HALO SEMARANG – Menafsirkan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia tentu sudah tidak asing. Namun, ketika tafsir harus disampaikan dalam bahasa Inggris, tantangannya menjadi berbeda.
Hal itulah yang dirasakan Bagas Ihsanul Umam, kafilah Provinsi Riau yang tampil pada cabang Tafsir Al-Qur’an Bahasa Inggris dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang.
Bagi Bagas, lomba kali ini bukan sekadar menguji kemampuan memahami kandungan Al-Qur’an. Ia juga dituntut mampu berpindah dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, kemudian merumuskannya kembali dalam bahasa Inggris saat menjawab pertanyaan dewan hakim.
Pengalaman itu sekaligus menjadi debut Bagas di panggung MTQ tingkat nasional. Tak heran jika rasa gugup sempat menyertai penampilannya di Gedung Semeru BPL2K Semarang, Senin (14/9/2026).
“Pasti deg-degan karena ini pengalaman pertama saya tampil di tingkat nasional,” kata Bagas seusai tampil.
Menurut dia, salah satu bagian tersulit adalah menjaga ketepatan makna ketika harus berganti bahasa dalam waktu singkat.
“Pertama, menerjemahkan bahasa Arab ke bahasa Indonesia, lalu mencari bahasa Inggris yang sesuai,” ungkapnya.
Peralihan bahasa tersebut diakuinya cukup menyulitkan. Namun, Bagas memilih melihatnya sebagai bagian dari proses belajar.
“Peralihan bahasa ini cukup membuat saya kesulitan, itu tantangan yang bisa dipelajari,” katanya.
Untuk menghadapi tantangan itu, Bagas mempersiapkan diri dengan berbagai cara. Tak hanya mengandalkan guru dan pelatih, ia juga memanfaatkan teknologi untuk memperkaya kemampuan berbahasa Inggris.
YouTube, televisi, hingga kecerdasan buatan atau AI menjadi bagian dari metode belajarnya.
“Saya memanfaatkan teknologi seperti YouTube, TV, dan AI untuk belajar bahasa,” ujarnya.
Meski menggunakan teknologi, Bagas tidak lantas menerima begitu saja informasi yang diperolehnya. Ia tetap mengonsultasikan hasil belajarnya kepada guru untuk memastikan penggunaan bahasa yang tepat.
Selain itu, latihan terus-menerus menjadi kunci agar dirinya lebih rileks ketika harus berhadapan dengan dewan hakim.
“Ketika latihan, saya membayangkan sedang tampil di mimbar tilawah,” kata Bagas, yang sebelumnya pernah menjadi juara pertama Tafsir Bahasa Inggris tingkat Provinsi Riau.
Debut nasional itu ternyata tidak membuat kepercayaan dirinya surut. Bagas justru mengaku sangat optimistis menghadapi persaingan.
“Kalau ditanya optimistis, 100 persen, Allahu Akbar,” ujarnya penuh semangat.
Baginya, MTQ Nasional bukan semata-mata arena untuk memperebutkan gelar juara. Lebih jauh, ia berharap perhelatan tersebut mampu membuat masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.
“Semoga even ini semakin memotivasi umat untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an,” pungkasnya.
Di lokasi yang sama, peserta cabang Tafsir Al-Qur’an Bahasa Indonesia dari Provinsi Jambi, Fadli, juga telah menyelesaikan penampilannya.
Berbeda dengan Bagas yang menghadapi tantangan peralihan bahasa, Fadli justru merasa cukup tenang saat tampil. Ia juga mengapresiasi tempat perlombaan yang disiapkan panitia.
“Alhamdulillah ketika tampil tadi saya merasa tenang, tempatnya juga nyaman,” kata Fadli.
Menurut Fadli, tantangan terbesar justru muncul ketika peserta mendapat soal yang berkaitan dengan hafalan. Pada bagian itu, peserta dituntut mampu mengingat materi dengan cepat dan tepat.
Persiapan menghadapi MTQ Nasional pun telah dilakukan Fadli selama dua hingga tiga bulan. Provinsi Jambi, kata dia, juga menggelar berbagai program latihan dan training center untuk meningkatkan kesiapan para kafilah.
“Provinsi Jambi telah banyak melakukan training center atau pelatihan untuk mempersiapkan para kafilah,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Panitia MTQ Nasional, Hidayat Maskur, mengatakan penyelenggara berupaya membuat sistem penilaian lebih transparan. Salah satunya dengan mengacak nomor urut peserta.
“Nomor urut peserta sekarang selalu diacak, sehingga tidak ada yang mengetahui urutannya,” kata Hidayat saat mendampingi Person in Charge (PIC) Musabaqah cabang Tafsir Al-Qur’an Golongan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Zaimatul Chasanah.
Menurut Hidayat, mekanisme tersebut diterapkan untuk mencegah potensi permainan sekaligus menjaga independensi dewan hakim.
“Tujuannya agar semuanya transparan, tidak ada permainan, dan tentunya penilaian tetap netral,” ujarnya.
Pada cabang Tafsir Al-Qur’an Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tercatat 87 peserta yang mengikuti perlombaan. Rinciannya, 44 peserta mengikuti kategori Bahasa Indonesia dan 43 peserta pada kategori Bahasa Inggris.
Wakil Ketua Dewan Hakim MTQ Nasional, KH Ahmad Darodji, menilai pelaksanaan lomba secara umum berjalan dengan baik. Penilaian tersebut disampaikannya setelah memantau sejumlah lokasi perlombaan, termasuk di BPL2K Semarang.
Ia berharap Jawa Tengah sebagai tuan rumah tidak hanya berhasil menyelenggarakan MTQ Nasional XXXI dengan baik, tetapi juga mampu menorehkan prestasi dalam persaingan antarkafilah.
“Jawa Tengah sendiri mudah-mudahan sebagai tuan rumah bisa mendapatkan prestasi yang baik,” kata Darodji.(HS)


