in

Badan Geologi Minta Warga Tak Panik Sikapi “Gunung Baru” Bleduk Kramesan di Grobogan

Gunung lumpur baru di Dusun Medang, Sendangrejo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan. (Foto : esdm.go.id)

 

HALO GROBOGAN – Kemunculan “gunung baru” di Dusun Medang, Sendangrejo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, setelah gempa Bawean, sempat menimbulkan  kehebohan.

Namun Badan Geologi menyebut fenomena alam yang nampaknya luar biasa tersebut, justru merupakan peristiwa lumrah dan tak perlu menimbulkan kepanikan.

Dalam rilis yang disampaikan melalui esdm.go.id, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid, menyebutkan, gunung lumpur, semacam Bleduk Kramesan di Grobogan itu, merupakan fenomena yang sudah ada sejak lama.

Dia menyebut beberapa naskah sejarah dari kerajaan-kerajaan di Jawa, juga  telah menyebutkan adanya mud volcano atau gunung api lumpur ini.

Tak jauh dari Bleduk Kramesan, yakni sekitar 3,4 kilometer, juga terdapat gunung lumpur serupa, yakni Bleduk Kuwu.

Menurut Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), dalam iagi.or.id, menyebutkan belum ada penelitian yang memastikan kapan terjadinya Bledug Kuwu ini.

Namun fenomena Bludug Kuwu ini  masuk ke dalam legenda lokal ketika Ajisaka mulai datang ke Jawa Tengah bagian utara, yaitu pada abad ke delapan.

Dalam legenda, disebutkan anaknya yang bernama Joko Linglung, merupakan seekor naga bawah tanah yang muncul ke permukaan dan masuk kembali ke dalam tanah, bekas lubangnya menyisakan semburan lumpur panas.

Dari legenda tersebut, diduga umur terjadinya Bledug Kuwu sekitar 1.300 tahun lalu

Kembali ke Bleduk Kramesan, mud volcano ini memiliki ketinggian 25 meter dari permukaan tanah.

Bledug-bledug ini adalah material dari mud diapir yang lolos ke permukaan melalui rekahan-rekahan maupun struktur sesar.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid, juga mengatakan area terjadinya Bledug Kramesan dan Bledug Kuwu pada umur Paleogen (42 juta tahun lalu) adalah termasuk dalam Pati Through.

Secara fisiografis, ini termasuk pegunungan lipatan pada Zona Rembang, yang memanjang ke arah dari Kota Purwodadi ke timur, melalui Blora, Jatirogo, Tuban, sampai Pulau Madura.

“Batuan yang diendapkan pada zona ini setelah mengalami burial dan kompresi akan membentuk mud diapir, yang terdiri atas material halus, yang dapat lolos ke permukaan, melalui rekahan-rekahan dan struktur geologi yang ada,” ujar Wafid di Bandung, belum lama ini.

Dengan adanya gempa, seperti yang ada terjadi baru-baru ini di dekat Bawean, kemungkinan membuka rekahan-rekahan bumi, sehingga dapat dilalui material lumpur.

Dengan adanya tekanan gas yang besar, lumpur tersebut akan naik melalui rekahan-rekahan tersebut, sehingga akan memunculkan letupan-letupan.

Badan Geologi meminta masyarakat di sekitar area Bledug Kuwu dan Bledug Kramesan tidak perlu merasa panik dan agar supaya tidak mempercayai berita-berita yang tidak bertanggung jawab, serta tidak jelas dasar keilmuannya, sehingga dapat memberikan penafsiran yang beraneka macam.

Badan Geologi akan terus memonitor perkembangan fenomena alam ini.

“Fenomena terjadinya Bledug Kramesan di daerah Grobogan tersebut bukanlah suatu fenomena yang luar biasa. Apalagi tidak jauh dari Bledug Kramesan terdapat Bledug Kuwu yang secara umum sudah diketahui oleh publik sebagai fenomena mud volcano (gunung lumpur) yang sudah berlangsung selama puluhan tahun,” kata Wafid.(HS-08)

Polda Jateng Gagalkan Peredaran Bubuk Mercon Seberat 10 Kilogram di Kebumen

Wujud Toleransi, Polres Grobogan Bersama Jemaat Gereja Bagikan Takjil untuk Umat Islam