HALO SEMARANG – Setidaknya pada awal tahun 2022 dan pertengahan tahun, yakni 30 Juni dan terbaru pada 25 Juli di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wobosobo dan Banjarnegara terjadi embun upas atau embun beku. Fenomena embun upas yang tiap tahun dijumpai di Dieng, tentunya hal yang jarang ditemui di tempat lain.
Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Sutikno menjelaskan, fenomena embun beku di lereng pegunungan Dieng dan suhu dingin di malam hari disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.
“Pada saat puncak kemarau, memang umumnya suhu udara lebih dingin dan permukaan bumi lebih kering. Pada kondisi demikian, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa. Itu yang menyebabkan suhu udara musim kemarau lebih dingin daripada suhu udara musim hujan,” terang Sutikno, Selasa (26/7/2022).
Embun upas atau embun beku, lanjut dia, menurut penduduk Dieng adalah embun racun. Fenomena ini terjadi ketika suhu menjadi sejuk, lantas turun embun-embun yang dingin dan beku.
“Dinamai upas karena memang efeknya membuat tanaman mati. Kerusakan tersebut tidak dapat dihindari jika embun beku tiba lebih awal sebelum masa panen. Namun selain memberikan dampak negatif, embun beku Dieng juga ternyata mendatangkan dampak positif lainnya,” katanya.
Fenomena kemunculan embun beku akibat suhu dingin ekstrem, kata dia, justru menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Dieng.
“Meski merupakan pemandangan yang indah, pemerintah tetap menghimbau para wisatawan untuk berhati-hati. Suhu dingin ekstrem dapat membahayakan kesehatan bagi wisatawan yang ingin menikmati fenomena es di hamparan rumput dan dedaunan pada puncak Dieng tersebut,” paparnya.
Ia mengatakan, ada beberapa faktor yang berperan dalam terbentuknya embun beku yang didahului suhu dingin ekstrem di Dieng.
“Antara lain adalah gerak semu matahari, intrusi suhu dingin dan laju penurunan suhu terhadap ketinggian,” urainya.
Selain itu, juga karena kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara.
“Pada kondisi puncak kemarau saat ini di Jawa, beberapa tempat yang berada pada ketinggian, terutama di daerah pegunungan, diindikasikan akan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0 derajat Celsius, disebabkan molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah sehingga sangat cepat mengalami pendinginan, lebih lebih pada saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan,” lanjut dia.
“Dan uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan atau rumput. Air embun yang menempel dipucuk daun atau rumput akan segera membeku yang disebabkan karena suhu udara yang sangat dingin, ketika mencapai minus atau nol derajat, sehingga terjadilah embun upas/embun beku di daerah tersebut,” sambungnya.
Di Indonesia beberapa tempat pernah dilaporkan mengalami fenomena ini yaitu daerah dataran tinggi Dieng, Gunung Semeru dan pegunungan Jayawijaya, Papua. Kejadian Embun Upas merupakan fenomena yang dapat terjadi dan biasa terjadi tiap tahun.
“Dan fenomena Embun Upas di Dataran Tinggi Dieng dapat terjadi jika memenuhi syarat dan ketentuan diantaranya, adalah ketika memasuki bulan-bulan musim kemarau (Mei-September), anomali jika terjadi pada musim hujan. Lalu, suhu udara di bagian selatan Jawa Tengah terasa lebih dingin atau biasanya suhu maksimum tidak lebih dari 30 derajat celcius. Di sekitar tempat kejadian langit cenderung bersih awannya (clear sky), tidak terjadi hujan dan udara dekat permukaan lebih dingin saat malam hingga pagi hari, atau dengan suhu mendekati atau bahkan dibawah 0 derajat celcius ini juga yang terjadi di Dataran tinggi Dieng. Serta rendahnya kelembaban udara baik di tempat kejadian maupun daerah di sekitarnya,” pungkasnya. (HS-06)