in

Hidupkan Kembali Keteladanan, Haul Para Ulama Kaliwungu Digelar

Haul Al-Marhumin Al-Maghfurlahum KH Ahmad Ru'yat dan Mbah Wali Musyaffa', digelar beberapa waktu lalu di Masjid Besar Al Mutaqqin Kaliwungu.

HALO KENDAL – Peringatan Haul Al-Marhumin Al-Maghfurlahum KH Ahmad Ru’yat dan Mbah Wali Musyaffa’, digelar beberapa waktu lalu di Masjid Besar Al Mutaqqin Kaliwungu.

Acara dihadiri oleh para pengasuh pondok pesantren, para pengurus Masjid Al Mutaqqin, dan diikuti ribuan jamaah yang memadati kompleks masjid tersebut.

Semua yang yang hadir dalam acara haul, menjadi saksi betapa peristiwa ini memiliki makna yang jauh lebih dalam, sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kembali keteladanan para auliya dan ulama.

Ketua Pembina Yayasan Masjid Besar Al Mutaqqin Kaliwungu, KH Asroi Tohir menyampaikan, para auliya dan ulama sudah berjasa memberikan bimbingan dan pencerahan bagi masyarakat.

“Bukan hanya di Kaliwungu saja, namun juga di daerah lain. Dari haul ini, yang terpenting adalah bisa mengambil suri keteladanan,” pesannya.

KH. Asrol Tohir juga menyampaikan, hakikat haul adalah kesadaran untuk mengikuti jejak keteladanan para kekasih Allah, bukan sekadar mengikuti keramaian.

“Haul tahunan ini harus tetap dilestarikan untuk membuktikan cinta kepada ulama, auliya dan cinta kepada Rosullullah Muhammad SAW,” harapnya.

Sementara Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari yang hadir dalam acara mengungkapkan, haul merupakan bentuk penghargaan kepada para tokoh agama yang telah berpulang, karena semasa hidup para ulama telah berjuang guna syiar agama Islam.

“Sehingga semua umat muslim patut mendo’akan agar segala amalan beliau diterima di sisi Allah Subhanahu Wataala dan diampuni. kesalahannya,” ungkap Bupati.

Dirinya juga menyebut, KH Ahmad Ru’yat dan Mbah Wali Musyaffa’ adalah tokoh penting dalam sejarah Kaliwungu, khususnya dalam perkembangan Islam dan pondok pesantren.

Menurut Bupati, perjuangan harus dijadikan pelajaran bahwa Islam yang diajarkan adalah Islam rahmatan lil ‘alamin. penuh kasih sayang, kesungguhan memperjuangkan kebenaran ilmu agama, dan keadilan bagi masyarakat.

“Maka, dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh jama’ah dan masyarakat Kaliwungu dan sekitarnya, agar senantiasa mendoakan kebaikan bagi para ulama. Marilah menghormati para ulama dengan mengambil ilmu-ilmunya dan mengamalkan di kehidupan sehari-hari,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu juga, Bupati juga memohon doa dan dukungan masyarakat untuk bersinergi membangun Kendal yang lebih baik, dengan menjaga kerukunan, persatuan, dan kondusivitas wilayahnya. masing-masing.

Sementara, Pengasuh Ponpes APIK Kauman Kaliwungu, KH Sholahudin Humaidullah menyampaikan sejarah. Di mana KH Ahmad Rukyat lahir pada tahun 1885, putra dari KH Abdullah Wiryodikromo, dan wafat pada tahun 1968.

“Jenazahnya dimakamkan di Bukit Jabal Nur Kaliwungu. Tahun 1932, KH Ahmad Rukyat diamanahi pamannya, KH Irfan untuk mengasuh Ponpes APIK Kauman Kaliwungu, dan di bawah asuhannya, pesantren ini bertambah pesat perkembangannya hingga sampai sekarang,” ujarnya.

Lebih lanjut KH Sholahudin menjelaskan, banyak santri yang kemudian menjadi ulama besar.

“Di antaranya, KH Abuya Dimyati di Pandeglang, Banten, KH A Shohibulwafa di Tasikmalaya, KH Asror Ridwan, dan KH Dimyati Rois di Kaliwungu, dan masih banyak lagi yang lain,” jelasnya.

KH Sholahudin juga mengungkapkan, adapun Mbah Wali Musyaffa’, lahir tahun 1904 di Kampung Losari Krajan Kulon Kaliwungu. Meski berasal dari keturunan biasa, beliau ditakdirkan menjadi waliyullah dan wafat pada tahun 1969.

“Semasa hidup, Kyai Musyafa terkenal sebagai ulama yang memiliki karomah. Beliau dikenal dengan sosok yang zuhud dan sederhana,” ungkapnya. (HS-06)

Anggota DPR Minta Pemerintah Tak Tutup Mata terhadap Infrastruktur Pesantren

Dukung Program Pesantren Ramah Anak, Nawal Yasin Tekankan Pentingnya Bangun Budaya Inklusif