HALO DEMAK – Para nutrisionis di Kabupaten Demak, mengajak para remaja putri dan calon ibu, untuk benar-benar memperhatikan pemenuhan gizi dirinya, termasuk harus mewaspadai gejala anemia.
Mereka juga dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan protein yang berasal dari hewan, antara lain dengan mengonsumsi ikan dan dagin.
Protein hewani ini penting, untuk mencegah anak yang dilahirkan mengalami stunting.
Pentinya upaya pencegahan stunting sejak perempuan masih remaja ini, disampaikan Nutrisionis Puskesmas Dempet, Dwi Purwanti dan Nutrisionis Puskesmas Bonang I, Canya Lalitasari, dalam talkshow di Studio RSKW 104.8 FM, Selasa (14/2/23).
Talkshow digelar dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional ke-63 tahun 2023, yang mengusung tema “Protein Hewani Cegah Stunting”. Ada dua slogan dalam peringatan kali ini, yakni “Protein Hewani Setiap Makan” dan “Isi Piringku Kaya Protein Hewani”.
Dalam kesempatan itu, Canya Lalitasari menyampaikan bahwa stunting dapat terjadi sejak anak belum lahir, dan angkanya naik tinggi pada rentang usia 6-24 bulan.
Stunting sebelum anak lahir sekitar 22 persen. Anak-anak itu lahir dengan kondisi sudah stunted, akibat ibu sejak remaja sudah mengalami kurang gizi dan anemia.
“Setelah lahir stunting meningkat signifkan pada usia 6-23 bulan, akibat kurang protein hewani pada makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI), yang mulai diberikan sejak usia 6 bulan,” kata dia, seperti dirilis demakkab.go.id.
Dia mengimbau untuk ibu hamil, agar memperhatikan beberapa hal agar kandungan terhindar dari anemia dan kurang gizi kronik.
“Selain melakukan Anc (antenatal care) selama kehamilannya, ibu perlu memperhatikan beberapa hal untuk menjaga kesehatannya dan janin yang ada di dalam kandungannya. Dengan demikian terhindar dari anemia dan kurang gizi kronik (KEK) yang dapat berakibat lahirnya Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau prematur serta terhindar dari berbagai penyakit lainnya,” kata dia.
Upaya pemenuhan gizi ini, antara lain dengan menambahkan porsi makanan utama atau mengonsumsi makanan selingan.
Selain itu makan beragam jenis bahan makanan, seperti makanan pokok, protein hewani, kacang-kacangan buah dan sayur.
Juga minum tablet tambah darah (TTD) selama kehamilan, minum cukup air putih 8- 12 gelas per hari atau lebih kurang 2-3 liter per hari.
“Kemudian menjaga kebersihan dirinya, mandi dan gosok gigi minimal dua kali sehari, serta menjaga aktifitas sehari-hari, cukup istirahat dan olahraga ringan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nutrisionis Puskesmas Dempet, Dwi Purwanti, juga menyampaikan bahwa kondisi tubuh anak yang pendek, sering dianggap sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya.
Hal itu membuat masyarakat umumnya hanya menerima, tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Padahal faktor genetik tersebut memberikan pengaruh sangat kecil.
“Genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya, bila dibandingkan dengan faktor perilaku lingkungan, seperti sosial, ekonomi, budaya, politik, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah,” kata Dwi Purwati.
Dalam talkshow tersebut diungkap pula bahwa peringatan Hari Gizi Nasional, dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia, untuk melakukan upaya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi seimbang pada anak.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Nasional (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia di angka 21,6%.
Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 24,4%. Walaupun menurun, angka tersebut masih tinggi, mengingat target prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14% dan standard WHO di bawah 20%.
Sejak tahun 2018 Pemerintah Indonesia melaksanakan Percepatan Penurunan Stunting dengan target prevalensi sebesar 14% pada tahun 2024. Artinya, dalam 2 tahun ke depan prevalensi harus diturunkan sebesar 10,4% poin.
Pemerintah telah menerbitkan Perpres 72 Tahun 2021 sebagai payung hukum dan acuan bersama dalam pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting.
Perpres 72/2021 memberikan penguatan pada aspek kelembagaan, intervensi, pendanaan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program. (HS-08)