HALO SEMARANG – Pemprov Jateng diharapkan bisa memicu pertumbuhan ekonomi, seiring melandainya kasus Covid-19. Sektor-sektor yang diharapkan bisa memicu peningkatan ekonomi masyarakat, di antaranya sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata. Hal itu ditegaskan Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko, Senin (7/11/2022).
Menurutnya, sektor pertanian menjadi salah satu benteng ketahanan pangan, di tengah ancaman resesi global tahun 2023.
“Beberapa hal yang seharusnya bisa dilakukan pemerintah yakni memperbaiki ekosistem di sektor pertanian. Harga jual gabah juga seharusnya bisa lebih tinggi untuk mencegah generasi muda melakukan urbanisasi,” kata politisi Partai Gerindra ini.
Selain itu, pemerintah juga seharusnya memberikan bantuan pupuk dengan alokasi yang lebih baik. Pengenalan teknologi pertanian juga perlu didorong untuk menarik minat generasi muda dan mengoptimalkan hasil pertanian.
“Kemudian beri bantuan pupuk dengan alokasi yang lebih banyak plus teknologi pertanian didorong untuk tingkatkan output panen,” katanya.
Selain itu sektor perikanan dan pariwisata juga penting untuk digarap lebih serius. Mengingat Jawa Tengah memiliki garis pantai yang sangat panjang, yang sangat potensial untuk pengembangan sektor perikanan, baik tangkap maupun budi daya.
“Potensi pantai di sisi Utara maupun Selatan juga berpotensi untuk mengembangan pariwisata. Jika tiga sektor ini digarap dengan baik, kami yakin bisa menekan angka pengangguran, sekaligus memiliki benteng pertahanan akan ancaman resesi global,” tegasnya.
Pertumbuhan Ekonomi
Sementara, melandainya kasus Covid-19 memicu pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Indikasi ini terlihat pada jumlah penganggur yang mengalami penurunan hingga 44 ribu, sedangkan orang yang bekerja bertambah 555 ribu orang.
Data ini terungkap pada rilis daring Badan Pusat Statistik Jawa Tengah, Senin (7/11/2022). Kepala BPS Jateng, Adhi Wiriana mengatakan, data tersebut berdasar Survei Angkatan Kerja Nasional 2022 yang dilakukan pada Februari dan Agustus 2022.
Adhi menjelaskan, jumlah penduduk usia kerja di Jawa Tengah naik 237 ribu orang, menjadi 27,49 juta orang. Dari Jumlah ini, dibagi dua kelompok yakni Bukan Angkatan Kerja (BAK) dan Angkatan Kerja (AK). Tercatat, BAK turun 274 ribu orang menjadi 8,02 juta orang, sedangkan AK naik 511 ribu orang menjadi 19,47 juta orang.
Dari data AK dibagi menjadi dua kelompok yakni orang bekerja dan pengangguran. Orang bekerja tercatat naik 555 ribu orang menjadi 18,39 juta orang. Kategori ini dibagi menjadi tiga, yakni orang bekerja penuh waktu meningkat 956 ribu orang menjadi 13,13 juta orang. Pekerja paruh waktu menurun 103 ribu orang menjadi 4,27 juta orang, dan setengah pengangguran turun 298 ribu orang menjadi 0,99 juta orang.
Sementara, pengangguran turun 44 ribu orang menjadi 1,08 juta orang. Ia menyebut indikator ini menjadi tanda perbaikan ekonomi dilihat dari jumlah pekerja penuh waktu.
“Ini menandakan pertumbuhan ekonomi yang terjadi 5,28 persen Year on Year (Triwulan III 2022), berpengaruh terhadap penurunan pengangguran yang turun 44 ribu orang, sementara orang bekerja terjadi peningkatan 555 ribu orang,” ujar Adhi.
Adhi mengatakan, jumlah pengangguran di Jateng kian menurun seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pulihnya kondisi pandemi Covid-19. Catatan BPS Jateng, penganggur di Jateng sempat mencapai 1,21 juta orang di Agustus 2020, kemudian turun menjadi 1,13 juta orang di 2021 dan menjadi 1,08 juta orang di 2022.
Ia menyebut tingkat pengangguran terbuka di Jateng berada di angka 5,57 persen (Agustus 2022) atau menurun 0,38 persen dibanding agustus 2021. Angka ini menurutnya di bawah angka pengangguran nasional yang mencapai 5,85 persen.(Advetorial-HS)