HALO PEKALONGAN – Dinas Pendidikan Kota Pekalongan memperkuat budaya sekolah yang aman dan nyaman, sebagai upaya mencegah kekerasan di lingkungan satuan pendidikan, menyusul adanya sejumlah kejadian kekerasan antarsiswa, bahkan hingga korban koma di rumah sakit.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mabruri, sekolah telah mengambil langkah cepat dengan berkoordinasi bersama kepolisian, UPT, Dinas Pendidikan, serta pihak terkait lainnya.
“Sekolah sudah memiliki SOP ketika terjadi kekerasan, mulai dari menyelamatkan anak, penanganan kesehatan, mediasi, penegakan aturan terhadap pelaku, hingga pendampingan psikologis bagi korban maupun pelaku sesuai kebutuhan,” kata dia, seperti dirilis pekalongankota.go.id, pada Kamis (10/9/2026).
Sebagai langkah penguatan pencegahan, Dinas Pendidikan bersama pemerintah daerah telah membentuk Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (Pokja BSAN).
Kelompok kerja tersebut akan mendorong koordinasi, pendampingan, serta penanganan pengaduan terkait persoalan yang terjadi di satuan pendidikan.
Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa Dinas Pendidikan akan mendorong pembentukan tim BSAN di setiap satuan pendidikan, termasuk meningkatkan kemampuan sekolah dalam melakukan deteksi dini dan memahami prosedur penanganan apabila terjadi kekerasan.
Selain itu, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) untuk memberikan pemahaman kepada guru mengenai konvensi hak anak serta keterampilan mediasi.
Hal tersebut dinilai penting agar guru mampu mengenali tindakan yang berpotensi melanggar hak anak sekaligus menjadi mediator yang tepat ketika terjadi konflik antara siswa maupun keluarga.
“Bagaimana ketika ada korban dan pelaku, kemudian orang tua korban dan orang tua pelaku, ini bisa dimediasi untuk mencari jalan tengah terbaik sehingga mereka dapat kembali menjadi siswa yang bersahabat,” tandasnya.
Upaya pencegahan juga diperkuat melalui pembiasaan positif di sekolah, antara lain penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, ikrar pelajar, serta penguatan nilai saling menghormati dan menyayangi sesama.
Pembiasaan tersebut diharapkan membangun karakter siswa agar mampu menghargai perbedaan dan menjaga kerukunan.
Di sisi lain, Mabruri menilai keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter anak.
Karena itu, sekolah didorong membangun komunikasi dan sinergi dengan orang tua, mulai dari deteksi dini permasalahan anak hingga menyamakan persepsi mengenai pola asuh dan pembentukan karakter.
“Parenting atau pendidikan kepada orang tua juga sangat penting, karena keluarga menjadi bagian dominan dalam membentuk karakter anak. Sekolah dan orang tua harus bersinergi agar pembentukan karakter di sekolah dapat didukung dari rumah,” kata dia.
Untuk diketahui, salah satu kasus yang mendapat perhatian publik, adalah penganiayaan terhadap Siswa kelas 9 SMPN 6 Kota Pekalongan berinisial AFF atau F (15).
Dia menjadi korban pengeroyokan oleh teman sekolahnya, hingga koma di RSUD Bendan, Kota Pekalongan. Salah satu pelaku pengeroyokan itu, diketahui merupakan jago olahraga beladiri.
Perwakilan sekolah, Qurratiani, bersama Kepala SMP N 6 Kota Pekalongan, Ikasari Dewi, mengatakan pihak sekolah telah memanggil orang tua dan keluarga dari para siswa yang terlibat dalam kasus tersebut.
“Prioritas saat ini keselamatan anak. Yang kedua, ini tahapan kami adalah mengonfirmasi semua orang-orang atau anak-anak yang kebetulan menjadi trigger kejadian ini,” ujar dia. (HS-08)


