in

Kontes Domba Batur di Dieng Culture Festival, Angkat Potensi Ternak Unggulan dan ‘Klangenan’ Bernilai Ratusan Juta

Festival dan Kontes Domba Batur sebagai bagian dari Perhelatan Dieng Culture Festival (DCF) 2026. (Foto : banjarnegarakab.go.id)

 

HALO BANJARNEGARA – Perhelatan Dieng Culture Festival (DCF) 2026 kian semarak dengan digelarnya Festival dan Kontes Domba Batur.

Ajang tahunan yang menyedot perhatian wisatawan dan peternak ini, merupakan wujud komitmen pelestarian plasma nutfah, sekaligus penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal Dieng Banjarnegara.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (Distankan KP) Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Ady, seperti dirilis banjarnegarakab.go.id, mengatakan bahwa festival dan kontes domba batur ini, merupakan gerakan bersama (sengkuyung) antara pemerintah daerah dan komunitas peternak.

Tujuannya adalah mempromosikan serta menjaga kemurnian genetik domba batur yang telah resmi diakui secara nasional.

“Domba batur adalah komoditas unggulan dan ternak khas Banjarnegara yang telah diakui oleh Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan. Melalui festival dan kontes di DCF ini, kami bersama komunitas berikhtiar menjaga keunikan genetik sekaligus mendongkrak nilai ekonominya agar terus berdaya saing,” ujar Firman di sela-sela pembukaan acara.

Domba batur merupakan plasma nutfah asli Banjarnegara, hasil persilangan domba merino dan domba ekor tipis, yang dikembangkan masyarakat sejak 1970-an.

Kekhasan genetiknya resmi diakui negara melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2916/Kpts/OT.140/6/2011 tanggal 17 Juni 2011 tentang Penetapan Rumpun Domba Batur.

Keunggulan

Berbeda dengan domba lokal pada umumnya, lanjut Firman, domba batur memiliki keunggulan mencolok pada bobot tubuh dan karakternya.

Untuk kategori betina dewasa, bobotnya mampu mencapai 50 hingga 60 kilogram, sedangkan pejantan dapat menyentuh angka hingga 110 kilogram, jauh melampaui domba lokal biasa.

Selain posturnya yang besar dan bulat, domba batur dikenal memiliki temperamen yang sangat jinak (friendly), serta bulu tebal halus yang menutupi sekujur tubuh hingga bagian muka.

Karakteristik visual yang unik ini menjadikan domba batur bukan sekadar ternak pedaging biasa, melainkan hewan klangenan (hobi) dengan nilai seni tinggi, layaknya ikan koi atau burung berkicau.

“Jika hanya diposisikan sebagai domba potong, nilainya mungkin standar di kisaran jutaan rupiah. Namun di ranah komunitas dan kontes seni klangenan, harga domba batur unggulan bisa menembus 50 juta hingga 100 juta per ekor. Karena itu, segmen hobi ini relatif stabil dan tidak terpengaruh langsung oleh fluktuasi harga daging di pasaran,” jelasnya.

Kontes tahun ini dibagi ke dalam enam kelas, mulai dari kategori jantan dan betina untuk kelas bibit/bakalan terbaik, kelas dewasa dengan genetik murni terbaik, hingga kelas ekstrem untuk mencari domba dengan bobot terberat.

Jumlah kelas ini bertambah dibanding DCF XV 2025 yang hanya melombakan dua kelas, yakni ekstrem jantan dan ekstrem betina, dengan domba pejantan terberat saat itu mencapai 116 kilogram dan harga jual tertinggi tembus Rp 38 juta per ekor.

Populasi domba batur sendiri berawal dari sekitar 20 ekor hasil persilangan domba lokal dan Merino beberapa dekade lalu.

Kini jumlahnya sudah berkembang jadi sekitar 9.000-10.000 ekor di kawasan Batur dan sekitarnya. Meski populasi ini belum cukup untuk industri wol skala besar yang butuh minimal 30.000-40.000 ekor, pemerintah daerah mendorong pemanfaatan bulunya untuk ekonomi kreatif suvenir khas Dieng, seperti boneka, syal, dan topi hangat.

“Harapannya, seluruh rantai nilai Domba Batur mulai dari pembibitan, kontes klangenan, hingga produk kerajinan bulu dapat menopang perekonomian keluarga peternak di Dataran Tinggi Dieng secara berkelanjutan,” kata Firman.

Semangat itu juga dirasakan langsung oleh para peternak yang datang dari berbagai penjuru Batur.

Salah satunya Hatno, ketua Kelompok Tani Anugrah asal Pasurenan, Kecamatan Batur. Dia membawa 10 ekor domba terbaiknya untuk diadu di kontes kali ini.

Hatno mulai beternak domba batur sejak 2014. Dari yang awalnya hanya berjumlah 4 ekor, kini populasi dombanya sudah berkembang jadi sekitar 40 ekor.

“Untuk perawatan mudah lah,” katanya soal cara mengurus domba batur miliknya.

Untuk persiapan kontes, ia tak punya trik khusus selain memastikan pakan tercukupi dan domba rutin dibersihkan atau dimandikan agar tampil maksimal di hadapan juri. DCF 2026 menjadi keikutsertaan ketiga kalinya bagi Hatno di ajang Festival Domba Batur.

Apresiasi Bupati

Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana turut memberikan apresiasi atas gelaran Festival Domba Batur ini.

Menurutnya, domba batur bukan sekadar komoditas ternak, melainkan telah menjadi salah satu ikon khas Banjarnegara.

“Tadi yang kita saksikan bersama adalah Festival Domba Batur. Domba batur juga tentunya menjadi salah satu ikon Banjarnegara. Karena jelas namanya domba batur, Batur adalah nama wilayah di Banjarnegara. Dan mudah-mudahan ini bisa menjadi geliat ekonomi di masyarakat sekitar dan yang berada di sekitar Banjarnegara,” ujarnya.

Festival dan Kontes Domba Batur menjadi salah satu bukti bahwa DCF 2026 dengan tema “Spirit of Harmony” tak hanya merayakan budaya dan alam Dieng, tapi juga menghidupkan kembali semangat gotong royong menjaga warisan lokal, termasuk kekayaan genetik ternak khas daerah. (HS-08).

 

 

Hadiri Wisuda Insip, Plt Bupati Pemalang Tekankan Pentingnya Pengabdian bagi Masyarakat

Satria dan Devina Juara Kontes Domba Batur