HALO BANJARNEGARA – Gelaran Dieng Culture Festival (DCF), bagi warga setempat, bukan sekadar perayaan pariwisata tahunan, melainkan ruang edukasi untuk meluruskan pandangan sebagian masyarakat, terhadap tradisi anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng.
Keberadaan anak-anak berambut gimbal, merupakan keberkahan dan warisan budaya yang memiliki nilai historis spiritual yang mendalam.
Hal itu diungkapkan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pandawa Dieng, Alif Fauzi, terkait pelaksanaan tradisi mencukur rambut gimbal.
Menurut dia, fenomena rambut gimbal erat kaitannya dengan asal-usul Dieng yang dipercaya sebagai kawasan suci para dewa, yang berasal dari bahasa sansekerta, yakni Di Hyang.
“Rambut gimbal bukan kutukan, ini adalah keberkahan yang harus kami tunjukkan lewat event ini. Dieng berasal dari kata Di Hyang, tempat para dewa atau kayangan. Melalui ruwatan cukur rambut gimbal di DCF, kita ingin membuka pikiran banyak orang. Anak-anak berambut gimbal ini dianggap sebagai titisan pendiri Dieng, jadi tidak pas rasanya kalau ini dianggap kutukan,” kata dia, baru-baru ini, seperti dirilis banjarnegarakab.go.id.
Alif menambahkan, keberagaman budaya lokal merupakan daya tarik utama dalam industri pariwisata kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Mengangkat tradisi ruwatan rambut gimbal ke dalam agenda rutin DCF menjadi langkah nyata untuk memperkenalkannya secara terhormat kepada dunia luar.
”Kami sebagai orang Dieng meyakini budaya apapun menjadi pembelajaran dan magnet terbesar. Di dunia pariwisata ada ungkapan, sesuatu yang biasa bagi kita bisa jadi luar biasa bagi orang lain. Atas dasar itulah kami menyelenggarakan Dieng Culture Festival ini,” kata dia.
Melalui event tahunan ini, Pokdarwis Pandawa Dieng berharap para wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam dan pertunjukan seni, tetapi juga pulang dengan pemahaman mendalam mengenai kekayaan tradisi serta kearifan lokal masyarakat Dieng.
Prosesi cukur rambut gimbal di Komplek Candi Arjuna pada DCF 2026 juga menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Majina dari Kazakstan turut menyaksikan ruwatan tersebut mengaku kagum akan budaya serta tradisi yang ada di Dieng ini. Tradisi tersebut sangat autentik karena menjunjung nilai-nilai leluhur dan kearifan lokal.
“Ini sangat luar biasa. Budaya dan tradisi di sini dikemas sangat menarik melalui event seperti DCF ini. Jujur saya terkesan,” katanya
Banyak hal yang bisa dipelajari dari Dieng. Ia juga berniat akan membawa pulang cerita ke kampung halamannya dan suatu saat nanti bisa kembali lagi ke Dieng bersama keluarga atau teman-temannya.
“Lain kali saya akan ke sini lagi bersama keluarga atau teman,” ujarnya. (HS-08)


