in

PHDI Kota Semarang: Pembangunan Fisik Krematorium Kerja Sama Pemkot Semarang Baru Capai 20 Persen

Ketua PHDI Kota Semarang, Nengah Wirta Dharmayan, saat diwawancarai awak media, beberapa waktu lalu.

HALO SEMARANG – Perkembangan pembangunan krematorium yang dilakukan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang saat ini telah dalam tahap pengerjaan fisik. Hingga sekarang pembangunannya baru mencapai 20 persen dari keselurahan pembangunan.

Ketua PHDI Kota Semarang, Nengah Wirta Dharmayan mengatakan, selama ini Pemkot Semarang belum memiliki tempat kremasi sendiri. Nantinya, krematorium tersebut diperuntukan tidak hanya untuk umat Hindu yang meninggal dunia namun umat lainnya, masyarakat umum seperti umat Buddhis dan Konghucu yang dikremasi.

“Pekerjaan fisiknya saat ini sudah berjalan mencapai sekitar 20 persen. Baru berupa gedung, nantinya untuk menempatkan alat krematorium, sedangkan bangunan pendukung yang lainnya belum dibangun,” imbuhnya, Selasa (2/5/2023).

Ditambahkan dia, dalam pembangunan krematorium PHDI dibantu Pemkot Semarang yang menyediakan lahannya. Sedangkan fisik sendiri dilakukan oleh PHDI. “Kami diberikan lahan hibah dari Pemkot Semarang melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk dibangun kreamatorium. Nantinya kalau sudah jadi pengelolaannya dikerja samakan dengan Pemkot Semarang,” paparnya.

Rencananya, pembangunan dilaksanakan secara bertahap mengingat membutuhkan anggaran yang cukup besar. “Nanti dibangun secara bertahap karena butuh anggaran cukup besar. Jadi tidak ada target penyelesaian sampai beberapa tahun ke depan, belum ada target,” jelasnya.

Selain gedung, nantinya juga dilengkapi dengan sistem sanitasi, berupa kamar mandi dan toilet.

Umumnya selama ini, jika ada umat Hindu yang meninggal dunia, lanjut dia, dibawa ke Bali untuk dikremasikan. Dijelaskan dia, sebelumnya bahwa bangunan krematorium rencananya menempati lahan seluas 3.800 meter persegi di Area Pemakaman Kedungmundu 3, tepatnya dibelakang krematorium yang sudah ada saat ini.
Nantinya terdiri ruang kremasi satu tempat, kemudian ada Balai Wantilan yaitu ruang terbuka seperti pendopo.

“Pendopo itu manfaatnya bagi umat Hindu jika ada yang meninggal tidak harus langsung dikremasi, tapi menyiapkan sarana prasarana. Biasanya diberi waktu selama dua sampai tiga hari. Jenazah bisa disemayamkan terlebih dulu di Balai Wantilan. Kemudian saat pelaksanaan kremasi para takziyah dapat berteduh di situ,” katanya.

Kemudian juga ada satu lagi ruang sebagai Prajipati, yakni yang digunakan untuk laporan kepada alam semesta dengan melakukan pembakaran jenazah.

“Selain itu, di area tersebut juga disediakan lahan untuk pemakaman. Karena ada umat Hindu yang tidak dibakar, misalnya anak yang belum lepas gigi bayi, seperti disebabkan ada mis kram, sehingga harus dikubur sementara di sana. Sampai dengan waktunya biasanya sebelum upacara Ngaben. Dengan luasan areanya 5 x 5 meter,” jelasnya.

Area pemakaman untuk umat Hindu, diharapkan didesain sekaligus dapat sebagai wahana edukasi upacara Ngaben. “Bisa dijadikan objek wisata baru. Kami dari umat Hindu juga berterima kasih kepada Pemkot Semarang yang memperhatikan warganya,” imbuhnya.(HS)

Dukung Program Pemerintah Pusat, Mbak Ita Resmikan SPKLU di Balai Kota Semarang

Meriah, 11.476 Peserta Ikut Joged Semarangan Bersama Wali Kota Semarang