HALO SEMARANG – Dewan Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Victor Rembeth, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas agama dalam penanggulangan bencana.
Hal itu disampaikan Victor, usai menghadiri peluncuran Buku Ekoteologi, Buku Trilogi Kerukunan, serta Peta Jalan Penguatan Moderasi Beragama 2025–2029, di Auditorium KH HM Rasjidi, Gedung Kemenag Thamrin, Jakarta, belum lama ini.
Peluncuran buku ini mempertegas komitmen Kemenag, untuk menghadirkan kebijakan keagamaan yang transformatif, inklusif, dan selaras dengan arah pembangunan nasional.
Lebih lanjut Victor mengungkapkan bahwa tingkat bencana tertinggi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi, yang dipicu oleh perubahan iklim.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat untuk dapat diatasi secara komprehensif.
“Diperlukan kerja sama lintas agama dalam upaya-upaya kemanusiaan. Oleh karenanya, lembaga-lembaga kemanusiaan berbasis agama sangat perlu untuk bisa bekerja bersama, berkoordinasi,” jelas dia, seperti dirilis kemenag.go.id.
Ia menambahkan, Ekoteologi penting untuk memberikan pemahaman bahwa bencana tidak semata-mata dipandang sebagai azab atau musibah, tetapi sebagai pembelajaran bersama agar upaya pencegahan dapat dilakukan.
“Bencana bisa dikurangi, risiko bencana bisa dikurangi, ekoteologis adalah salah satu perspektif yang bisa masuk dalam pengurangan risiko bencana. Kebersamaan umat beragama memperkuat kemampuan kapasitas manusia Indonesia untuk bisa menanggulangi bencana secara bersama,” ungkapnya.
Senada dengan Victor, pendeta Johan Kristantoro yang mewakili Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) juga menyampaikan apresiasi kepada Kemenag atas peluncuran tiga karya strategis tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa PGI dilibatkan dalam proses penyusunan buku Ekoteologi, mulai dari diskusi hingga perumusan materi.
“Mari kita bersama-sama, walaupun kita berbeda-beda agama, berbeda-beda keyakinan, berbeda-beda suku dan lain sebagainya, tapi kita bisa satu di dalam membangun negeri ini khususnya dengan memajukan moderasi beragama dan membangun ekoteologi di Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu acara peluncuran buku dihadiri oleh sekitar 250 peserta, terdiri atas perwakilan Kementerian dan Lembaga, pengampu forum Sekretariat Bersama Moderasi Beragama, majelis-majelis agama, organisasi keagamaan, Chief Strategy Officer (CSO) yang bergerak di bidang lingkungan, perwakilan dari berbagai satuan kerja lingkup Kementerian Agama RI, dan unsur terkait lainnya. (HS-08)