HALO KENDAL – Pemerintah rencananya akan mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis pertalite dan solar, pada hari ini, Rabu (31/8/2022).
Dari berbagai sumber, kenaikan harga solar kemungkinan menjadi Rp 8.500 per liter, sedangkan untuk pertalite, harga naik menjadi Rp 10.000 per liter.
Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut mendapat reaksi dari masyarakat di Kabupaten Kendal.
Seperti diungkapkan Adrian (27) warga Kota Kendal, dirinya mengeluarkan biaya sebesar Rp 25 ribu untuk BBM pertalite setiap gbb hari sekafselalu li untuk sepeda motor.
Dengan adanya rencana kenaikan harga pertalite ini, dirinya mengaku keberatan. Karena pengeluarannya meningkat dari sebelumnya.
“Kalau naik harga pertalite bisa-bisa keluar biaya hingga Rp 35 ribu. Tentu ini sangat berat bagi kami yang berpenghasilan rendah,” ungkapnya, Rabu (31/8/2022).
Belum lagi, lanjut Adrian, kenaikan harga BBM kemungkinan akan diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan pokok. Menurutnya ini yang jadi beban masyarakat.
Berdeda yang diungkapkan Devi K Rizqi (23), warga Desa Truko, Kecamatan Kangkung, yang setiap hari menggunakan BBM jenis pertamax untuk motor matiknya.
Menurutnya dengan kenaikan harga BBM jenis pertalite ini, tidak berpengaruh sama sekali kepada aktivitasnya.
“Saya setiap dua hari sekali mengisi pertamax Rp 25 ribu. Ya sebenarnya dulu saya pakai pergalite dan lebih irit. Tapi sekarang males, karena harus antre,” ungkap Devi.
Senada diungkapkan Arvian Maulana (23) warga Weleri mengaku, dirinya selama ini menggunakan BBM jenis pertamax.
Menurutnya, dengan pertamax membuat tarikan motor matiknya jadi enteng, dan membuat mesin jadi awet.
“Saya mengisi Rp 20 ribu setiap dua hari sekali untuk kerja dan perjalanan dari Weleri ke Kendal setiap hari,” ungkap Arvian.
Sementara itu, dimintai tanggapannya terkait rencana kenaikan BBM tersebut, Ketua Komisi B DPRD Kendal, Dian Alfat Muhammad, mengingatkan, pemerintah perlu mempertimbangkan lagi terkait langkah menaikan harga bbm bersubsidi.
Karena menurutnya, masyarakat yang ada di daerah, saat ini sedang berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
“Jadi, apabila kenaikan harga bbm bersubsidi tetap dilakukan, tentu masyarakat merasa terbebani sekali,” ungkap Politisi Muda PKB tersebut. (HS-06)