in

Khairul Anwar Pimpin PSSI Jateng, Bidik Prestasi PON 2028 dan Perkuat Pembinaan Usia Dini

Khairul Anwar memberi keterangan kepada awak media usai resmi memimpin PSSI Jawa Tengah periode 2026–2030.

MEMBAWA sepak bola Jawa Tengah lebih berprestasi tak cukup hanya mengandalkan kompetisi. Pembinaan pemain sejak usia dini, dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah, hingga kepastian perizinan dan keamanan pertandingan menjadi pekerjaan yang ingin dibenahi Khairul Anwar setelah resmi memimpin PSSI Jawa Tengah periode 2026–2030.

Khairul Anwar terpilih secara aklamasi dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Pemilihan Ketua PSSI Jawa Tengah di Hotel Padma Semarang, Kamis (8/10/2026) sore. Ia menggantikan kepemimpinan sebelumnya dengan membawa target meningkatkan prestasi sepak bola Jawa Tengah, termasuk memburu medali pada Pekan Olahraga Nasional (PON) NTT-NTB 2028.

Bagi Khairul, pekerjaan pertama bukan merombak seluruh program yang sudah berjalan, melainkan mengevaluasi dan melanjutkan kegiatan yang terbukti memberi manfaat bagi pembinaan sepak bola di daerah.

“Langkah pertama yang kita lakukan adalah kita akan evaluasi semua program kerja yang sebelumnya sudah terjadi. Tentunya kita tidak akan mematikan keseluruhan, tetapi pekerjaan atau program kerja yang masih bagus itu akan kita teruskan,” kata Khairul seusai terpilih.

Menurut dia, sebagian besar program kepengurusan sebelumnya telah berjalan dengan baik. Ia memperkirakan sekitar 60–70 persen program yang ada layak dilanjutkan, terutama kompetisi berjenjang dan Piala Soeratin untuk berbagai kelompok usia.

“Saya yakin 60–70 persen program kerja sebelumnya itu sudah luar biasa. Sehingga kompetisi-kompetisi, termasuk Piala Soeratin berbagai kelompok usia, semua berjalan dengan baik. Meskipun ada di masa-masa Plt saya sebagai wakil Plt Jawa Tengah, itu yang akan kita lakukan,” ujarnya.

Namun, mempertahankan kompetisi saja dinilai belum cukup. Khairul ingin memastikan pembinaan pemain muda di kabupaten/kota mendapat dukungan yang lebih kuat, termasuk dari sisi pembiayaan. Karena itu, ia berencana melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah untuk membahas dukungan pemerintah provinsi terhadap pengembangan sepak bola usia dini.

“Kita akan audiensi juga dengan Pak Gubernur karena menyangkut masalah pembiayaan terkait kelompok usia dini di kabupaten/kota. Kita minta support dari Pak Gubernur Jawa Tengah supaya pembinaan sepak bola Jawa Tengah itu bisa kita tingkatkan prestasinya,” tuturnya.

Kongres Luar Biasa (KLB) Pemilihan Ketua PSSI Jawa Tengah di Hotel Padma Semarang, Kamis (8/10/2026) sore.

Dukungan pemerintah daerah, menurut Khairul, penting agar pembinaan tidak berhenti pada penyelenggaraan turnamen. Kompetisi perlu menjadi bagian dari proses panjang untuk menyiapkan pemain yang mampu bersaing di level lebih tinggi.

Selain pembinaan, agenda yang masuk prioritas kepengurusan baru adalah membangun komunikasi dengan jajaran kepolisian. Khairul berencana menemui Kapolda Jawa Tengah untuk membicarakan penyelenggaraan kompetisi kelompok usia dan Piala Soeratin, terutama terkait perizinan serta pengamanan pertandingan.

“Kita harus berdiskusi dengan pihak Kepolisian Daerah Jawa Tengah supaya masalah perizinan, kemudian masalah pengamanan dan lain sebagainya, bisa diakomodasi dengan baik,” katanya.

Ia berharap koordinasi tersebut dapat membantu penyelenggaraan kompetisi berlangsung lebih tertib dan memberikan kepastian bagi klub maupun panitia pertandingan.

Khairul juga menegaskan pentingnya dukungan seluruh pemangku kepentingan sepak bola di Jawa Tengah. Ia menyebut para pemilik suara dalam kongres telah menyatakan komitmen untuk mendukung program kepengurusan baru.

“Tadi sudah kita sepakati dengan seluruh voter, mereka siap untuk men-support kita untuk program yang akan datang. Artinya, ini kita punya komitmen,” ujarnya.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Khairul turut menegaskan akan menjaga netralitas dan tidak memihak klub tertentu. Ia menyatakan tidak akan membentuk klub maupun memberikan perlakuan khusus kepada klub mana pun selama menjabat sebagai Ketua PSSI Jawa Tengah.

Target peningkatan prestasi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi kepengurusan periode 2026–2030. Khairul berharap pembinaan yang lebih terarah, kompetisi berjenjang, serta dukungan pemerintah dan kepolisian dapat menjadi bekal bagi Jawa Tengah untuk bersaing pada PON NTT-NTB 2028.

Khairul terpilih setelah kandidat lainnya, Yoyok Sukawi, menyatakan mundur dari pencalonan sehari sebelum kongres. Surat pengunduran diri yang ditandatangani di atas meterai itu tertanggal 6 Oktober 2026 dan ditujukan kepada panitia serta para pemilik suara KLB PSSI Jawa Tengah.

Dalam surat tersebut, Yoyok menyebut agenda mendesak di luar negeri sebagai alasan tidak dapat menghadiri kongres. Mundurnya Yoyok membuat Khairul, yang merupakan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Pusat sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Ketua PSSI Jawa Tengah, menjadi satu-satunya kandidat dan kemudian terpilih secara aklamasi.

Sebanyak 66 pemilik suara hadir dalam kongres tersebut. Mereka terdiri atas perwakilan Asosiasi PSSI Kabupaten/Kota, klub, asosiasi futsal, serta perwakilan sepak bola wanita di Jawa Tengah. Kongres juga dihadiri Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, bersama sejumlah undangan.

Yunus mengatakan Jawa Tengah merupakan salah satu daerah dengan antusiasme sepak bola yang tinggi, ditandai banyaknya klub yang berkompetisi di berbagai tingkatan nasional.

“Kita tahu antusiasme sepak bola di Jawa Tengah sangat tinggi, dengan banyaknya klub-klub yang berlaga di berbagai tingkatan sepak bola nasional. Kami dari pusat tentunya tidak mau mengecewakan Askab/Askot dan klub di Jawa Tengah sehingga Kongres ini harus terselenggara segera untuk menetapkan program,” kata Yunus.

Dengan kepemimpinan baru, perhatian kini tertuju pada kemampuan PSSI Jawa Tengah menerjemahkan target menjadi program yang terukur. Pembinaan usia dini, keberlangsungan kompetisi, dan peningkatan prestasi di PON 2028 akan menjadi tolok ukur penting bagi perjalanan Khairul Anwar selama empat tahun ke depan.(HS)

Mantan Penggawa PSIS M Ridwan Bikin Mahesa Jenar Tertunduk di Jatidiri

Implementasikan Manajemen Talenta, Menag : Harus Ada Kakanwil dari Perempuan