in

Tiga Pura di Nyalian Dikembangkan sebagai Potensi Wisata Religi

Pelaksanaan Launching Desa Wisata Nyalian. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Tiga pura di Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali dikembangkan sebagai bagian dari potensi wisata religi desa.

Ketiganya memiliki karakter dan nilai berbeda, mulai dari tradisi penglukatan, sejarah Kerajaan Nyalian, hingga sumber mata air suci dan peninggalan relief kuno.

Pengembangan tersebut didukung Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, melalui keterlibatan Penyuluh Agama Hindu dalam kegiatan Launching Kemajuan Desa Wisata Nyalian yang berlangsung di Wantilan Desa Nyalian.

Kegiatan diselenggarakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nyalian bersama Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Law Student Creativity Community (LSCC) Fakultas Hukum Universitas Udayana.

“Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong pengembangan potensi desa dengan tetap mempertahankan nilai-nilai agama, budaya dan kearifan lokal. Sebagai Penyuluh Agama Hindu, kami siap mendukung dan bersinergi dalam setiap kegiatan kemasyarakatan yang memberikan manfaat bagi umat serta mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis dan sejahtera,” ujar Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Ayu Putri Suryaningrat, belum lama ini, seperti dirilis kemenag.go.id.

Dukungan Kemenag Klungkung antara lain diwujudkan melalui sinergi dalam kebutuhan pengembangan wisata religi, termasuk penguatan administrasi dan legalitas pura yang menjadi bagian dari destinasi wisata religi serta fasilitasi rekomendasi Surat Tanda Daftar Pura (STDP)/Tanda Daftar Pura (TDP).

Atas partisipasi dan dukungan tersebut, Kemenag Klungkung menerima sertifikat sebagai mitra pelaksanaan PPK Ormawa LSCC 2026.

“Melalui pengembangan desa wisata, Desa Nyalian memiliki peluang untuk mengangkat potensi wisata religi yang terintegrasi dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat. Keberadaan tempat suci, tradisi keagamaan, kegiatan adat serta nilai-nilai budaya dapat menjadi bagian dari potensi wisata dengan tetap mengedepankan kesucian, etika dan penghormatan terhadap nilai-nilai agama,” sambungnya.

Potensi Wisata Religi

Tiga potensi wisata religi tersebut yakni Pura Tirta Tadah Uwuk, Pura Pucak Sari, dan Pura Tirta Harum Satria Taman Bali. Pura Tirta Tadah Uwuk dikenal sebagai salah satu tempat suci untuk melukat atau penyucian diri. Pura Pucak Sari merupakan Pura Kahyangan Desa yang memiliki nilai historis dan spiritual serta menyimpan sejumlah peninggalan sejarah yang berkaitan dengan masa lalu Kerajaan Nyalian.

Sementara Pura Tirta Harum Satria Taman Bali merupakan Pura Kawitan sekaligus tempat penglukatan yang memiliki sumber mata air suci. Di kawasan utama mandala pura juga terdapat relief kuno yang menjadi salah satu peninggalan bernilai sejarah di Desa Nyalian.

Monitoring di Pura Tadah Uwuk

Pengembangan potensi tersebut dilakukan melalui kolaborasi pemerintah desa, Pokdarwis, perguruan tinggi, masyarakat, Kementerian Agama, dan berbagai mitra lainnya.

Dari sisi perguruan tinggi, PPK Ormawa LSCC 2026 hadir melalui Program Menyala yang dirancang untuk mengoptimalkan potensi pariwisata Desa Nyalian. Program ini dikembangkan untuk menjawab persoalan belum optimalnya pengelolaan sektor kepariwisataan.

“Desa Nyalian menyimpan potensi wisata yang sangat beragam, mulai dari potensi wisata alam, budaya, sejarah, dan buatan. Namun, hal tersebut masih menghadapi berbagai permasalahan, diantaranya belum optimalnya pengelolaan sektor kepariwisataan. Untuk menjawab permasalahan tersebut, Tim PPK Ormawa LSCC 2026 hadir dengan program Menyala,” papar Laksmi Septiani selaku Tim Pelaksana PPK Ormawa LSCC 2026 Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Program Menyala dilaksanakan melalui lima program utama, yaitu Nyalian Legal Wisata, Nyalian Mandala, Nyalian Berdaya, Nyalian Sadar Usaha, dan Nyalian Digitour sebagai sarana promosi Desa Wisata Nyalian.

Rangkaian program berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 dan mulai menunjukkan hasil. Kunjungan wisatawan ke destinasi wisata Nyalian tercatat meningkat 30,60 persen.

Pura Tadah Uwuk

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Desa Nyalian, masyarakat, Fakultas Hukum, Universitas Udayana, dosen pendamping, serta 18 mitra yang turut mendukung keberlanjutan Program Menyala,” tambahnya.

Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah desa dan masyarakat dalam menjaga potensi yang ada, perguruan tinggi dalam penguatan kapasitas dan gagasan, serta mitra lainnya dalam mendukung keberlanjutan program sesuai perannya masing-masing.

Bagi Kemenag Klungkung, keterlibatan dalam pengembangan Desa Wisata Nyalian menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang tetap relevan dengan kehidupan masyarakat. (HS-08)

 

 

SPSI-SPTI PUK Kendal bersama KIK dan Paguyuban Limbah Salurkan 14.000 Liter Air Bersih di Desa Kalirejo Singorojo

Rp4,156 Miliar Bantuan Pascabanjir untuk Rumah Ibadah dan Sekolah Buddha di Aceh-Sumut Mulai Dicairkan