in

Balai Desa Tunggulsari Disegel Warga, Kepala Dispermasdes Kendal : Pelayanan Tetap Berjalan

Balai Desa Tunggulsari Kecamatan Brangsong Kendal yang disegel warga, meminta pertanggung jawaban kepala desa terkait izin pertambangan di desanya.

HALO KENDAL – Pascaaksi unjukrasa warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal dengan mendatangi rumah kepala desanya, Kamis malam (18/9), kemudian dilanjutkan dengan aksi di balai desa setempat pada Jumat pagi (19/9), warga akhirnya melakukan penyegelan kantor balai desa hingga Senin (22/9/2025).

Terpantau, pintu Balai Desa Tunggulsari disegel dengan menggunakan lakban, tali rafia dan daun pisang, serta ditempeli kertas bertuliskan “Balai Desa Disegel Warga”.

Penyegelan dilakukan, karena warga merasa geram atas tindakan kepala desa (kades) yang tidak memberikan konfirmasi kepada warga, saat dimintai pertanggung jawaban terkait dugaan keluarnya surat susulan yang menolak hasil musdes, bahkan diduga juga menyetujui galian C dan siap menjaga kondusifitas warga.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Kabupaten Kendal, Yanuar Fatoni menjelaskan, warga yang menginginkan Kades Tunggulsari untuk mundur dapat membuat surat tertulis terkait kesalahan-kesalahan yang dilakukan dan dilaporkan kepada Bupati Kendal.

“Kalau melihat tuntutan warga yang menginginkan Kades Tunggulsari untuk mengundurkan diri kita kembalikan kepada beliau. Kalau beliau ingin mengundurkan diri secara baik-baik monggo. Tapi kalau beliau tidak mau mundur, jika ada kesalahan-kesalahan, silahkan dilaporkan secara tertulis kepada bupati agar segera diproses oleh Inspektorat. Karena kalau secara lisan kita tidak ada dasar untuk menindaklanjuti,” ujarnya.

Terkait kantor balai desa yang disegel warga, Yanuar juga menyarankan agar aktivitas dan pelayanan di desa tersebut tetap berjalan, dan perangkat desa dapat melakukan secara Work From Home (WFH)

“Kalau di birokrasi ada WFH itu bisa diterapkan. Artinya pelayanan di rumah karena balai desanya disegel dari pada memaksakan diri berkantor di balai desa karena situasinya sedang tidak kondusif,” pungkasnya.

Sementara Koordinator Aliansi Peduli Lingkungan Hidup Tunggulsari, Ahmad Faris Ahkam, Selasa (23/9/2025) mengaku, Kepala Desa Abdul Khamid sudah menemui di rumahnya dan meminta maaf.

“Tadi pagi ke rumah saya minta maaf dan siap mundur dari tim tambang. Setelah itu keluar desa lagi,” ujarnya. (HS-06)

Pemkot Semarang Perluas Penerima Bisyarah: Guru Agama, Pendidik Pos PAUD, Marbot, dan Perawat Jenazah Mendapat Perhatian Lebih

Program BGN, Santri di Kendal Terima Makanan Bergizi