in

Calon Pengantin di Semarang Terancam Batal Nikah, Gara-garanya Wedding Organizer Diduga Gelapkan Dana Resepsi

Foto ilustrasi pernikahan.

HALO SEMARANG – Calon pengantin di Kota Semarang terancam harus batal menggelar resepsi pernikahan karena pihak Wedding Organizer (WO) diduga menggelapkan dana resepsi. Pihak WO yang dikelola oleh pria berinisial TP alias A ini diduga membawa kabur dana dari sejumlah korban yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Salah satu korban bernama Indra Sutiyarso. Dia mengaku akibat ulah WO itu, dirinya harus merugi hingga Rp 79 juta. Saat dikonfirmasi, warga Pedurungan, Kota Semarang ini menjelaskan rencananya pernikahan ini akan digelar pada 24 Juni 2023 mendatang. Sejumlah persiapan hingga mencari vendor untuk mengurus acara pernikahan pun sudah dilakukan sejak tahun 2022.

Lalu pada pertengahan tahun kemarin, dirinya dan kekasihnya mulai mencari WO di media sosial (medsos). Dan pada November 2022, dirinya menemukan WO yang dikelola oleh pria berinisial TP. Akhirnya mereka serta orang tua sepakat menggunakan jasa WO tersebut.

“Akhirnya mencari WO di Instagram dan melihat WO milik saudara TP,” ujarnya, Kamis (1/6/2023).

Ketika mendapat WO ini dia mengaku tak merasa curiga karena ulasan di media sosial bagus. Selain itu penampilan TP juga cukup meyakinkan.

“Selain itu, ada teman saya yang pernah pakai WO itu dan katanya bagus. Jadinya saya pakai,” terangnya.

Setelah berkomunikasi dengan TP, nominal kesepakatan penyelenggaraan acara pernikahan mencapai Rp 153 juta. Jumlah tersebut juga sudah tertera dalam kesepakatan tertulis sesuai hukum perdata.

“Setelah kesepakatan nominal, saya bayar termin pertama sekitar Rp 46 juta. Dengan maksud agar WO itu perlahan bisa membayar DP vendor lain yang terkait seperti katering dan lain-lain,” paparnya.

Akan tetapi, setelah memasuki 2023, kejanggalan WO mulai nampak. TP selaku penanggungjawab vendor resepsi pernikahan itu jarang memberi kabar progress acara pernikahan.

“Dia slow respon banget. Jarang memberi kabar. Kalau enggak saya tanya, enggak ngasih kabar apapun,” bebernya.

Kecurigaan pun semakin nyata. Pihak katering yang rencananya akan digandeng TP mengaku belum menerima uang tanda jati.

“Katering ini dengan orang tua saya kenal. Ternyata nama saya tak tercatat di katering yang biasa bekerja sama dengan WO milik TP,” jelasnya.

Setelah mendapat kabar tersebut, Indra akhirnya menghubungi TP dan memintanya agar biaya untuk pesan katering dikembalikan dan ada penghitungan ulang soal biaya.

Lalu pada April 2023 dia membayar uang tanda jadi kedua sesuai kesepakatan. Dia membayar uang sekitar Rp 33 juta. Usai adanya pembayaran kedua, kata dia, TP juga jarang memberi kabar progres rencana resepsi pernikahan.

“Ditelepon tidak respon. Dichat juga tak ada balasan. Handphonenya mati. Semakin emosi, ketika 22 Mei 2023 kemarin. Saya kroscek ke vendor-vendor, ternyata ada yang sudah dapat uang DP dan ada yang belum. Lalu ada vendor yang bilang kalau TP menghilang dan tak bisa dihubungi,” bebernya.

Dirinya kemudian menghubungi dua orang anggota tim WO TP. Dua orang ini meyakinkan ke Indra, bahwa TP memang menghilang dan tak dapat dihubungi. Tak ingin uangnya raib, dia berusaha mendatangi alamat rumah TP di Dadapsari, Semarang Utara.

“Di sana hanya ada keluarga TP. TP tidak di rumah. Keluarga malah pasrah TP mau diapakan akibat ulahnya,” imbuhnya.

Tak lama kemudian dia juga diinvite di grup korban WO dari TP yang berjumlah 13 orang. Melalui grup tersebut banyak korban yang listing soal kerugian yang mencapai Rp 1 miliar. Indra mengaku sudah mengadukan kasus ini ke Polda Jateng. Ia menuturkan polisi masih menyelidiki kasus ini.

“Di grup itu banyak yang list sampai Rp 1 miliar yang sudah diberikan ke TP,” imbuhnya.(HS)

Peringati Harlah Pancasila, Wali Kota Semarang Sebut Warga Hidup Rukun dalam Keberagaman

Garuda Select Gelar Seleksi Pemain Jawa Tengah di Kendal