in

Jumlah Peserta KB Aktif Pasangan Usia Subur Masih Rendah, Ini Upaya Pemkab Kendal

Para petugas Penyuluh Lapangan KB di Kecamatan Kendal.

HALO KENDAL – Berdasarkan data dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP2PA) Kabupaten Kendal, jumlah peserta KB aktif Pasangan Usia Subur (PUS) per Desember tahun lalu hanya 110.414 pasangan atau 66,19 persen dari jumlah total pasangan usia subur 166.819.

Kepala DP2KBP2PA Kabupaten Kendal, Albertus Hendri Setiawan mengatakan, melihat masih rendahnya jumlah peserta KB aktif PUS di Kendal tersebut, pihaknya terus menggencarkan upaya untuk menjaring peserta KB melalui petugas Balai Penyuluhan Keluarga Berencana (BPKB) yang tersebar di seluruh kecamatan di Kendal.

“Saat ini jumlah Balai Penyuluh KB di Kabupaten Kendal sebanyak 37 kantor, yang berada di 18 kecamatan,” ujar Hendri, Rabu (1/2/2023).

Dijelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), untuk mendorong pasangan usia subur yang belum mengikuti agar ikut program KB.

“Terutama yang dengan metode jangka panjang, seperti IUD (intra uterine device) atau bisa juga disebut sebagai KB spiral, KB implan, MOW (metode operasi wanita) atau tubektomi dan MOP (metode operasi pria) atau vasektomi,” jelasnya.

Hendri juga memaparkan, saat ini tercatat sekitar 17,44 persen PUS unmetneed atau kebutuhan KB yang belum terpenuhi. Untuk itu pihaknya terus menggalakkan Safari KB hingga melakukan jemput bola ke masyarakat.

“Kami sudah menjadwalkan program Safari KB di 20 kecamatan. Kami juga akan bekerja sama 62 fasilitas kesehatan. Baik itu rumah sakit, klinik maupun praktek mandiri bidan,” bebernya.

Sementara itu, terpisah, Koordinator PLKB Kecamatan Kendal, Astuti Puji Lestari mengatakan, pihaknya telah melakukan upaya untuk menjaring peserta KB bagi pasangan usia subur.

“Kami melakukan pendekatan dengan tokoh formal dari instansi terkait, seperti puskesmas, kelurahan, KUA atau Kementerian Agama. Selain itu juga dengan tokoh informal, seperti PKK, organisasi Fatayat, Muslimat, Asiyah dan organisasi lain,” terangnya.

Astuti menjelaskan, kerjasama dengan tokoh formal dan informal tersebut, supaya lebih mudah melakukan kegiatan Safari KB maupun jemput bola ke pasangan usia subur yang belum menjadi peserta KB aktif.

“Pendekatan dengan tokoh formal itu, kami koordinasi dengan pihak terkait, misalnya puskesmas untuk kesepakatan pelaksanaan Safari KB, juga dengan pemerintahan kelurahan, untuk berkoordinasi mengenai kegiatan di lapangan, misalnya kalau akan mengadakan Kampung pembinaan KB,” jelasnya. (HS-06).

Percaya Diri Bisa Menang Lagi

Ganjar Tinjau Langsung Upaya Tekan Stunting hingga ke Tingkat Desa