SENJA yang hangat di sepanjang ruas jalur Pantura dan jalur tengah Jawa Tengah kini bukan sekadar pemandangan musim biasa. Bagi ribuan pekerja konstruksi, petugas brigade jalan, aparat pemerintahan, hingga warga yang melintas setiap harinya, itu adalah tanda kesiapan yang makin matang menyongsong arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Provinsi ini diproyeksikan menjadi salah satu tujuan terbesar arus mudik nasional, dengan estimasi lebih dari 38,7 juta pergerakan pemudik yang akan masuk dan lewat wilayahnya menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Proyeksi ini berdasarkan hasil survei nasional yang dirilis Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub.
Di tengah lonjakan persiapan itu, yang selalu menjadi sorotan adalah kondisi infrastruktur jalan. Jalan yang mulus berarti perjalanan yang aman dan nyaman bagi keluarga yang pulang kampung, terutama di jalur-jalur strategis yang menghubungkan kota-kota besar dan desa-desa kecil.
Dalam beberapa minggu terakhir, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengintensifkan perbaikan jalan rusak yang menjadi kendala utama mobilitas kendaraan. Hingga kini, kondisi kemantapan jalan provinsi mencapai sekitar 94 persen, sebuah angka yang menunjukkan kesiapan infrastruktur untuk dilintasi pemudik.
Perbaikan mencakup jalan nasional, provinsi, hingga ruas yang sering mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem musim hujan. Proyek pemeliharaan dan perbaikan ditargetkan rampung paling lambat H-10 Lebaran, guna memastikan keselamatan perjalanan keluarga yang mudik.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro belum lama ini menjelaskan, meskipun anggaran untuk perbaikan jalan di tahun 2026 turun menjadi sekitar Rp300 miliar, progress perbaikan tetap berlangsung dan menjadi prioritas utama dalam rapat koordinasi lintas sektor.
Sementara Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menegaskan komitmennya dalam beberapa kesempatan pertemuan persiapan pekan ini. Menurutnya, Jawa Tengah yang menjadi simpul utama perlintasan nasional tidak boleh melakukan persiapan secara setengah hati.
“Kesiapan infrastruktur termasuk perbaikan jalan rusak adalah bagian dari tanggung jawab kita untuk melindungi keselamatan masyarakat. Bukan hanya mengisi jalur, tetapi memastikan perjalanan keluarga lancar tanpa hambatan yang berarti,” ujar Ahmad Luthfi saat rapat koordinasi di kantor Gubernur Jateng bersama Komisi V DPR RI dan Menteri Perhubungan beberapa waktu lalu.
Luthfi juga menegaskan bahwa selain perbaikan struktural, layanan respons cepat terhadap pengaduan jalan rusak diluncurkan agar masyarakat dapat melapor dan tim penanganan bisa segera turun ke lapangan.
Di tengah geliat proyek perbaikan itu, warga yang kesehariannya menggunakan jalur mudik menyambut baik langkah ini. “Kalau sudah diperbaiki seperti sekarang, kami merasa jauh lebih aman,” kata Sarman, supir truk asal Rembang saat ditemui di pinggir jalur Pantura Batang, baru-baru ini.
Selain perbaikan jalan, pemprov bersama instansi terkait juga meningkatkan layanan pendukung seperti titik informasi perjalanan, patroli kendaraan, hingga koordinasi dengan BMKG dalam memberikan informasi cuaca real-time demi keselamatan perjalanan.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah, Arief Djatmiko menambahkan, koordinasi lintas sektor itu juga menyasar keamanan dan kenyamanan, bukan sekadar fisik jalan. “Kita ingin memastikan setiap pemudik merasa aman dan mendapat layanan terbaik saat masuk dan keluar wilayah Jateng,” katanya.
Dengan target penyelesaian perbaikan pada H-10 Lebaran, ribuan pekerja jalan, petugas dinas, hingga aparat keamanan terus mempercepat pengerjaan di berbagai titik kritis. Dari jalur Pantura yang melewati pelbagai kota besar, hingga jalur tengah Jawa yang sering menjadi pilihan alternatif pemudik, semuanya dipantau berkala.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah daerah, sinergi lintas sektor, serta dukungan masyarakat, provinsi ini berharap persiapan yang matang akan membuat Lebaran 2026 menjadi musim mudik yang aman, nyaman, dan penuh kebaikan.(HS)