HALO SEMARANG – Gramedia menghadirkan wajah baru dunia literasi di Kota Semarang melalui peresmian Gramedia Jalma Pandanaran, Jumat (24/7/2026). Tak sekadar menjadi toko buku, ruang ini dirancang sebagai tempat untuk membaca, menulis, bertemu, hingga bertukar gagasan.
Peresmian Gramedia Jalma Pandanaran dimeriahkan dengan rangkaian kegiatan bertema “Membaca, Menulis, dan Bertemu”, mulai dari talkshow, networking session, interactive activations, hingga penampilan grup musik Efek Rumah Kaca.
Sebelumnya, Gramedia juga menggelar kegiatan Membaca Senyap yang diikuti ratusan peserta sebagai bagian dari pengenalan konsep baru tersebut kepada masyarakat Semarang.
General Manager Gramedia, Adi Ekatama, mengatakan Gramedia ingin menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi para pencinta buku. Menurutnya, toko buku tidak lagi hanya menjadi tempat membeli buku, tetapi juga ruang publik yang mendorong lahirnya ide, dialog, dan kreativitas.
“Sebagai bagian dari dunia literasi di Indonesia, kami ingin Gramedia bukan hanya menjadi tempat transaksi jual beli buku. Kami ingin menjadikannya ruang untuk bertemu, menulis, mengekspresikan diri, berdialog, dan melahirkan banyak gagasan. Harapannya, setiap orang yang pulang dari Gramedia Jalma membawa cara pandang yang lebih luas dan mampu memaknai hidup dengan lebih baik,” ujar Adi.
Ia menjelaskan, konsep Jalma lahir dari keinginan Gramedia untuk memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perkembangan literasi di Indonesia.
“Buku bukan sekadar lembaran kertas yang dicetak dan diperjualbelikan. Buku adalah jendela untuk memperluas wawasan, membangun perspektif, dan memperkaya cara pandang masyarakat,” katanya.
Gramedia Jalma Pandanaran menjadi gerai Gramedia Jalma kedua di Indonesia, setelah lebih dahulu hadir di kawasan Blok M, Melawai, Jakarta.
Menurut Adi, Semarang dipilih karena memiliki karakter kota yang kaya akan keberagaman budaya, sejarah, dan gagasan yang tumbuh dari berbagai komunitas.
“Kota ini dibangun dari berbagai cerita, budaya, dan pemikiran. Karena itu, konsep Jalma sangat relevan untuk tumbuh dan berkembang di Semarang,” tuturnya.
Ia berharap Gramedia Jalma Pandanaran mampu menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai kalangan dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda.
“Semoga tempat ini menjadi rumah bagi lahirnya banyak gagasan baru yang bisa membawa Indonesia melompat lebih jauh ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Toko Gramedia Jalma Pandanaran, Kris Wahyu Raharjo, mengungkapkan pembangunan gerai tersebut dipersiapkan selama hampir satu tahun. Proses perencanaan dimulai sejak Agustus 2025, dilanjutkan renovasi pada November hingga akhirnya rampung dan resmi dibuka pada Juli 2026.
Menurut Kris, Gramedia Jalma Pandanaran menghadirkan berbagai fasilitas yang mendukung aktivitas literasi sekaligus kolaborasi masyarakat.
Salah satunya adalah creative space yang dapat dimanfaatkan untuk diskusi, komunitas, peluncuran buku, workshop, maupun berbagai kegiatan kreatif lainnya.
Selain menyediakan sekitar 19.000 judul buku, Gramedia Jalma juga dilengkapi area alat tulis dan perlengkapan sekolah, pojok buku internasional, area bekerja dan bertemu (co-working space), serta Smiljan Coffee sebagai ruang bersantai bagi pengunjung.
“Kami berharap seluruh fasilitas yang tersedia dapat dinikmati masyarakat dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung tumbuhnya budaya membaca, berdiskusi, dan mengembangkan literasi di Kota Semarang maupun Indonesia,” pungkas Kris.
Dengan konsep yang menggabungkan toko buku, ruang komunitas, dan tempat berkarya, Gramedia Jalma Pandanaran diharapkan menjadi simpul baru ekosistem literasi di Kota Semarang. Kehadirannya bukan hanya menawarkan pengalaman membaca yang lebih nyaman, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya kolaborasi, kreativitas, dan gagasan-gagasan baru dari masyarakat.(HS)


