in

Perlunya Inovasi untuk Tingkatkan Kualitas Pembangunan di Jawa Tengah

Kepala Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jawa Tengah, AR Hanung Triyono saat menjadi pembicara Seminar Teknologi Inovasi Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro di Hotel Padma Kota Semarang, Kamis (20/10/2022).

HALO SEMARANG – Total pemeliharaan jalan di wilayah Jawa Tengah mencapai 2.404 Km di tahun ini, sementara untuk peningkatan kualitas jalan ada sekitar 10 Km. Untuk menjaga kualitas infrastruktur di Jateng agar tetap bagus, Pemprov Jateng tak alergi dengan inovasi metode serta bahan material.

Kepala Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jawa Tengah, AR Hanung Triyono menyampaikan, inovasi itu diperlukan untuk memberikan hasil yang terbaik pada pembangunan. Apalagi panjang jalan milik Pemprov Jateng sebanding dengan beban pemeliharaan yang mesti dilakukan tiap tahun.

Pemprov Jateng telah mencoba berinovasi dengan penggunaan serat baja untuk pembangunan infrastruktur di Demak – Godong (Kabupaten Grobogan). Termasuk dalam penggunaan semen Non OPC (Non-Ordinary Portland Cement) yang dinilai lebih ramah lingkungan dan mendukung pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

“Sebenarnya banyak spesifikasi yang mengarah ke sana. Namun memang harus ada acuan (regulasi). Kita dorong untuk itu, kalau hasilnya bagus kenapa tidak?” kata Hanung di sela-sela Seminar Teknologi Inovasi Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro di Hotel Padma, Kota Semarang, Kamis (20/10/2022).

Hadir sebagai nara sumber lainnya adalah Kepala Satker Jalan Tol Semarang – Demak, Yusrizal Kurniawan; Chairperson GBC Indonesia, Iwan Prijanto dan Ketua HAKI, Prof Iswandi Imran. Acara dibuka oleh Ketua Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Dr Jati Utomo Dwi Hatmoko. Perihal inovasi, Hanung menekankan pada kualitas, efisiensi waktu dan harga serta regulasi.

Ketua Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Dr Jati Utomo Dwi Hatmoko menyampaikan, konsep konstruksi infrastruktur berkelanjutan yang ramah lingkungan, selaras dengan fokus Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Undip.

“Kami di departemen Teknik sipil mengembangkan riset-riset yang sesuai dengan prinsip-prinsip konstruksi berkelanjutan, baik dari sisi aspek material, teknologi pelaksanaan konstruksi, sampai digitalisasi kontruksi melalui implementasi Building Information Modeling,” katanya.

Pemerintah juga telah mendukung konsep infrastruktur berkelanjutan dan ramah lingkungan melalui Peraturan Menteri PUPR Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan. Bahwa konstruksi berkelanjutan harus memenuhi prinsip berkelanjutan pada seluruh sumber daya dan siklus hidup bangunan gedung dan/atau bangunan sipil.

Sementara dari sisi bahan baku, Kementerian PUPR juga telah menerbitkan regulasi penggunaan semen non-OPC melalui Instruksi Menteri PUPR No.04/2020 tentang Penggunaan Semen Non-Ordinary Portland Cement pada Pekerjaan Konstruksi di Kementerian PUPR.

Sementara Chairperson GBCIndonesia, Iwan Prijanto juga memaparkan mengenai tantangan serta peluang dari pendekatan perencanaan konstruksi untuk melestarikan sumber daya bagi generasi mendatang.

Semen Ordinary Portland Cement (OPC) atau yang juga dikenal dengan portland tipe I adalah jenis semen yang umumnya terdiri dari 3 bahan dasar utama pembentuk semen yaitu klinker/terak (88-95%), gypsum (sekitar 5%, sebagai zat pelambat pengerasan), dan material ketiga, seperti batu kapur, pozzolan, abu terbang, dan lain-lain (tidak lebih dari sekitar 3 %).

Maka dari itu, bahan baku yang ramah lingkungan, salah satunya semen non-OPC, menjadi sangat penting dalam mendukung implementasi konstruksi infrastruktur yang berkelanjutan.

Semen non-OPC sendiri adalah semen yang direkayasa sedemikian rupa sehingga jumlah klinker yang dihasilkan menjadi jauh lebih sedikit. Kandungan CO2 yang dihasilkan dalam proses pembuatan semen ini menjadi jauh lebih kecil, namun pengurangan jumlah klinker dilakukan tanpa mengubah sifat fisika dan hasil semen itu sendiri. Kualitas kekuatan semen akan tetap baik.(HS)

Tergoda Surat dari Siswa, Ganjar Datangi Langsung SDN 3 Sugihan

Hadiri Peresmian Perusahaan di KIK, Ini Harapan Bupati Kendal