HALO KENDAL – Novel “Kinan” yang mengisahkan asmara cowok manca dengan gadis pribumi karya Haniek Himatul Hanifah, diobrolkan pada program Hajatan Kebun Sastra #16 oleh Lestra (Lembaga Sastra Rakyat), yang digelar di plataran Perpustakaan Daerah Kendal, Sabtu malam (21/10/2023).
Haniek merupakan penulis muda pertama yang menyuguhkan novelnya dan penyumbang obrolan novel dalam gelaran Hajatan Kebun Sastra dari Lestra. Sebelumnya puisi-puisi dan cerita pendek kerap didiskusikan para penyair dan penulis di Kendal dan sekitarnya.
Haniek mengaku sangat senang ketika dihadirkan dalam diskusi novel keduanya itu. Baginya, acara “Njadum Novel Kinan” adalah pengalaman pertama baginya. Ia juga mengaku, belum pernah buku karyanya diobrolkan dalam sebuah diskusi, termasuk sebelumnya ketika novel pertamanya telah terbit.
“Ini baru pertama novel karya saya diobrolkan. Terima kasih kepada Lestra dan Perpusda Kendal. Saya menerima segala masukan dan kritik yang diberikan oleh pembicara malam ini. Saya kira akan menjadi masukan tersendiri untuk karya-karya selanjutnya,” ungkapnya.
Dalam gelaran yang diupayakan untuk menggairahkan kegiatan literasi di Perpusda Kendal malam itu, dihadiri Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kendal, Wahyu Yusuf Akhmadi, dengan pembicara oleh Setia Naka Andrian, selaku pengajar dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang, serta dimoderatori oleh oleh Kelana Siwi Kristyaningtyas.
“Kami berharap, Perpusda Kendal terus bisa seperti malam ini. Karena sejak dibuka pada 29 Agustus lalu, kami berupaya untuk menggaet berbagai teman-teman berbagai komunitas. Alhamdulillah, dalam bingkai festival literasi yang kami laksanakan kurang lebih satu pekan, kemudian tanpa anggaran-anggaran khusus akan tetapi tetap bisa berjalan,” ungkap Wahyu saat membuka acara.
Dirinya juga berharap, Perpusda Kendal bisa menjadi milik siapa saja yang hendak berproses kreatif. Baik para komunitas budaya, seni, dan sastra yang ada di Kendal, maupun para kreator yang dapat menginspirasi banyak orang, terutama bagi kalangan anak muda.
“Segala upaya itu tentu sesuai dengan tagline yang diserukan Perpusda Kendal, yaitu “Perpusda Kendal Punya Kita”. Sehingga, siapa pun kami ajak untuk berupaya menjaga kebermanfaatan Perpusda yang sudah dibangun begitu megah ini,” harap Wahyu.
Sementara itu, dari Lestra menyambut baik digelarnya Hajatan Kebun Sastra. Menurut salah satu pendiri Lestra, Kelana Siwi Kristyaningtyas, program tersebut sudah dilaksanakan sejak tiga belas tahunan yang lalu.
“Dan sekarang dipercayakan untuk diselenggarakan di Perpusda Kendal. Saya kira ini ruang yang menarik, supaya setidaknya perpustakaan tidak saja
menjadi ruang untuk meminjam dan membaca buku semata, tetapi perlu dimakmurkan dengan kegiatan-kegiatan diskusi buku dari para penulis di Kendal,” ujar Kelana.
Sedangkan pembicara Setia Naka Andrian menyampaikan, dalam obrolan novel ibi dirinya memberikan apresiasi tersendiri atas upaya yang tak biasa yang dilakukan oleh Haniek hingga dapat menyelesaikan novel yang bisa dibilang cukup tebal tersebut.
Meski begitu, dirinya mengaku bukanlah pembaca novel populer serupa yang ditulis Haniek, akan tetapi ia menikmatinya dan memberikan sedikit ulasan atas novel tersebut.
Menurut Naka, hal itu penting untuk diberikan apresiasi. Sebab tentu butuh ketahanan panjang bagi siapa yang berani menulis panjang dan bisa menyelesaikan, serta kemudian menerbitkannya. Dan Haniek punya ketahanan itu.
“Harapannya, kelak energi yang sudah begitu besar itu dapat tersalurkan dengan baik dan dapat terus melanjutkan prosesnya, juga tetap menjalani pencarian-penemuan dalam proses menulisnya. Yang pasti, kami semua malam ini menanti karya selanjutnya dari Haniek,” pungkasnya.(HS)