HALO DEMAK – Teknologi geomembrane yang diterapkan oleh petambak garam, dapat membantu mempercepat masa panen.
Saat ini meskipun kondisi musim kemarau basah namun petambak garam Demak sudah dapat memanen di lahannya.
Dengan menggunakan sistem geomembrane (plastic hitam) petambak garam bisa memanen garam lebih cepat dan kualitas garamnya juga lebih bagus putih bersih.
Salah satu petambak garam Ahmad dari desa Kedungkarang kecamatan Wedung mengatakan dirinya memanen garamnya setelah menunggu musim hujan reda, baru-baru ini.
“Setelah geomembrane dipasang lalu kita isi air yang sudah tua. Setelah 3 sampai 4 hari kemudian, garam sudah bisa dipanen meski jumlahnya tidak begitu banyak. Awalnya ya dapat 5 hingga 6 sak dengan ukuran 50 kilogram. Nanti setelah cuaca terus panas jumlah yang bisa dipanen terus bertambah hingga mencapai 50 sak setiap petak seperti ini,“ kata Ahmad, seperti dirilis demakkab.go.id.
Ahmad menambahkan lahan garam yang digarap tahun ini bukan lahan milik sendiri melainkan menyewa dari pemerintah desa, dengan harga Rp 23 juta. Selain itu dia harus membeli empat rol geomembrane sekitar Rp 10 juta, dan ditambah biaya lain-lain menjadi sekitar Rp 40 juta.
“Kalau panasnya lama dan harga garam bagus, modal segitu bisa kembali bahkan sisanya banyak. Namun jika tak ada panas atau hujan terus, ya modal tak kembali. Namun sepanjang saya menyewa lahan garam banyak untungnya daripada ruginya,“ tambah Ahmad.
Menurut dia, untuk geomembrane, ini jika dirawat dengan, maka baik bisa tahan 3 – 4 tahun.
“Namun jika dipasang hasil dan kualitasnya kalah dengan yang baru. Jika harga garam tinggi, saya lebih cenderung beli yang baru,“ kata Ahmad. (HS-08)