in

Bupati Kudus Lepas Peserta Laku Banyu Penguripan

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris melepas peserta Laku Banyu Penguripan, yang menjadi rangkaian peringatan Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, belum lama ini. (Foto : kuduskab.go.id)

 

HALO KUDUS – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyebut Pemkab Kudus terus mendukung pelaksanaan tradisi Laku Banyu Penguripan, yang telah digelar untuk kelima kalinya.

Hal itu disampaikan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, ketika melepas peserta Laku Banyu Penguripan, yang menjadi rangkaian peringatan Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, belum lama ini.

Kegiatan diawali dari Pendapa Kabupaten Kudus dan berakhir di kawasan Menara Kudus.

“Pemkab Kudus mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini. Ini pelaksanaan yang kelima kali, kita uri-uri,” kata dia, seperti dirilis kuduskab.go.id.

Dalam sambutannya, Bupati Sam’ani mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran kegiatan tersebut.

“Tadi Maghrib gerimis, Alhamdulillah sudah reda. Tanda bahwa kegiatan ini diridai oleh Allah,” kata dia.

Bupati menyebut, tradisi ini tidak hanya menjadi ritual budaya dan religi, tetapi juga memberi nilai tambah bagi daerah.

“Semoga kegiatan hari ini berjalan baik dan lancar, serta bisa menjadi kekuatan destinasi pariwisata dan budaya di Kabupaten Kudus,” lanjutnya.

Ketua Panitia Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Abdul Jalil menjelaskan bahwa prosesi ini dimaksudkan untuk menghayati kembali perjalanan spiritual Sunan Kudus dan para santrinya.

“Kita sedang memprosesikan situasi 491 tahun yang lalu, menghayati apa yang dilakukan oleh Sunan Kudus dan para santrinya. Pilihan kata laku, menggantikan kirab, menunjukkan bahwa lahirnya Kudus didasari oleh laku batin, tirakat, dan doa,” jelasnya.

Pihaknya menambahkan, air yang digunakan dalam prosesi berasal dari berbagai sumber, baik dari dalam maupun luar Kudus.

“Penggunaan air berasal dari 554 punden dan belik se-Kabupaten Kudus, ditambah air dari Wali Songo, Sultan Fatah, Ibrahim Asmorokondi, dan disempurnakan dengan air zamzam,” sebutnya.

Terakhir, Jalil menyebut bahwa penggunaan obor bukan hanya pelengkap seremoni, tapi memiliki makna filosofis mendalam akan pengharapan Kudus yang lebih baik.

“Penggunaan obor didasarkan pada Al-Qur’an yang mengisahkan Nabi Musa yang mendapatkan petunjuk dari titik api, dengan harapan dari titik api atau obor yang dibawa peserta, Kudus yang lebih baik akan muncul,” kata dia. (HS-08)

Pemprov Jateng Bersiap Tancap Gas Serap APBD 2026

1.350 Eksemplar Kalender Dibagikan pada Wredatama Blora, Ketua PWRI Jateng Sebut Bantu Merencanakan Masa Depan