
HALO SEMARANG – Perayaan Hari Raya Idul Fitri identik dengan adanya ketupat, opor dan sambal goreng. Namun tidak hanya itu saja, petasan juga menjadi bagian dari tradisi sebagian masyarakat saat menyambut Lebaran.
Pada Hari Raya Idul Fitri 1442 H ini, peristiwa ledakan petasan yang berujung maut terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah, salah satunya di Desa Ngabean Kecamatan Mirit, Kebumen, Jawa Tengah yang merenggut empat korban jiwa, Rabu (12/5/2021).
“Sangat prihatin melihat petasan yang sampai besar meledak seperti itu,” kata Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Umar Utoyo kepada halosemarang.id, Jumat (14/5/2021).
Umar mengaku prihatin terhadap peristiwa di hari kemenangan ini. Menurutnya, pemerintah telah gencar melakukan sosialisasi untuk melarang petasan.
“Larangan itu sudah dari dulu bahkan sudah ada besar-besaran penyitaan petasan ternyata masih ada juga,” terangnya.
Dikatakan Umar, petasan telah menjadi tradisi yang melekat saat Lebaran. Akan tetapi, lanjutnya, yang terjadi hingga meledak seperti di Kebumen bukan termasuk tradisi.
Belajar dari peristiwa ini, dirinya mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk tidak menyulut petasan dengan ukuran yang berlebihan.
“Seharusnya ini tidak terjadi, sudah kita larang tidak mudik supaya Covid-19 tidak naik malah ada kecelakaan lain,” ujarnya.
Supaya tidak ada peristiwa seperti ini lagi, Umar meminta kepada pemerintah bersama pihak berwajib untuk gencar melakukan sosialisasi larangan menyulut petasan.
“Ke depannya harus sosialisasi lebih kencang lagi larangannya itu,” tegasnya.
Politikus Partai Gerindra ini juga mengajak masyarakat agar terus menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan ketat. Selain itu, dia meminta masyarakat untuk patuh akan larangan mudik Lebaran tahun ini.
“Sebaiknya larangan mudik juga dipatuhi dan tetap menegakkan protokol kesehatan, karena ada kasus di beberapa tempat agak meningkat,” tutup Umar.(HS)