AROMA air bunga dan lantunan doa memenuhi ruang utama Masjid Agung Kendal. Di bawah empat tiang kayu berusia lebih dari lima abad, para ulama, tokoh masyarakat, dan jamaah larut dalam suasana khidmat. Tradisi Jamasan Saka Guru kembali digelar, bukan sekadar membersihkan tiang-tiang penyangga masjid, melainkan merawat ingatan kolektif tentang sejarah penyebaran Islam di Kabupaten Kendal.
Prosesi tahunan tersebut diawali dengan pembacaan Manakib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dilanjutkan tahlil, doa bersama, hingga prosesi jamasan atau pembersihan empat saka guru yang menjadi bagian paling bersejarah dari Masjid Agung Kendal.
Ketua Takmir Masjid Agung Kendal, KH Akhsin, menjelaskan bahwa empat saka guru merupakan simbol penting perjalanan dakwah Islam di wilayah Kendal.
Menurut riwayat yang diwariskan secara turun-temurun, keempat tiang utama itu didirikan secara bersamaan pada malam 17 Safar 898 Hijriah atau sekitar tahun 1493 Masehi oleh empat tokoh Wali Sanga, yakni Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati.
“Empat saka guru ini bukan sekadar penyangga bangunan masjid. Di dalamnya tersimpan filosofi tentang persatuan, kebersamaan, dan kekuatan dakwah Islam. Karena itu, tradisi jamasan terus kami lestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang membangun peradaban Islam di Kendal,” ujar Kiai Akhsin.
Bagi masyarakat Kendal, jamasan bukanlah ritual yang bersifat mistis. Prosesi tersebut justru menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan sejarah sekaligus meneladani semangat perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam.
Kiai Akhsin menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan diisi dengan doa, dzikir, dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an sehingga tidak berkaitan dengan praktik pemujaan benda.
“Yang kami rawat adalah nilai sejarah, budaya, dan semangat dakwah para wali. Tidak ada unsur syirik. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap perjuangan para ulama yang telah meletakkan fondasi Islam di Kendal,” tegasnya.
Suasana semakin bermakna dengan kehadiran Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari. Untuk pertama kalinya, ia mengikuti sekaligus terlibat langsung dalam prosesi jamasan bersama para ulama dan pengurus masjid.
Bupati mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari tradisi yang telah diwariskan lintas generasi tersebut. Menurutnya, Masjid Agung Kendal tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi pusat peradaban Islam yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Masjid Agung harus menjadi sentral syiar Islam sekaligus ruang bagi berbagai kegiatan kemasyarakatan, diskusi, seni budaya, hingga kegiatan sosial dan kesehatan. Intinya menjadi pusat kemaslahatan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi upaya pengurus yang tetap mempertahankan empat saka guru saat proses renovasi masjid sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga.
“Keberadaan empat saka guru yang diyakini merupakan peninggalan para wali menjadi identitas penting Masjid Agung Kendal yang harus terus dilestarikan,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kabupaten Kendal telah memasukkan rencana pengembangan Masjid Agung Kendal dalam rancangan APBD Tahun 2027. Usulan tersebut selanjutnya akan dibahas bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Badan Anggaran DPRD Kendal.
“Insya Allah sudah kami masukkan dalam rencana anggaran tahun 2027. Kami akan terus memperjuangkan agar kebutuhan pengembangan Masjid Agung Kendal dapat terpenuhi sesuai kemampuan keuangan daerah,” jelas Dyah Kartika.
Sementara itu, Ketua Yayasan Masjid Agung Kendal, Sugiyono, mengatakan bangunan masjid hingga kini masih mempertahankan 16 tiang penyangga asli. Dari jumlah tersebut, empat saka guru menjadi bagian paling berharga karena memiliki nilai historis yang sangat tinggi.
“Enam belas saka masih terpasang hingga sekarang. Empat di antaranya merupakan saka guru yang menjadi warisan para wali, sehingga terus kami rawat bersama masyarakat dan pengurus masjid,” ujarnya.
Menurut Sugiyono, pelestarian bangunan bersejarah tidak dapat dilakukan oleh pengurus masjid semata. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat agar peninggalan berharga tersebut tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Tradisi Jamasan Saka Guru menjadi pengingat bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung baru, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga akar sejarahnya. Air yang membasuh tiang-tiang tua itu seolah menjadi simbol penyucian ingatan kolektif, bahwa peradaban yang kokoh selalu bertumpu pada penghormatan terhadap warisan para pendahulu.(HS)


