Banyak Limbah Kayu, Warga Desa Guli Hasilkan Barang Bermanfaat

Usaha kerajinan dari limbah kayu di Desa Guli, Kecamatan Nogosari. (Foto : Boyolali.go.id)

 

HALO BOYOLALI – Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan warga Desa Guli, Kecamatan Nogosari, untuk berkreasi menghasilkan produk bermanfaat.

Mereka yang sehar-hari memproduksi meubel atau kerajinan dari kayu, kemudian memanfaatkan limbah kayu dari produksi meubel. Beragam produk pun dihasilkan, seperti kotak jam, nampan, tepak, atau pot bunga.

“Ada limbah kayu. Ini kalau mau dipoles, bisa memberikan nilai lebih,” ungkap Kepala Desa Guli, Eko Fahrudin, Kamis (25/3), seperti dirilis Boyolali.go.id.

Dari 6.500 warga di desa, terdapat karang taruna yang akan diberikan pelatihan dan pendampingan kerajinan limbah kayu dan akan berupaya untuk memasarkan produk.

“Dari pendampingan sendiri membantu pemasaran mencarikan vendor untuk calon pembeli. Nanti kita tinggal menciptakan atau memproduksi sesuai yang diharapkan. Harapannya juga nanti akan memberikan pendapatan buat kelompok atau juga anggota kelompok,” lanjutnya.

Salah satu pengrajin limbah kayu, Dwi Maryanto mengaku produksi limbah kayu yang dihasilkan, mampu menambah pendapatan, karena harga jual produk lebih tinggi, jika dapat dikreasikan dengan berbagai bentuk.

Diakuinya, limbah kayu yang berasal dari kayu jati tersebut, mampu menambah harga jual. Seperti contohnya nampan atau tepak yang dijual dengan harga Rp 25.000 dari harga Rp 15.000.

“Pot bunga itu sekitar Rp 50.000 mentah, finishing harga Rp 90.000-100.000,” ujarnya

Dia mengaku dalam sehari mampu memproduksi kotak jam sebanyak 1.000 hingga 2.000 buah yang sudah dipesan dari luar daerah. Untuk pot bungga, pihaknya mampu memproduksi 20 buah setiap hari. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.