HALO BANJARNEGARA– Selain sarat makna spiritual, prosesi jamasan dan pencukuran rambut gimbal 13 anak bajang dalam Dieng Culture Festival (DCF) 2026, di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, baru-baru ini, juga diwarnai deretan permintaan unik dan polos dari para anak bajang, sebelum rambutnya dicukur.
Salah satu permintaan yang mencuri perhatian datang dari Alvi Zahidatul Vardah (10), asal Gembol, Pejawaran, Banjarnegara.
Ia meminta selendang, baik ukuran kecil maupun besar, dengan syarat warna bebas asalkan bukan warna hijau.
Ada pula Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana (4), asal Kejajar, Wonosobo, yang permintaannya tak kalah menggemaskan: enam buah daster yang mirip dengan milik ibunya.
Sementara itu, Hafizah Zia Almahira (9), asal Garung, Wonosobo, punya permintaan yang tak kalah unik: sebuah laptop dan sepasang ayam kalkun.
“Minta Kalkun, karena mau aku pelihara, ” ujar Hafizah, sesaat sebelum kirab.
Ketua Pordawis Pandawa, Alif Fauzi, seperti dirilis banjarnegarakab.go.id, mengungkapkan bahwa terdapat 30 anak yang mendaftar tahun ini, namun hanya 13 anak yang lolos seleksi spiritual dan teknis.
Sebelum prosesi pencukuran dimulai, 13 anak bajang diarak dalam Kirab Budaya. Arakan budaya ini, diikuti 250 peserta terpilih yang mengenakan busana adat Nusantara.
Barisan kirab turut dikawal oleh Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana selaku pemangku adat, pasukan berkuda, prajurit bergada Keraton Yogyakarta, serta kelompok kesenian tradisional menuju lokasi utama di Komplek Candi Arjuna.
Puncak ritual berlangsung khidmat saat para pejabat, serta para tokoh adat setempat, satu per satu memotong rambut gimbal milik 13 anak bajang.
Adapun para pejabat tersebut adalah dari Kementerian Kebudayan, Kementrian Pariwisata, dan Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Bupati Banjarnegara, Wabup Wakhid Jumali, Sekretaris Daerah Hendro Cahyono, Forkompimda, Direktur Utama dan jajaran Geodipa, Kepala Bank Indonesia, Direktur Bank Jateng
Selain kental dengan nuansa adat dan spiritualitas, DCF 2026 juga memperkuat identitas budaya melalui ketentuan busana bagi wisatawan.
Seluruh pengunjung yang memegang paket partisipan diwajibkan mengenakan selendang batik khas Gumelem produksi UMKM lokal dan camping saat memasuki area candi.
Langkah ini menjadi wujud etika berbusana di kawasan cagar budaya sekaligus upaya nyata memasyarakatkan produk batik lokal. (HS-08)


