HALO SEMARANG – Keanekaragaman batik Jawa Tengah semakin kaya dengan hadirnya motif Blora, yang mengusung flora jati, bunga jati, pring tayub, hingga enthung jati.
Keelokan batik Blora turut ditampilkan di atas catwalk pada Semarang Fashion Trend 2022, yang digelar Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktitas (BBPVP) Semarang, baru-baru ini.
Ketua Dekranasda Jateng Siti Atikoh Ganjar Pranowo pun, ikut memamerkan busana batik Blora rancangan Lydia Christine.
Atikoh nampak elegan namun masih casual, mengenakan outer cardigan berwarna dasar hitam dengan kombinasi lurik, dan rok panjang motif bunga-bunga nan cerah bermekaran.
Tidak sendiri, Atikoh memamerkan batik khas Blora bersama Ketua Dekranasda Blora Ainia Shalichah Arief Rohman, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu, istri Kepala OJK Regional 3 Jateng Siti Aman Santosa, istri Kepala Perwakilan BI Jateng Dian Rahmah Rahmat Dwisaputra, dan Kepala Dinkop UKM Jateng, Ema Rachmawati.
Atikoh menyebut, perkembangan batik Blora luar biasa. Itu dilihat dari atmosfer berusaha UMKM dan dukungan pemerintah. Keikutsertaannya malam itu merupakan bagian dari dukungan bagi perkembangan batik Blora.
“Batik Blora menunjukan perkembangan luar biasa, hatapannya bisa menampilkan sesuatu yang spesifik, dan berkesan Blora banget. Bajunya keren sekali, terima kasih sudah didesainkan,” kata dia.
Hal itu diamini Ketua Dekranasda Blora Ainia Shalichah. Ia mengatakan, dengan tampilnya batik Blora di gelaran Semarang Fashion Trend, menjadi sinyal kesiapan batik asal Blora, di kancah wastra nasional.
“Terima kasih beliau selalu men-support kami. UMKM di Blora khususnya yang batik fashion, harapannya sudah (siap) ready to wear,” urainya.
Sementara itu, desainer pakaian asal Blora Lydia Christine mengatakan, batik Blora terinspirasi oleh lingkungan sekitarnya. Ia mengaku kali pertama mencipta batik, karena iba dengan kondisi masyarakat.
Ia akhirnya menggandeng para UMKM di Blora untuk dibina, dan membuat ragam motif batik.
“Awalnya saya lihat banyak yang daftar kerja tapi tidak lulus sekolah. Nah dari situ timbul keinginan bantu. Nah batik ini kan relatif mudah pengerjaannya, bisa dilakukan orang muda sampai tua,” ujarnya yang telah delapan tahun menekuni bisnis fesyen batik motif Blora itu.
Rupanya keinginan membantu Lydia direstui semesta. Ternyata, leluhurnya pun merupakan perajin batik di Blora.
“Di rumah itu ada seperti kolam-kolam besar, rupanya simbah dulu juga pembatik. Kolam itu untuk mewarnai batik,” ungkapnya.
Kepala Perwakilan BI Jateng Rahmat Dwisaputra mengatakan, pihaknya turut mendukung perkembangan batik Blora. Ini dilakukan dengan penguatan para pelaku UMKM.
“Harapannya batik Blora bisa sejajar dengan batik lain yang sudah eksis,” ujarnya.
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan, berbagai usaha dilakukan untuk mempromosikan batik motif Blora. Hal itu agar bisa mengungkit ekonomi warga Blora.
“Ini dilakukan dengan pembinaan pada perajin, motif diperbaiki. Kita ikuti event di Yogyakarta, Semarang, juga di Jakarta ada diaspora perkenalkan batik Blora,” kata dia.
Menurut Arief, adalah sebuah kehormatan bagi daerahnya karena bisa menampilkan batik dengan corak khas Blora.
“Batik Blora Top Banget. Berhasil dipilih Bank Indonesia Perwakilan Jateng untuk tampil dalam acara Semarang Fashion Trend. Suatu kehormatan bagi Blora, bisa tampil di depan banyak pecinta fashion Jawa Tengah, bahkan nasional,” kata Bupati Arief.
Dia pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada Siti Atikoh Ganjar Pranowo, Wakil Wali Kota Semarang, Kepala Disperindag Jateng, dan BI Perwakilan Jateng, yang telah memilih Batik Blora untuk tampil, dari sekian banyak Batik di Jawa Tengah.
“Semoga perajin Batik Blora lainnya ke depan bisa ikut kita kembangkan, dan kenalkan ke kancah nasional. Kita juga sedang berupaya agar batik Blora bisa tampil fashion show di Jakarta bekerja sama dengan para diaspora. Mungkin nanti di TMII atau tempat lain. Karena potensi batik Blora ini sangat banyak dan beragam. Ada juga Nimas Barokah, batik Krajan Cepu, batik ciprat Difabel Kunduran, dan lainnya. Majulah Batik Blora. Bismillahirrahmanirrahim, kami optimis UMKM Blora Naik Kelas,” pungkas Bupati.
Bangkit dan Tumbuh
Sementara itu dalam sambutannya, Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah sangat mengapresiasi gelaran SFT, sebagai upaya menampung kreativitas masyarakat yang memuncak dalam bidang fesyen.
“Dengan adanya Semarang Fashion Trend, semua kreativitas bidang fesyen dapat disalurkan secara positif dan bermanfaat bagi semua pihak,” ujar Menaker.
Ia mengatakan, dunia fesyen saat ini sudah semakin bangkit dan bertumbuh setelah sempat terpukul karena pandemi Covid-19.
“Ini membawa kebaikan dari sisi ekonomi. Dari sisi industri akan meningkatkan daya beli masyarakat pada produk fesyen,” katanya.
Ia menambahkan, Semarang Fashion Trend merupakan perwujudan karya-karya terkini busana siap pakai yang sesuai dengan trend global, dan juga sebagai inspirasi kepada pelaku industri mode di Indonesia dan Jawa Tengah pada khususnya.
“Semarang Fashion Trend dapat menjadi wadah bagi para desainer muda Semarang maupun alumni dari BBPVP Semarang untuk mempromosikan hasil karyanya dengan cakupan yang luas ke seluruh Indonesia,” kata dia.
Pada kegiatan Semarang Fashion Trend, ditampilkan peragaan busana dari 80 desainer serta Fashion Competition yang terbagi menjadi 2 kategori, Project Runway Competition dan Semarang Fashion Trend Competition. (HS-08)