“Pemimpin itu adalah jabatan, hanya titipan sementara. Jadi sewaktu-waktu bisa diambil. Dan setiap amanah yang dijalankan oleh seorang pemimpin, pasti terdapat konsekuensi yang harus dihadapi,” ungkap Pakde Bas sapaan akrabnya.
Wabup juga menyadari, semua orang mempunyai sudut pandang masing-masing terhadap seorang pemimpin. Ada yang berpikir baik dan ada yang kurang baik.
“Saya yakin, bapak Ibu dan kita semuanya punya kemampuan, punya kelebihan disamping kekurangan. Begitu pun saya. Menjadi wakil bupati, yang paling rumit adalah bagaimana kapasitas, kemampuan dan amanah yang kita miliki bisa kita optimalkan dan bisa dirasakan oleh masyarakat. Dan itu membutuhkan ketahanan dan dukungan, terutama dari keluarga,” ungkapnya.
Wabup juga menyebut, seorang pemimpin yang baik itu tidak mempunyai tujuan untuk memperkaya diri, namun punya pemikiran bagaimana memakmurkan rakyatnya.
“Pemimpin yang kaya itu tidak terlalu banyak bicara, tetapi selalu menghadirkan optimisme. Karena seluruh pemikiran dan tenaganya dicurahkan untuk memakmurkan rakyatnya, bukan memperkaya diri sendiri,” tandas Pakde Bas yang akan maju kembali dalam Pilkada Kendal 2024.
Masjid Abdul Rahman yang dibangun dengan konsep ala Cheng Ho di Kompleks Pusaka Square, merupakan milik tokoh masyarakat dan pengusaha di Sukorejo, H Mastur.
Pengajian Sabtu Pagi yang rutin diadakan sepekan, selalu dihadiri ratusan jemaah dari sekitar Sukorejo, dengan kajian Islam. Selain itu setiap sebulan sekali, Masjid Abdul Rahman membagikan sembako kepada warga yang membutuhkan.
Sementara penceramah pengajian Sabtu Pagi, H Ibnu Sodiq membedah terkait perjalanan dan perjuangan Wali Songo, dalam menyebarkan Agama Islam. Menurutnya, Wali Songo mampu mengelola budaya, sehingga diterima oleh hampir masyarakat Nusantara.
“Wali Songo mampu menjalankan misi dari bidang-bidang strategis, dari bidang keagamaan, tata kemasyarakatan, strategi kebudayaan, geo-politik saat itu, ekonomi, pengembangan kesenian dan sebagainya. Tak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semua melalui proses penyesuaian,” tuturnya.
“Perjuangan Wali Songo dalam menyebarkan Islam tidak dengan mengusik tradisi yang ada, tidak menggangu agama, sistem nilai dan kepercayaan yang sudah ada, tapi memperkuatnya dengan cara yang Islami,” imbuh H Ibnu Sodiq. (HS-06)