HALO KENDAL – Kebiasaan masyarakat di Indonesia dalam mengonsumsi makanan yang digoreng, merupakan salah satu alasan meningkatnya penggunaan minyak goreng.
Sehingga, kebutuhan minyak goreng untuk mengolah makanan hingga saat ini terus mengalami peningkatan.
Minyak goreng yang telah digunakan selama tiga kali, sebenarnya tidak lagi layak untuk dikonsumsi. Pasalnya, panas dari proses penggorengan dapat menghasilkan senyawa-senyawa karsinogenik di dalam minyak goreng bekas.
Senyawa karsinogenik ini, adalah salah satu penyebab penyakit kronis seperti stroke, jantung, hingga kanker apabila dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.
Minyak goreng bekas umumnya sering disebut dengan nama minyak jelantah. Membuang minyak jelantah dengan sembarang juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Seperti penyumbatan drainase serta pencemaran air dan tanah.
Hal tersebut yang membuat Intan Setiyaningsih, Mahasiswa KKN TIM 1 Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, menggagas suatu program untuk memberikan edukasi kepada warga Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.
Menurutnya, supaya masyarakat lebih bijak dalam mengelola limbah rumah tangga yaitu minyak jelantah, dirinya melakukan penyuluhan tentang pengolahan jelantah menjadi lilin aromaterapi.
Rupanya, kegiatan ini diterima baik dan mendapatkan respon positif dari warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga sebagai pengguna minyak goreng secara rutin.
Dikatakan, awalnya banyak warga yang terkejut dan tidak menyangka minyak jelantah dapat diolah menjadi lilin aromaterapi.
Namun setelah ia jelaskan proses pengolahannya, beberapa warga tertarik untuk mencobanya di rumah.
“Saya merasa senang, karena warga Desa Kedungsari terbuka dalam menerima pengetahuan baru yang saya sampaikan,” ungkap Intan, Kamis (10/2/2022).
Kegiatan penyuluhan diawali dengan menyampaikan informasi mengenai bahaya penggunaan minyak jelantah secara terus menerus bagi kesehatan tubuh.
“Selain itu, warga juga saya beri pengertian, dampak buruk akibat membuang minyak jelantah secara sembarangan,” ujarnya.
Kemudian kegiatan dilanjut dengan memberikan edukasi kepada ibu-ibu warga Desa Kedungsari, cara mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.
“Saya juga tayangkan video tutorial pengelolaan, agar ibu-ibu mudah memahami setiap tahapan prosesnya,” imbuh Intan.
Salah seorang warga Desa Kedungsari, Khoiriyah mengaku, ia dan warga lain terutama ibu-ibu yang menghadiri penyuluhan menanggapi positif kegiatan penyuluhan ini.
Menurutnya, dengan kegiatan penyuluhan tersebut akan menambah wawasan baru bagi masyarakat untuk ikut menyelamatkan ekosistem dengan lebih bijak dalam mengolah limbah rumah tangga.
“Ternyata minyak jelantah bisa diolah dan lebih bermanfaat. Aroma sereh yang digunakan, juga membuat pikiran lebih rileks,” ungkap ibu rumah tangga berusia 30 tahun tersebut.(HS)