan untuk pegisian BBM bersubsidi agar tepat sasaran.
Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM no. 1/2013 tentang pengendalian penggunaan BBM, yang menyatakan semua jenis kendaraan bermotor yang dimiliki atau dikuasai oleh Instansi Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah, mobil barang dengan jumlah roda lebih dari 4 buah untuk pengangkutan hasil kegiatan perkebunan dan pertambangan serta mobil barang dengan jumlah roda lebih dari 4 buah untuk pengangkutan hasil kegiatan kehutanan dilarang untuk menggunakan BBM Bersubsidi.
Untuk itu, Pertamina terus mengoptimalkan pelayanan kepada pelanggan, termasuk dengan program SMPBBM atau Sistem Monitoring dan Pengendalian Bahan Bakar Minyak agar kebutuhannya tercukupi.
Sebagai informasi, fasilitas di SPBU COCO di Kota Semarang sendiri, ada beberapa titik untuk memberikan peyananan prima. Seperti di dalam area SPBU COCO Sultan Agung Jalan Sisingamangaraja No. 24, Semarang ini terbilang memiliki area yang cukup asri dan lengkap serta menariknya.
Di SPBU ini dikonsep sebagai green SPBU, hal ini terlihat dengan adanya taman kecil yang ditumbuhi tanaman yang dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau. Pelayanan di sini untuk kendaraan roda dua yakni self servis. Adapun jenis bahan bakar yang dilayani berupa preminum, solar, bio solar, pertamax, Pertamax plus.
Fasilitas lainnya disediakan bagi pengunjung, terdapat Bright Store, Ruang Bright Oli Mart, Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Centre, Air dan pengisian angin, toilet, musala, nitrogen, pijat refleksi, dan titik pemberangkatan Travel Joglo Semar.
Kemudian di SPBU COCO di Jalan Ahmad Yani Semarang No. 157 – 159 Semarang, juga melayani bahan bakar berupa premium, solar, bio solar, pertamax, pertamax plus, serta dilengkapi fasilitas Bright Store, Ruang Bright Oli Mart, Service Area Bright Oli Mart, ATM Center, dan Car Wash.
Sedangkan di SPBU COCO Jalan Kaligarang, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang melayani premium, solar, bio solar, pertamax, Dex. Sedangkan fasilitas lainnya, berupa Bright Store, Graffity print, Rumah Mess SPBU, dan juga ATM Center. Serta SPBU COCO Jalan Brigjend Sudiarso Penggaron Semarang, di sini melayani pengisian bahan bakar, premium, solar, bio solar, pertamax, Dex, juga terdapat Bright Store, dan ATM Center.
Salah satu pengunjung SPBU COCO Sultan Agung, Ayu (30) mengatakan, fasilitas maupun pelayanan petugas di sini cukup baik. Dirinya mengaku sering mengisi BBM di SPBU ini, karena selain rumahnya tidak jauh dari lokasi SPBU juga dengan alasan pelayanan prima.
“Meski kadang antreannya cukup lama tapi tak masalah, karena dari sisi kebersihan dan kenyamanan membuat pengunjung betah. Kemudian dengan fasilitas yang disediakan cukup lengkap, mulai dari ATM, sampai mini market hingga suasana lingkungan yang asri,” katanya.
Dirinya juga merasa senang dengan fasilitas yang tersedia untuk pengunjung. Dan harapannya bisa ditingkatkan lagi agar masyarakat bisa memanfaatkan dengan baik. Di sela-sela mengisi bahan bakar juga terbantu dengan fasilitas yang diberikan tersebut.
“Menurut saya di sini cukup representatif dari penyediaan bahan bakar dan segi pelayannnya. Yang paling penting, kalau bagi saya kebersihan nomor satu terutama di toilet yang harus dijaga, selain pelayanan yang baik juga saat melayani pelanggan. Kesan pertama kali saat ke sini membuat nyaman dan puas dengan berbagai fasilitasnya yang terjaga dan terlihat terawat dengan baik,” papar Ayu, saat ditemui, baru-baru ini.
“Di samping itu, adanya pelayanan penggunaan secara cashless di sini cukup membantu pelanggan mencukupi bahan bakar. Apalagi dari letak lokasinya yang berada di wilayah yang menjadi salah satu titik kumpul dari masyarakat sekitarnya, harapnnya dapat hadirnya di sini bisaa memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk pembangunan dan menumbuhkan perekonomian,” pungkasnya. (HS-06)