HALO SEMARANG – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengimbau peternak, untuk mencegah penyebaran penyakit mulut dan kuku.
Direktur Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin, belum lama ini mengatakan, beberapa langkah yang dapat dilakukan para peternak, di antaranya tidak memasukkan ternak baru, terutama dari daerah wabah dan membatasi orang yang keluar dan masuk lokasi kandang.
“Bagi peternak yang hewannya sudah ada yang terinfeksi, agar memastikan ternaknya tidak ke mana- mana. Tetap tinggal di kandang agar tidak menulari ke peternakan lain. Petugas akan memberikan obat hewan seperti vitamin untuk memulihkan kondisi tubuh ternak,” jelas Direktur Kesehatan Hewan.
Dia menambahkan, penyemprotan kandang, kendaraan, peralatan dan perlengkapan kerja dengan disinfektan, perlu dilakukan secara rutin. Kemudian peternak diimbau tidak menjual ternaknya yang sakit, karena tingkat kematian pada hewan dewasa relatif rendah (1–5%), walau pada ternak berusia muda bisa lebih tinggi.
Lebih lanjut Direktur Kesehatan Hewan, juga menyarankan agar para peternak melakukan upaya untuk meningkatkan imunitas ternak dengan memperbaiki mutu pakan dan memberikan terapi supportif, obat hewan seperti vitamin dan mineral.
“Perlu diingat bahwa penyakit mulut dan kuku bukan zoonosis, namun sangat mudah menular ke sesama hewan berkuku genap seperti sapi, kerbau, domba, kambing dan babi serta hewan berkuku belah lainnya,” kata dia, seperti dirilis Tribratanews.polri.go.id.
Partikel virus ditemukan pada udara yang dihembuskan hewan terinfeksi, air liur, susu, urine, tinja, semen, cairan dari vesikel, hingga cairan yang dikeluarkan saat ternak keguguran.
“Virus penyakit mulut dan kuku dapat masuk ke tubuh hewan peka, melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama melalui aerosol, dan dengan benda-benda terkontaminasi seperti pakaian, sepatu dan kendaraan. Hal seperti ini peternak mesti tahu,” jelas Direktur Kesehatan Hewan.
Peternak juga perlu segera melapor kepada petugas peternakan setempat, jika ada ternak yang menunjukkan gejala klinis mengarah pada penyakit mulut dan kuku. Seperti muncul lepuh atau vesikel dan atau atau erosi kulit di bagian hidung, lidah, bibir, di dalam rongga mulut baik di gusi maupun pipi bagian dalam, di sela kuku dan di ambing.
“Peran dari para peternak untuk turut serta membantu mencegah penyebaran penyakit mulut dan kuku dengan mengikuti petunjuk dan saran dari para petugas kita di lapangan akan sangat membantu keberhasilan penanganan penyakit mulut dan kuku ini. Setelah vaksin datang, dalam waktu dekat kita akan lakukan vaksinasi,” jelas Direktur Kesehatan Hewan. (HS-08)