in

Musim segera Berganti, Pemkab Banyumas Gelar Apel Pasukan dan Peralatan Kebencanaan

Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kebencanaan, yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyumas, baru-baru ini di kawasan Bendung Gerak Serayu (BGS). (Foto : banyumaskab.go.id)

 

HALO BANYUMAS – Ratusan desa dan kelurahan yang tersebar di 25 kecamatan di Kabupaten Banyumas, hingga 21 Oktober 2026, terdata masih mengalami kekeringan.

Berbagai peristiwa itu menjadi pengingat, bahwa ancaman bencana berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat.

Hal itu disampaikan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, ketika menjadi pembina Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kebencanaan, yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyumas, baru-baru ini di kawasan Bendung Gerak Serayu (BGS).

Dalam kesempatan itu, Sadewo juga mengingatkan bahwa hujan deras, angin kencang, banjir, dan tanah longsor dapat terjadi sewaktu-waktu pada musim hujan.

Dia meminta Kepala BPBD Banyumas, memanfaatkan secara maksimal ekskavator longarm hasil bantuan CSR, untuk mitigasi banjir di kawasan tambak Sumpiuh dan Kemranjen.

“Kita tidak boleh lengah. Pencegahan, pemantauan, penyampaian peringatan dini, dan kesiapan evakuasi harus dilakukan sedini mungkin sebelum bencana terjadi,” tegasnya.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Bupati menekankan bahwa penanggulangan bencana dilaksanakan secara menyeluruh, mulai dari prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana.

“Saya minta seluruh unsur yang terlibat memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana, logistik, layanan kesehatan, jalur evakuasi, serta mekanisme komando dan komunikasi,” kata dia.

Bupati juga mengajak jajaran Polri dan TNI, untuk memperkuat soliditas dan koordinasi pengamanan, evakuasi, serta penanganan di lapangan.

Adapun kepada perangkat daerah, camat, kepala desa, dan lurah, Bupati meminta mereka meningkatkan pemantauan wilayah rawan serta penguatan gerakan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mengenali jalur evakuasi.

Sadewo turut menyampaikan gagasan penanaman pohon beringin di lereng Gunung Slamet sebagai investasi lingkungan jangka panjang.

“Dampaknya itu tidak sekarang, tetapi ke depannya itu sangat diperlukan,” ujarnya.

Sadewo juga menyampaikan terima kasih kepada para relawan atas dedikasinya.

“Tetap utamakan keselamatan diri dalam setiap aksi, patuhi prosedur, dan gunakan peralatan perlindungan sesuai,” kata dia.

Apresiasi juga disampaikan kepada dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, lembaga nonpemerintah, dan media atas kontribusinya.

“Mari kita terus memperkuat kolaborasi melalui pendekatan pentahelix, karena bencana adalah urusan bersama dan keselamatan masyarakat merupakan tanggung jawab kita semua,” ajak Sadewo.

Sadewo juga mengimbau masyarakat agar mengandalkan informasi kebencanaan dari kanal resmi yang akurat dan mudah dipahami.

“Setiap ada peristiwa, media sosial langsung ramai, dan menurut pendapat saya lebih dari 50 persen adalah hoaks. Jadi, bacalah, pelajarilah, dan percayalah pada kanal-kanal resmi kami,” katanya.

Menutup sambutannya, Bupati Sadewo mengajak seluruh pihak membangun Banyumas yang tangguh.

“Mari kita bangun Banyumas yang semakin tangguh dengan masyarakat yang sadar siaga, pemerintah yang responsif, dan seluruh unsur yang senantiasa siap untuk bekerja sama,” tuturnya.

Sementara itu, dalam sambutan mewakili Kepala BNPB, Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa berdasarkan data BNPB, bencana yang paling dominan di Banyumas adalah tanah longsor, disusul banjir dan cuaca ekstrem.

“Kalau kita bicara longsor, tentunya kita harus melihat daerah-daerah dengan kelerengan yang cukup tinggi,” ujarnya.

Ia menyoroti minimnya vegetasi di lereng-lereng rawan longsor. “Kalau kita melihat lereng-lereng kita tidak ada pohon-pohon yang bisa mengikat tanah dan menyerap air, mari kita tanam bersama-sama,” ujarnya.

Disebutkan bahwa Polresta Banyumas telah menyiapkan 5.000 bibit, dan BNPB akan menambah 20.000 bibit.

“Sehingga kita menanam sebelum musim hujan sebanyak 25.000 bibit,” kata Abdul Muhari.

Jenis tanaman tidak hanya pohon keras, tetapi juga pohon produktif bernilai ekologis dan ekonomis.

“Alpukat, mangga, durian, dan pohon-pohon lain yang masyarakat nanti bisa mengambil hasilnya,” jelasnya.

Waktu tanam yang paling tepat adalah November, karena musim kering diperkirakan berlanjut hingga November atau awal Desember, sedangkan musim hujan berlangsung dari awal Desember hingga Maret.

Abdul juga menyampaikan rencana membawa gagasan penanaman serentak di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah kepada pimpinan BNPB, dengan target 100.000 hingga 200.000 bibit.

Abdul menambahkan bahwa BNPB akan memperkuat dukungan peralatan, personel, dan anggaran mitigasi bencana bagi pemerintah daerah sesuai arahan Presiden. Dukungan tersebut dapat diberikan apabila terdapat penetapan status kedaruratan.

“Ruang kami untuk bisa masuk mendukung pemerintah daerah itu kalau ada status kedaruratan, baik status siaga darurat maupun tanggap darurat,” tuturnya.

Karena itu, Pemkab Banyumas diharapkan menetapkan status tersebut agar dukungan pemerintah pusat dapat berjalan tertib secara administrasi.

Dari hasil pengecekan, ia mencatat kebutuhan pompa untuk penanganan banjir serta perahu tambahan.

“Kalau banjir itu mungkin kita di lapangan butuh pompa. Pompa, silakan diajukan, tentu saja sesuai dengan kebutuhan dan terpakai di lapangan,” ujarnya.

BNPB juga membuka peluang dukungan mobil tangki dan pembangunan sumur bor untuk mengatasi kekeringan. Ia mengingatkan pentingnya menguji kelayakan dan mengaktifkan peralatan secara berkala.

“Lebih baik kalau alat perangkat ini habis atau rusak digunakan ketimbang habis atau rusak tidak pernah dipakai dan yang pasti, prinsip kita adalah salus populi suprema lex esto, keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi,” tutupnya.

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan inspeksi peralatan, kendaraan, dan dapur umum, pengecekan bantuan air bersih, serta pelepasan tangki droping air. Acara ditutup dengan simulasi penanggulangan bencana di Sungai Serayu untuk meninjau kesiapan di lapangan.

Melalui apel ini, Pemerintah Kabupaten Banyumas berharap kesiapsiagaan tidak berhenti pada pemeriksaan pasukan dan peralatan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata di lapangan demi mengurangi risiko, korban, dan kerugian akibat bencana. (HS-08)

 

Dorong Keselamatan Nelayan, BMKG Gelar Sekolah Lapang Cuaca dan Gempa Bumi di Wonogiri

Razia Knalpot Brong, Polresta Surakarta Tilang 41 Pengendara