HALO SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersiap memperluas layanan angkutan massal Trans Jateng ke sejumlah wilayah baru. Rencana tersebut mendapat dukungan Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko yang menilai pengembangan transportasi publik dapat menjadi pengungkit konektivitas sekaligus pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Heri, keberadaan transportasi umum yang terintegrasi bukan hanya memudahkan mobilitas masyarakat. Jaringan transportasi yang semakin luas juga membuka akses lebih besar terhadap pusat ekonomi, pendidikan, layanan kesehatan, hingga destinasi wisata.
“Pengembangan Trans Jateng perlu terus didukung karena memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Semakin baik konektivitas antarwilayah, semakin besar pula peluang pertumbuhan ekonomi di daerah,” ujar Heri.
Pemprov Jateng menargetkan layanan Trans Jateng mulai beroperasi di koridor Gelang Manggung yang menghubungkan Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung pada 2027. Pengembangan berikutnya direncanakan menyasar koridor Jepara-Kudus-Pati (Jekuti) pada 2028.
Heri mengatakan perluasan koridor tersebut dapat memberikan alternatif transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat. Di saat yang sama, layanan angkutan massal diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Namun, ia mengingatkan perluasan jaringan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan. Ketepatan waktu, kenyamanan armada, keamanan, serta kemudahan akses menjadi faktor penting agar masyarakat bersedia beralih menggunakan transportasi umum.
“Yang tidak kalah penting adalah kualitas pelayanannya. Masyarakat akan beralih menggunakan transportasi umum apabila layanan yang diberikan benar-benar nyaman, aman, dan mudah diakses,” katanya.

Saat ini, Trans Jateng telah melayani tujuh koridor dengan total 115 armada bus yang tersebar di kawasan Kedungsepur, Solo Raya, Banyumas Raya, serta Purworejo-Magelang.
Menurut Heri, ekspansi layanan ke depan perlu dirancang dengan konsep integrasi. Koridor baru sebaiknya terhubung dengan moda transportasi lainnya serta menjangkau kawasan permukiman, pusat perdagangan, kawasan pendidikan, dan destinasi wisata.
“Jangan sampai perluasan hanya menambah rute, tetapi belum terintegrasi dengan kebutuhan mobilitas masyarakat. Yang harus dibangun adalah sistem transportasi yang saling terhubung,” ujarnya.
Heri menilai transportasi publik yang terintegrasi akan memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian. Mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien, sementara akses menuju pusat-pusat aktivitas ekonomi semakin terbuka.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing daerah, termasuk dalam menarik investasi dan mengembangkan sektor perdagangan, jasa, industri, maupun pariwisata.
“Kami berharap perluasan Trans Jateng dapat terus dilakukan secara bertahap sehingga semakin banyak masyarakat yang menikmati layanan transportasi publik yang berkualitas. Ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang lebih merata di Jawa Tengah,” pungkasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan transportasi massal juga membutuhkan konsistensi pemerintah dalam menjaga kualitas layanan. Dengan demikian, Trans Jateng tidak sekadar menjadi sarana angkutan, tetapi berkembang sebagai salah satu tulang punggung konektivitas dan pemerataan ekonomi di Jawa Tengah.(HS)