HALO JEPARA – Budaya literasi adalah sebuah keharusan dan sangat penting untuk menangkal berita hoax. Dengan memiliki literasi yang cukup, orang akan memahami dan dapat membedakan berita yang benar atau tidak benar.
Hal itu disampaikan Kabid Komunikasi Diskominfo Jepara, Muslichan, saat menjadi narasumber, dalam dialog interaktif di LPPL Radio Kartini FM Jepara, baru-baru ini.
Selain Muslichan, hadir sebagai narasumber dalam dialog interaktif tersebut, budayawan Udik Agus DW dan penulis Sunardi KS.
Dialog yang mengangkat tema “Menumbuhkan Budaya Literasi dalam Rangka Memerangi Hoax” tersebut, dipandu Kepala Diskominfo Jepara, Arif Darmawan.
“Hoax ini sangat berbahaya, bahkan bisa mengancam keberlangsungan sebuah bangsa. Misalnya ketika hoax dibagikan bertubi-tubi secara masif dari berbagai sendi kehidupan berbangsa, terutama ketika menyerang ideologi,” kata Muslichan, seperti dirilis jepara.go.id.
Sementara itu menurut Udik Agus DW, literasi secara sederhana adalah sebuah kemelekan. Menurut Udik, kita harus melek akan informasi yang ada saat ini. Hal tersebut agar kita tidak “digulung” dengan informasi.
“Berdasarkan survey di tahun 2016, terdapat sekitar 43 ribu situs mengaku sebagai portal berita, sedangkan yang terverifikasi pada saat itu hanya kisaran 300 situs,” kata Udik.
Peluang seseorang mendapatkan berita hoax cukup tinggi. Apabila terdapat informasi yang tidak benar disampaikan berulang-ulang akan dianggap menjadi sebuah kebenaran. Hal itulah yang membuat literasi begitu penting.
“Hoax memiliki tujuan utama menyesatkan, sedangkan opini memiliki tujuan untuk menjelaskan dari sudut pandang seseorang,” jelas Udik mengenai hoax secara sederhana.
Pada kesempatan ini, Sunardi menjelaskan perbedaan informasi yang ada saat ini dengan informasi di zaman dulu.
“Informasi yang ada saat ini jauh berbeda dengan informasi di zaman dulu,” kata Sunardi.
Pada zaman dulu, menurutnya berita yang dicetak di koran sudah terverifikasi.
“Sedangkan saat ini sangat banyak informasi yang bisa didapatkan dengan mudah melalui internet, tanpa diketahui kebenarannya,” kata dia. (HS-08)