in

Tutup penutup Sidang Pleno FABC, 120 Uskup Gereja Asia Kunjungi Terowongan Silaturahmi

Menag Nasaruddin Umar menjelaskan sejarah Masjid Istiqlal dan Praktik Nyata Moderasi Beragama kepada Kardinal dan Uskup Pemimpin Gereja Asia. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Sebanyak 120 kardinal dan uskup yang mewakili 22 Konferensi Waligereja dan yurisdiksi gerejawi anggota Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC), mengunjungi Terowongan Silaturahmi, yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta.

Kunjungan ini menjadi penutup Sidang Pleno FABC 2026 sekaligus memperlihatkan praktik baik kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Masjid Istiqlal tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang dialog, pendidikan, dan penguatan moderasi beragama.

“Istiqlal memiliki salah satu fungsi penting sebagai ruang untuk memperkuat pemahaman Islam yang moderat. Kami rutin menerima akademisi, sejarawan, tokoh agama, hingga masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berdialog secara terbuka mengenai kehidupan beragama yang damai dan saling menghormati,” ujar Menag di Istiqlal, Minggu (26/7/2026).

Menurutnya, Kementerian Agama bersama Masjid Istiqlal juga menjalankan berbagai program strategis untuk menyiapkan generasi ulama yang mampu menjawab tantangan zaman melalui kurikulum berperspektif moderasi beragama.

“Kami mempersiapkan ulama masa depan dengan kurikulum yang menanamkan nilai moderasi. Bahkan, kami juga mengembangkan program kaderisasi ulama perempuan sebagai bagian dari komitmen menghadirkan relasi yang setara dan memperkuat peran perempuan dalam kehidupan keagamaan,” jelasnya, seperti dirilis kemenag.go.id.

Menag menambahkan, Terowongan Silaturahmi bukan sekadar infrastruktur yang menghubungkan dua rumah ibadah, melainkan simbol hidup berdampingan dalam keberagaman.

“Jika berjalan dari arah masjid, kita mendengar suara bedug. Dari arah katedral terdengar lonceng gereja. Namun ketika berada di tengah terowongan, kedua suara itu dapat didengar bersamaan. Di situlah makna Indonesia, perbedaan tidak saling meniadakan, tetapi hidup berdampingan dalam harmoni,” tuturnya.

Presiden FABC, Kardinal Filipe Neri Ferrão menyampaikan apresiasi atas komitmen Indonesia dalam membangun dialog lintas agama yang diwujudkan secara nyata melalui Terowongan Silaturahmi.Ia mengatakan, kunjungan tersebut mengingatkan kembali pada Deklarasi Bersama Istiqlal 2024 yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar sebagai komitmen bersama memajukan harmoni antar umat beragama demi kemanusiaan.

“Bagi kami, kunjungan ini bukan sekadar melihat sebuah bangunan, tetapi mengalami secara langsung bagaimana jembatan persaudaraan dibangun. Momen bersejarah antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Istiqlal menjadi inspirasi bagi kami untuk terus memperkuat persahabatan lintas agama,” ujarnya.

Menurut Kardinal Ferrão, agama memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga martabat manusia sekaligus menciptakan dunia yang damai.

“Kunjungan ini mengajak kita memperbarui komitmen untuk membangun pemahaman dan persahabatan yang tulus tanpa memandang latar belakang agama. Kami sangat mengapresiasi berbagai inisiatif yang dilakukan Indonesia dalam mempererat hubungan antar pemeluk agama, atau yang kami sebut sebagai neighboring religions,” imbuhnya.

Ia menilai perjalanan melewati Terowongan Silaturahmi menjadi simbol kuat bahwa jembatan dialog tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum internasional, tetapi harus diwujudkan melalui langkah nyata yang ditempuh bersama. (HS-08)

 

 

Dugaan Pencurian Ayam Berujung Maut di Bali, Politisi Golkar dan Kementerian HAM Minta Polisi Usut Tuntas

Hadir Perdana di Semarang, POP MART Bawa Instalasi HIRONO Pertama di Indonesia