in

Meski Ada yang Turun, Harga Obat-Obatan Pertanian Dinilai Masih Tinggi

Salah satu penjual obat-obatan pertanian di Kendal.

HALO KENDAL – Obat pertanian di Kabupaten Kendal seperti Roundup dan Gramoxone pada bulan Oktober ini mengalami penurunan harga. Meski begitu, harga dinilai masih tinggi.

Hal tersebut disampaikan Abdul Ghofur, pemilik toko obat pertanian di Desa Wonosari, Kecamatan Patebon.

Menurutnya harga obat pertanian saat ini masih terlalu tinggi. Sehingga sulit bagi petani bisa menghasilkan untung yang lumayan. Bahkan petani bisa rugi, ketika harga panen anjlok.

“Kasihan petani, harga obat-obat pertanian sudah terlalu tinggi, tapi karena butuh ya tetap dibeli,” ujar Ghofur, Jumat (28/10/2022).

Dia mengaku, di tokonya jenis obat pertanian yang harganya turun hanya Marxone, turun cukup banyak menjadi Rp 65 ribu – Rp 70 ribu.

“Dari harga sebelumnya Rp 80 – Rp 90 ribu per liter. Namun sebelum krisis perang Rusia, harganya hanya Rp 60 ribu per liter,” ungkap Ghofur.

Sedangkan obat Gramoxone hanya turun lima ribu, dari Rp 95 ribu menjadi Rp 90 ribu per liter.

Padahal, sebelum krisis perang Rusia, harga obat Gramoxone hanya Rp 65 ribu per liter.

“Harapannya, jenis obat dan pupuk pertanian lainnya juga turun, seperti Tuntas dan Roundup, agar biar biaya produksi tidak terlalu tinggi,” imbuh Ghofur.

Hal yang sama disampaikan pemilik toko obat pertanian di Kelurahan Kebondalem Kendal, Haji Sadat.

Ia mengatakan, sementara ini obat pertanian yang turun harga hanya dua jenis, yakni Roundup dan Gramoxone.

“Sedangkan jenis obat lainnya masih stabil di harga yang cukup tinggi,” kata Sadat.

Dijelaskan, harga obat Roundup sebelumnya Rp 125 ribu, sekarang turun menjadi Rp 108 ribu per liter.

Namun menurut Sadat, sebelum terjadi krisis perang Rusia, harganya sekitar Rp 71.500 per liter.

“Sehingga harga sekarang masih terlalu tinggi,” ujarnya.

Sedangkan untuk harga obat Gramoxone yang sebelum krisis Perang Rusia hanya Rp 67 ribu, kemudian naik menjadi Rp 105 ribu per liter.

“Sekarang turun menjadi Rp 85 ribu per liter. Harganya juga masih terlalu tinggi,” imbuh Sadat

Dirinya juga mengungkapkan, harga obat dan pupuk nonsubsidi saat ini masih terlalu tinggi bagi petani.

“Ya kalau bisa ya turun lagi dan bisa diikuti oleh jenis obat pertanian lainnya,” harap Sadat.

Sementara menurut Tukiman, petani di Desa Bulugede, Kecamatan Patebon, harga obat dan pupuk nonsubsidi terlalu tinggi.

Contohnya harga Poska sekarang masih Rp 200 ribu, padahal dulunya sekitar Rp 160 ribu.

Demikian pula untuk harga TS, sekarang masih Rp 210 ribu, padahal dulunya hanya Rp 150 ribu.

“Harga obat pertanian sangat tinggi, jadi ibaratnya petani berangkat ke sawah tiap hari, tapi tidak ada hasilnya,” ungkapnya.

Tingginya harga obat pertanian dan pupuk nonsubsidi yang terlalu tinggi, membuat petani tidak bisa untung yang lumayan. Apalagi jika harga panen anjlok, mak akan merugi. (HS-06)

Cuma Petarung Ini yang Bisa Saingin Makhachev

Lantik 18 Pejabat Administrasi, Sekjen Kemenag: Jangan Sewenang-wenang !