HALO BATANG – Bagi siswa SDN Kauman 7 Batang, Alethia Prameswari, pertemuannya secara online (daring) dengan para pelajar dari Kota Toyama, Jepang sungguh merupakan keistimewaan.
“Sosok-sosok yang biasa Anya bayangkan dari cerita atau tayangan televisi kini benar-benar hadir,” kata siswa SDN Kauman 7 Batang, bernama lengkap Alethia Prameswari itu, di sekolahnya, Senin (12/10/2026).
Bagi Anya, teman-teman barunya dari Negeri Sakura ini, bukan sekadar bayangan jauh yang mustahil dijangkau.
Mereka bisa saling bertukar sapa, mendengarkan cerita satu sama lain, dan merajut benih persahabatan awal.
Pengalaman itu menyalakan sebuah awan sederhana dalam diri Anya. Dia ingin terbang ke Negeri Sakura dan menemui awan-kawan barunya secara langsung.
“Pertemuan daring ini menjadi bagian dari perayaan Girls Day di Toyama. Tak sekadar hadir sebagai penonton, anak-anak Batang justru mengambil peran sebagai ‘tuan rumah’ yang memperkenalkan identitas daerah mereka,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.
Dengan bahasa Inggris yang lugas, dia menceritakan sejarah lokal, kebiasaan sehari-hari, hingga memamerkan keindahan pakaian adat, kuliner, dan destinasi wisata Batang. Mereka seperti sedang membukakan pintu rumah lebar-lebar untuk tamu dari jauh.
Harapan senada diungkapkan oleh Junior Rusmana. Ia berharap, percakapan hangat tersebut tidak padam begitu saja saat tombol penutup Zoom ditekan, melainkan terus bertumbuh menjadi jembatan persahabatan yang kekal.
Sementara itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengapresiasi keberanian para siswa. Bagi Faiz, menyentuh dunia luar sejak dini adalah kunci membentuk pola pikir anak-anak daerah.
“Dunia ini besar. Di luar sana banyak tempat yang sebenarnya bisa menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar dan mendapatkan pengalaman. Bahwa anak-anak Batang tak boleh berkecil hati. Tempat lahir maupun lokasi sekolah tak pernah membatasi potensi seseorang untuk bersaing di panggung global,” terangnya.
Kemampuan mereka tidak semestinya diukur hanya dari tempat mereka dilahirkan atau bersekolah. Kesempatan untuk belajar dan berkembang terbuka bagi siapa saja, sembari berharap momen ini makin memicu semangat anak-anak untuk menguasai bahasa internasional.
Menuju Sister City
Langkah hangat anak-anak sekolah dasar ini tidak berdiri sendiri. Di balik layar Zoom, ada jejak diplomasi informal yang sudah ditorehkan oleh para pekerja migran Indonesia asal Batang yang mengadu nasib di Toyama.
Kepala Bapperida Batang Bagus Pambudi menceritakan, bagaimana kontribusi ekonomi para pekerja Batang di Jepang menjadi batu pijakan awal untuk mempererat hubungan antar-wilayah.
“Ini bagian dari penjajakan untuk sister city antara Batang dan Toyama,” ungkapnya.
Penjajakan sister city ini direncanakan mencakup sektor yang lebih luas, mulai dari pendidikan, pengelolaan lingkungan, promosi pariwisata, hingga pemasaran produk UMKM lokal. Interaksi antarsiswa menjadi sarana paling humanis untuk membangun ikatan emosional di luar birokrasi pemerintahan.
Bagus meyakini, meski anak-anak tersebut belum sepenuhnya memahami kerumitan naskah kerja sama antar-kota, keberanian mereka untuk menyapa dunia adalah modal berharga.
“Bagi mereka, cukup dengan berani bicara, menghargai perbedaan, dan menyimpan rindu untuk bertemu Kembali sebab dari sanalah kepercayaan diri anak Batang untuk menaklukkan dunia bermula,” ujar dia. (HS-08)


